
Seminar “Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Nutrisi Tanaman Pangan" yang diinisiasi oleh Jejaring Pasca Panen untuk Gizi Indonesia (JP2GI) bersama Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta — Dampak perubahan iklim kini tak hanya menurunkan produktivitas pertanian, tetapi juga mengancam kualitas gizi tanaman pangan di Indonesia. Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam Seminar “Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Nutrisi Tanaman Pangan” yang digelar di Jakarta Barat, Selasa (14/10).
Acara ini merupakan bagian dari seri Bincang Pangan Sehat Lestari yang diinisiasi oleh Jejaring Pasca Panen untuk Gizi Indonesia (JP2GI) bersama Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia, dengan dukungan para pakar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pertanian (Kementan), CIFOR–ICRAF, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Ketua JP2GI, Dr. Soen’an Hadi Poernomo, menegaskan bahwa perubahan iklim adalah ancaman nyata terhadap ketahanan pangan nasional, bukan hanya dari sisi kuantitas hasil panen, tetapi juga dari segi kualitas gizinya.
“Dampak perubahan iklim tidak hanya terjadi pada tanaman pangan, tetapi juga hortikultura, perkebunan, bahkan perikanan. Misalnya, pada sektor perikanan, perubahan suhu air dapat memengaruhi budidaya, migrasi ikan, dan kandungan gizinya,” ujar Soen’an.
Ia menekankan pentingnya riset lintas sektor dan kebijakan adaptasi iklim yang langsung menjawab tantangan penurunan kualitas pangan di lapangan.

Temuan menarik disampaikan Manajer Program Lingkungan GAIN, Ibnu Budiman, Ia memaparkan bahwa peningkatan kadar karbon dioksida (CO₂) dan suhu global justru menurunkan kualitas gizi tanaman.
Penelitian menunjukkan bahwa meski tanaman bisa tumbuh lebih cepat dan besar dalam kondisi CO₂ tinggi, kandungan gizinya menurun secara signifikan, terutama mineral penting seperti kalsium dan senyawa antioksidan.
Kombinasi suhu tinggi dan kadar CO₂ tinggi bahkan memperparah situasi tersebut, membuat tanaman tumbuh lebih lambat dan miskin gizi.
Sementara itu, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLHK, Franky Zamzani, S.Hut., M.Env., menjelaskan bahwa Indonesia saat ini masih berada pada Level 1 pengembangan National Adaptation Plan (NAP), yakni tahap penguatan kelembagaan dan integrasi awal adaptasi iklim dalam kebijakan sektoral.
“Integrasi gizi dan iklim bukan hanya kebutuhan teknis, tetapi fondasi kebijakan pembangunan berkelanjutan,” tegas Franky.
Ia mendorong agar dimensi gizi menjadi bagian dari kebijakan adaptasi iklim agar strategi pembangunan rendah karbon juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pangan dan kesehatan masyarakat.
Pandangan serupa disampaikan Maria Ulfa, S.Si. dari Kementan. Menurutnya, kenaikan suhu dan cuaca ekstrem telah mengubah fisiologi tanaman sehingga menurunkan kadar protein serta mineral penting seperti kalsium, magnesium, dan zinc.

“Kualitas dan kuantitas hasil pertanian adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan dalam menjaga ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Dari sisi riset dan inovasi, Dr. Betha Lusiana dari CIFOR–ICRAF menekankan pentingnya diversifikasi pangan lokal berbasis ekosistem sebagai langkah adaptif menghadapi perubahan iklim.
Menurutnya, pemanfaatan pangan lokal yang tahan kondisi ekstrem dapat menjadi solusi ganda, menjaga nilai gizi sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Sementara Ahmad Suriadi, Ph.D. dari BRIN menyoroti perlunya pengembangan varietas tanaman tahan stres iklim serta pemantauan kandungan hara berbasis data untuk memastikan kualitas nutrisi tanaman di masa depan.
Seminar ini dihadiri perwakilan kementerian, pemerintah daerah, akademisi, peneliti, organisasi masyarakat sipil, dan media. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan semakin pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memahami dan merespons dampak perubahan iklim terhadap gizi tanaman pangan.
Forum tersebut menghasilkan pandangan bersama bahwa integrasi isu gizi dalam kebijakan adaptasi iklim perlu diperkuat melalui riset ilmiah, inovasi teknologi, dan kebijakan publik yang responsif.
Melalui kegiatan ini, JP2GI dan GAIN Indonesia menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi antara sektor pangan, riset, dan lingkungan dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan.
Jejaring Pasca Panen untuk Gizi Indonesia (JP2GI) adalah organisasi yang berkomitmen mengurangi susut dan sisa pangan serta meningkatkan ketahanan pangan nasional melalui inovasi pasca panen dan sistem pangan berkelanjutan. Informasi selengkapnya: https://jp2gi.org.
Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) adalah organisasi nirlaba internasional yang didirikan pada Konferensi PBB tahun 2002. Di Indonesia, GAIN bekerja sama dengan pemerintah dan sektor swasta sejak 2013 dalam berbagai program seperti fortifikasi pangan, perbaikan gizi remaja, pengurangan susut pangan, dan promosi pangan sehat lestari. Info lebih lanjut: https://www.gainhealth.org/countries/indonesia.