Wednesday, 21 October 2026


Sejarah Pangan Kembali Terukir di Karawang

30 Apr 2026, 16:30 WIBEditor : Yulianto

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman bersama Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengumumkan pencapai CBP sebanyak 5 juta ton beras di Karawang pada Kamis (23/4).

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Karawang kembali menjadi saksi sejarah pertanian di Indonesia. Setelah pada awal Tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pencapaian swasembada beras di Desa Cilebar, Karawang, Kamis (23/4), Pemerintah mengumumkan pencapaian tertinggi stok cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 5 juta ton juga di Karawang, tepatnya gudang filial Bulog.

Menengok perjalanan dunia pertanian di Tanah Air, Kabupaten Karawang memang tak pernah lepas dari sejarah pangan dan pertanian Indonesia. Misalnya, saat bangsa Indonesia memulai gerakan pembangunan pertanian dengan program Bimas (Bimbingan Massal) yang secara resmi berlangsung pada tahun 1967/1968.

Kegiatan ini berawal dari proyek peningkatan produksi padi di Karawang (1963) di lahan seluas 100 ha yang dilakukan 12 orang mahasiswa dan 7 orang asisten dosen dari IPB. Mereka dikirim ke desa selama kurang lebih 7 bulan dan hidup berdampingan dengan petani. Program ini dibantu Departemen Riset Nasional dan Departemen Pertanian.

Keberhasilan program tersebut memecut pemerintah menjadi kegiatan tersebut secara massal yang kemudian memakai brand Bimas dengan kegiatannya Demas (Demonstrasi Massal). Dalam program tersebut pemerintah melaksanakan intensifikasi padi pada sawah seluas 1 juta ha.

Pemerintah kemudian menerapkan sistem panca usaha, yaitu perbaikan irigasi, penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk pemberantasan hama dan penyakit, serta perbaikan cara bercocok tanam (teknologi). Keberhasilan Bimas ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan produksi yang cukup pesat, antara tahun 1965-1969, yaitu sebesar 4,5 persen per tahun.

Tembus 5 Juta Ton

Setelah gelombang naik turun dalam pembangunan pertanian selama beberapa kali pemerintah, Karawang kembali mencatatkan sejarah sebagai saksi dalam dunia pertanian di Tanah Air. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman bersama Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengumumkan pencapai CBP sebanyak 5 juta ton beras di Karawang, Kamis (23/4).

Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia melampaui tahun lalu yang baru mendekati 4 juta ton. “Alhamdulillah hari ini tanggal 23 April 2026, sekarang jam 8.55, stok beras seluruh Indonesia 5.000.198 ton. Ini adalah pertama, tidak pernah terjadi sepanjang sejarah. Ini sejarah pertama. Inilah hasil kerja keras kita semua,” ujar Amran.

Sebelumnya untuk memastikan kondisi stok beras, Presiden Prabowo Subianto didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Jaya dan Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono melakukan sidak ke Kompleks Gudang BULOG Danurejo di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (18/4). Inspeksi ini dilakukan guna memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi cadangan pangan nasional. 

Amran menilai, capaian ini juga berdampak strategis terhadap posisi Indonesia di tingkat global. Sebelumnya Indonesia mengimpor hingga 7 juta ton pada 2023–2024, tapi Indonesia kini berbalik arah dengan cadangan yang justru mencapai rekor tertinggi.

Tingginya cadangan beras nasional saat ini menjadi bukti nyata Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga mulai menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan global.  “Ini berkontribusi pada rakyat Indonesia dan juga pada dunia. Indonesia sekarang berkontribusi pada dunia,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi nasional tahun 2025 mencapai 71,95 juta ton dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP), meningkat dari 63,51 juta ton pada 2024 atau naik 13,29 persen. Kenaikan sebesar 8,44 juta ton ini menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Jika dikonversi ke beras konsumsi, maka produksi sepanjang Januari–Desember 2025 diproyeksikan mencapai 34,77 juta ton. Angka tersebut telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional sekitar 30–31 juta ton per tahun. Artinya ada surplus produksi sekitar 3-4 juta ton.

Tren peningkatan produksi berlanjut pada awal 2026. BPS mencatat potensi produksi pada Januari sebesar 3,94 juta ton, Februari 6,05 juta ton, dan Maret diperkirakan mencapai 11,14 juta ton GKP. Capaian ini menunjukkan peningkatan produksi tidak bersifat sementara, tetapi didukung perbaikan sistem produksi secara menyeluruh.

Komitmen Bulog

Bagi Direktur Utama Perum Bulog, Letnan Jenderal TNI (Purn) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata kehadiran negara dalam menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat. “Alhamdulillah per pagi ini, Kamis tanggal 23 April 2026 stok beras yang ada di gudang BULOG menembus angka 5.000.198 ton," katanya.

Pencapaian angka 5 juta ton ini menurutnya, adalah wujud komitmen BULOG dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga beras. Bahkan menjadi fondasi kuat untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan, sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh akses pangan yang cukup dan terjangkau.

"Saat ini saya sampai bukan hanya gudang Bulog yang penuh, tapi juga gudang swasta yang kita sewa juga penuh dengan beras yang petani kita produksi," katanya. Bahkan ia menegaskan, kondisi tersebut bukan rekayasa. Untuk membuktikan keberadaan stok beras, pemerintah membuka pintu bagi masyarakat melihat langsung kondisi gudang beras di seluruh Tanah  Air, baik milik Bulog maupun swasta.

Bulog telah membuka kesempatan bagi anak sekolah yang akan study tour untuk melihat gudang Bulog. “Kami buka setiap hari, kecuali kunjungan anak sekolah pada hari libur. Ini bagian edukasi kepada mereka bahwa negara Indonesia sudah swasembada pangan,” ujar Rizal.

Seiring dengan tingginya realisasi penyerapan sejak awal tahun 2026, tingkat keterisian gudang BULOG mengalami peningkatan signifikan. BULOG saat ini mengelola 1.540 unit gudang milik sendiri dengan total kapasitas riil sebesar 3.061.484 ton untuk mendukung penyimpanan CBP.

BULOG juga mengambil langkah strategis dengan menambah kapasitas penyimpanan melalui pemanfaatan gudang filial (non-BULOG). Hingga saat ini, tercatat 1.254 unit gudang filial dengan kapasitas riil sebesar 2.686.215 ton.

Dengan cadangan yang kuat, Bulog tidak hanya berperan sebagai stabilisator, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam ekosistem pangan nasional. Stok menjadi instrumen strategis meredam gejolak harga, mengantisipasi kondisi darurat, serta mendukung program bantuan pangan.

Reporter : Yulianto
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018