Wednesday, 04 November 2026


PM AAS: MENJAWAB TANTANGAN PRODUKSI BERAS

09 Sep 2026, 12:53 WIBEditor : Yulianto

Lahan uji coba PM AAS di BRMP Padi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Bendera swasembada pangan berkelanjutan, khususnya beras sudah pemerintah kibarkan. Berbagai strategi pun disiapkan agar produksi pangan tetap terjaga, bahkan bisa meningkat dari tahun sebelumnya. Salah satunya melalui pengembangan Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS).

Di tengah rasa optimis pemerintah mencapai swasembada beras, tantangan peningkatan produksi ternyata tidaklah kecil. Secara garis beras ada lima tantangan yang dihadapi di depan mata. Pertama, produktivitas tanaman padi yang belum optimal. Hingga kini produktivitas padi yang petani tanam masih di bawah potensi hasil varietas unggul yang telah pemerintah kembangkan.

Kedua, perubahan iklim. Kondisi iklim yang semakin sulit diprediksi meningkatkan frekuensi banjir, kekeringan, dan serangan organsime pengganggu tumbuhan akibat perubahan iklim. Ketiga, keterbatasan tenaga kerja. Saat ini jumlah petani terus menurun dan didominasi petani usia lanjut. Sementara generasi muda banyak yang masih enggan terjun ke sawah.

Keempat, teknologi belum dimanfaatkan optimal. Penerapan mekanisasi, teknologi presisi, dan digitalisasi masih terbatas. Kelima, efisiensi usaha tani rendah. Biaya produksi yang petani keluarkan terbilang masih sangat tinggi. Sedangkan manajemen usaha belum efisien

Dengan tantangan tersebut, pemerintah memperkenal teknlogi PM-AAS yang merupakan sistem budidaya padi modern berbasis teknologi presisi dan korporasi. Melalui proses adaptasi, implementasi, dan pengkajian di berbagai lokasi, PM-AAS dikembangkan melalui pendekatan budidaya padi modern yang sesuai kondisi Indonesia.

Pemerintah menargetkan penerapan metode tersebut seluas 1 juta ha pada tahun depan. Kalkulasinya, jika produktivitas padi meningkat dari 5 ton menjadi 10 ton/ha, maka penerapan PM-AAS seluas 1 juta ha berpotensi menambah produksi padi sekitar 5 juta ton gabah.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry mengatakan, PM-AAS dirancang sebagai paket teknologi budidaya yang mengintegrasikan peningkatan populasi tanaman dengan pengelolaan tanaman secara terpadu. “PM-AAS tidak hanya diarahkan meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun sistem budidaya yang lebih efisien dan adaptif. Pengelolaan hara spesifik lokasi dan teknologi hemat air menjadi bagian penting agar produktivitas lahan tetap terjaga dan mampu menghadapi perubahan iklim,” ujarnya.

Enam Prinsif

Sementara itu, Kepala BRMP Padi, Amin Nur mengatakan, ada enam prinsip teknologi PM-AAS. Pertama, tanam benih langsung (tabela) dengan populasi tanaman lebih rapat dalam barisan. Kajian BRMP Padi selama dua musim tanam, pola Jajar Legowo (Jarwo) 6:1 menunjukkan performa paling baik dalam mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produktivitas. “Pola tanam ini menjadi salah satu pembeda utama PM-AAS dibandingkan sistem budidaya konvensional,” katanya.

Meski demikian, bukan berarti seluruh petani harus menggunakan pola tersebut. Di berbagai daerah, petani tetap dapat menerapkan Jarwo 2:1, 4:1, bahkan 8:1 seperti yang berkembang di Papua. Prinsipnya, tanaman tersusun rapi dalam barisan, sehingga sinar matahari dapat masuk secara merata.

Susunan tanaman yang lebih teratur memberikan banyak keuntungan. Selain meningkatkan proses fotosintesis karena penyinaran lebih merata, pola tanam yang rapi juga memudahkan berbagai pekerjaan di sawah. Dari mulai pemupukan, penyemprotan menggunakan drone, hingga panen menggunakan alat mesin pertanian.

Prinsip kedua, efisiensi penggunaan air, pupuk dan berbagai input produksi secara tepat sasaran. Dalam PM-AAS, setiap input harus diberikan sesuai kebutuhan tanaman, bukan sekadar berdasarkan kebiasaan. Dengan demikian, pemupukan berbasis kebutuhan tanaman melalui rekomendasi kesuburan tanah dan pemanfaatan Bagan Warna Daun (BWD) untuk menentukan kebutuhan pupuk nitrogen.

“Ketersediaan air harus disesuaikan fase pertumbuhan tanaman agar akar berkembang optimal, sekaligus mengurangi risiko kehilangan hasil akibat kekeringan maupun genangan berlebih,” katanya.

Prinsip ketiga, pemanfaatan mekanisasi pertanian. Mekanisasi menjadi jawaban semakin terbatasnya tenaga kerja di sektor pertanian. Melalui PM-AAS, penggunaan alat dan mesin pertanian diarahkan sejak awal budidaya. Pengolahan lahan memanfaatkan traktor, penanaman menggunakan drum seeder, pemupukan dan penyemprotan dengan drone, hingga panen memakai combine harvester.

Prinsip keempat, implementasi berbasis korporasi. Keberhasilan PM-AAS menurut Amin, akan lebih mudah dicapai jika budidaya dilakukan secara kolektif dalam satu hamparan. Dengan pengelolaan bersama, jadwal tanam dapat diseragamkan, penggunaan alsintan menjadi lebih efisien, pengendalian hama lebih efektif, dan biaya operasional dapat dibagi, sehingga lebih ringan bagi petani.

Prinsip kelima, pengelolaan budidaya secara intensif. Artinya, seluruh tahapan budidaya harus sesuai rekomendasi teknis agar potensi hasil varietas dapat tercapai. Mulai dari penggunaan benih bermutu, pengaturan populasi tanaman, pemupukan berimbang, pengendalian gulma sejak awal, hingga pemantauan OPT harus dilakukan secara disiplin.

Sementara prinsip keenam, spesifik lokasi. Amin menegaskan, PM-AAS bukan sistem yang kaku dan berlaku sama di seluruh wilayah Indonesia. Sebaliknya, teknologi dapat disesuaikan kondisi lahan, ketersediaan air, karakteristik agroekosistem, hingga kebiasaan petani di masing-masing daerah.

Pada musim tanam pertama 2026 (MK-1), uji PM-AAS pada luasan lahan sekitar 2.000 ha di 15 provinsi, berupa demfarm sekurang-kurangnya 100 hektare di setiap provinsi. Dari 18 kabupaten di 13 provinsi yang telah memasuki masa panen, hasil ubinan Kerangka Sampel Analisis (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produktivitas rata-rata PM-AAS mencapai 10,34 ton GKP/ha.

Angka tersebut meningkat dari rata-rata 6,32 ton GKP/ha pada praktik non-PM-AAS, atau terjadi tambahan sekitar 4,02 ton/ha. Dengan demikian, produktivitas meningkat 63,46 persen. Bahkan, sebanyak 12 dari 18 lokasi atau 66,7 persen telah mencapai produktivitas minimal 10 ton GKP/ha. Sementara di berbagai lokasi lainnya, produktivitas PM-AAS telah berada pada kisaran 9–11 ton GKP/ha.

Dengan hasil uji coba tersebut, teknologi PM-AAS menjadi sebuah alternatif peningkatan produksi beras, tanpa harus terpaku pada upaya cetak sawah baru

Reporter : TIM SINTA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018