Wednesday, 21 October 2026


Mentan bilang PM-AAS Ungkit Produktivitas Padi dan Pendapatan Petani

03 Sep 2026, 11:11 WIBEditor : Yulianto

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat berkunjung di lahan BRMP Padi untuk melihat teknologi PM AAS

TABLOIDSINARTANI.COM, Subang---Kementaerian Pertanian kini terus mendorong teknologi Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS). Inovasi padi ini ternyata mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi yang berimbas pada pendapatan petani.

Bahkan metode yang telah diuji sekitar dua tahun tersebut menunjukkan hasil produksi yang dapat meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan pola budidaya konvensional.

Saat panen budidaya padi PM AAS di lahan BRMP Padi Sukamandi, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, teknologi ini mulai diterapkan di sejumlah provinsi melalui demfarm. Hasil pengujian menunjukkan produktivitas yang sebelumnya rata-rata berada di kisaran 5–5,5 ton/ha meningkat menjadi 11 ton/ha.

"Hasilnya sangat menggembirakan, naik dua kali lipat. Yang dulu rata-rata 5 ton, 5,5 ton, sekarang menjadi 11 ton, 12 ton, bahkan ada 13 ton per hektare,” kata Amran, Rabu (2/9).

Menurut Amran, peningkatan produksi tersebut terutama didorong optimalisasi populasi tanaman dalam 1 ha lahan. PM-AAS mengatur jarak tanam sehingga jumlah tanaman dapat ditingkatkan secara signifikan tanpa harus menambah luas lahan.

Hitungannta, jika populasi tanaman dalam 1 ha sekitar 800 ribu, dengan berat gabah taip tanaman sekitar 13,8 gram, maka akan didapatkan 11 ton. "Kalau 900 ribu sekitar 12 ton, dan 1 juta bisa mendekati 13 ton,” ujarnya.

Bagi petani, peningkatan produktivitas tersebut memberikan peluang peningkatan pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan tambahan biaya budidaya. Amran mengakui, karena ada peningkatan populasi dalam budidaya PM AAS ini akan ada tambahan biaya untuk benih dan pupuk, serta biaya lainnya sekitar Rp2 juta/ha.

Namun dengan peningkatan produktivitas, petani akan mendapatkan hasul lebih banyak. Meski biaya usaha tani menjadi lebih tinggi Rp2 juta, tetapi penghasilan petani naik Rp30-35  juta. "Jadi bertambah biaya Rp2 juta tetapi bertambah penghasilan Rp35 juta,” ujarnya.

Kalkulasinya, dengan harga pembelian gabah pemerintah (HPP) Rp6.500/kg, kenaikan produksi dari sekitar 5 ton menjadi 10 ton/ha berarti penerimaan kotor petani meningkat sekitar Rp32,5 juta/ha. Angka tersebut menunjukkan tambahan biaya budidaya relatif kecil dibandingkan potensi tambahan penerimaan dari peningkatan produksi.

“Kalau dulu 5 ton nilainya sekitar Rp32 juta, kalau 10 ton sekitar Rp65 juta. Ada delta, sementara pengeluaran untuk menambah populasi ini hanya sekitar Rp2 juta/ha,” katanya.

Selain meningkatkan populasi tanaman, PM-AAS menggunakan sistem direct seeding atau tanam langsung. Benih ditanam langsung tanpa melalui proses persemaian dan pemindahan bibit.

“Ini langsung direct seeding. Tidak ada lagi biaya untuk pembibitan. Pembibitan bisa memakan waktu dua sampai tiga minggu, kemudian pindah tanam. Ini langsung,” ujar Amran.

Menurutnya, efisiensi waktu tersebut juga membuka peluang peningkatan indeks pertanaman, terutama pada lahan yang memiliki dukungan irigasi memadai. Waktu yang lebih singkat memungkinkan lahan dimanfaatkan lebih optimal untuk penanaman berikutnya. Untuk mempercepat penerapan PM-AAS, pemerintah menyiapkan skema subsidi benih.

Amran mengatakan pemerintah menargetkan penerapan metode tersebut sedikitnya pada 1 juta ha nasional pada tahun depan. “Untuk tahun depan kita anggarkan minimal 1 juta ha. Kita mulai sekarang, tetapi tahun depan minimal 1 juta hektare,” katanya.

Jika produktivitas meningkat sekitar 5 ton/ha, maka penerapan PM-AAS pada 1 juta ha berpotensi menambah produksi secara nasional sekitar 5 juta ton gabah. Skala tersebut menunjukkan besarnya dampak PM-AAS jika diterapkan secara luas, sekaligus memperkuat ketersediaan pangan nasional tanpa harus bergantung pada penambahan luas lahan.

Amran menegaskan, peningkatan produktivitas merupakan salah satu kunci utama untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga keberlanjutan swasembada pangan. Strategi tersebut dilakukan dengan meningkatkan produktivitas, memperkuat indeks pertanaman, menekan biaya produksi, serta memastikan harga gabah tetap memberikan keuntungan bagi petani.

“Bagaimana meningkatkan produktivitas, bagaimana meningkatkan planting index. Produktivitas naik karena populasinya bertambah. Pupuk ada tambahan sekitar Rp2 juta karena populasinya lebih banyak, tetapi setelah dihitung masih menguntungkan,” katanya.

Kuntungan Petani

Ia menilai kombinasi produktivitas yang meningkat, harga pupuk yang lebih terjangkau, serta HPP gabah Rp6.500 per kilogram menjadi fondasi penting untuk memperkuat keuntungan petani. “Produktivitas naik, harga pupuk turun, harga gabah HPP Rp6.500, produktivitas naik, petani sejahtera,” ujar Mentan Amran.

Menurutnya, PM-AAS pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai perubahan metode tanam, tetapi bagaimana satu lahan yang sama mampu menghasilkan produksi lebih tinggi dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.

“Solusi pertama adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Yang kedua adalah keberlanjutan swasembada pangan, ketahanan pangan dan kedaulatan pangan. Dampaknya luar biasa,” tegasnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018