Wednesday, 21 October 2026


Panen Jagung Hibrida Tembus 32 Ton, Alor Menuju Swasembada Pangan

14 Apr 2026, 10:13 WIBEditor : Herman

Panen Jagung Hibrida Desa Alila Selatan, Kecamatan Alor Barat Laut

TABLOIDSINARTANI.COM, Alor --- Suasana penuh semangat terlihat di Desa Alila Selatan, Kecamatan Alor Barat Laut, saat panen raya jagung hibrida pioner digelar di lahan demplot seluas 5 hektare.

Kegiatan ini tak hanya menjadi momentum panen, tetapi juga simbol kolaborasi kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam mendorong ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Panen raya tersebut dihadiri oleh Kepala Balai Besar Penerapan dan Modernisasi Pertanian NTT sekaligus Penanggung Jawab Kabupaten Swasembada Pangan, Dr. Novalisa Tresya Ester Lumentut, SP., M.Sc., bersama jajaran staf, termasuk Rafael Das Santos, SST, dan Ari Priyadi, S.Pt.

Turut hadir Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Alor, Harun Al Rashid Miran, SP, anggota DPRD Dapil V Deni Padabang, Katimker Piciano Korea, SST, Kepala BPP Kecamatan Alor Barat Laut Petrus Payong, SST, serta 109 penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan sekitar 50 warga Desa Alila Selatan.

Dari lahan seluas 5 hektare tersebut, petani berhasil mencatat produktivitas sebesar 6,4 ton per hektare dengan total produksi mencapai 32 ton. Program ini didukung oleh Dana Desa sebesar Rp96.719.784 dan mendapat pendampingan teknis langsung dari PPL Desa Alila Selatan, Nason Mule, SST.

Kehadiran berbagai pihak dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya nyata memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya di wilayah NTT dan Kabupaten Alor. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk konkret pendampingan kepada kelompok tani agar mampu meningkatkan hasil produksi secara berkelanjutan.

Jagung hibrida pioner yang dipanen memiliki masa tanam sekitar 99 hingga 108 hari setelah tanam (HST), sedikit lebih lama dibandingkan varietas lokal. Namun, hasil yang diperoleh jauh lebih optimal, terbukti dari tingginya produktivitas yang dicapai petani.

Kepala Desa Alila Selatan, Ali Dhalan, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari penerapan sistem budidaya terintegrasi dan berkelanjutan berbasis SDGs (Sustainable Development Goals).

Dalam satu hamparan lahan, selain jagung, juga dikembangkan komoditas lain seperti kacang hijau seluas 2 hektare, 5.000 pohon cabai, serta tanaman jangka panjang berupa 2.000 pohon jambu mete yang siap produksi.

“Konsep ini kami rancang agar petani memiliki sumber pendapatan berlapis, dari jangka pendek, menengah, hingga panjang,” ujar Ali Dhalan.

Di sela-sela kegiatan, Kepala Balai Besar turut menyerahkan bantuan berupa satu unit mesin pompa air kepada masyarakat setempat sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan produktivitas pertanian.

Panen raya ini menjadi bukti bahwa dengan kolaborasi, inovasi, dan pendampingan yang tepat, mimpi swasembada pangan bukanlah hal yang mustahil. Dari Alila Selatan, semangat itu digaungkan: NTT, khususnya Alor, juga mampu menjadi lumbung pangan yang mandiri dan berkelanjutan.

Reporter : Petrus Payong
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018