Produksi jagung dalam negeri diperkirakan cukup untuk penuhi kebutuhan industri dan peternak
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Produksi jagung dalam negeri diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk industri pakan dan peternak rakyat. Bahkan jagung merupakan bahan baku utama pakan ternak ayam ras petelur dengan kontribusi sebesar 40–50 persen dalam struktur biaya produksinya.
Sebagai komoditas pangan strategis nomor dua setelah padi, komoditas jagung menjadi salah satu yang menjadi perhatian khusus dari pemerintah. Perannya sebagai bahan pangan dan bahan baku pakan ternak, jagung mempunyai nilai ekonomis yang tinggi bagi petani.
Untuk mendukung kebutuhan industri pakan dan peternak ayam petelur, pemerintah saat ini terus mendorong peningkatan produksi jagung. Bahkan Presiden Prabowo Subianto mengintruksikan Kepolisian RI (Polri) ikut mendukung ketahanan pangan dengan menargetkan penanaman jagung seluas 1 juta hektar (ha).
Kementerian Pertanian kini mempercepat pengembangan jagung pangan untuk memasok kebutuhan industri nasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan dalam negeri. Langkah ini merupakan bagian dari strategi swasembada jagung 2026 dengan target produksi mencapai 18 juta ton pipilan kering.
Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk memperluas hilirisasi jagung. Tidak hanya sebagai pakan ternak, jagung kini didorong menjadi bahan baku industri pangan guna meningkatkan nilai tambah komoditas petani.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan potensi produksi jagung pada periode Januari–Maret 2026 mencapai 4,94 juta ton, atau naik 4,18 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dengan stok carry over produksi jagung tahun 2025 sekitar 4,5 juta ton, pemerintah memastikan kebutuhan nasional terpenuhi tanpa impor.
BPS mencatat produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen sepanjang tahun 2025 mencapai 16,16 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi nasional pada 2025 berada di angka 15,23 juta ton, sehingga masih ada surplus 0,93 juta ton.
Sementara kebutuhan jagung pangan untuk industri pengolahan pati dan turunannya diperkirakan mencapai 450.000 ton per tahun. Guna memenuhi spesifikasi industri yang membutuhkan kadar pati tinggi, Kementan berkoordinasi dengan produsen benih nasional untuk menyediakan varietas yang sesuai.
Inpres Cadangan Jagung Pemerintah
Sebagai bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan produsen pangan di dalam negeri, termasuk petani jagung, pemerintah telah terbit Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2026 Tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah Tahun 2026-2029.
Dalam Inpres 3/2026 ini memuat direktif Presiden untuk melaksanakan pengadaan jagung dalam negeri sepanjang tahun 2026. Target pengadaannya 1 juta ton dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 5.500 per kilogram (kg) dengan kriteria jagung yang telah masuk usia panen dan kadar air antara 18-20 persen.
Untuk pengadaan jagung tahun 2027-2029 ditetapkan berdasarkan rapat koordinasi bidang pangan pada tahun berjalan. Perum Bulog mendapat tugas untuk melakukan pengadaan jagung dalam negeri untuk penguatan stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, terbitnya Inpres tersebut menjadi salah satu bukti komitmen Presiden Prabowo dalam melindungi petani jagung Indonesia. Bahkan dirinya yakin swasembada jagung Indonesia untuk pakan dapat berlanjut terus.
"Indonesia sudah swasembada jagung untuk pakan. Impor jagung pakan sudah nol persen. Ini berita baik bagi kita semua. Ini hasil kolaborasi dari kerja sama, sinergi, dan kolaborasi. Tentu sesuai arahan Bapak Presiden, capaian ini akan dilanjutkan seterusnya," kata Amran.
Lebih lanjut, Inpres 3 Tahun 2026 juga menetapkan penyaluran CJP dapat dilakukan melalui operasi pasar umum atau pasar khusus pada sasaran tertentu. Namun tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan jagung pakan untuk peternak mandiri dan kebutuhan pasokan jagung bahan baku pakan ternak bagi pabrik pakan ternak.
Karena itu, stok CJP di Perum Bulog pun terus diperkuat. Melalui penugasan dari Badan Pangan Nasional sepanjang tahun 2025 pengadaan jagung yang bersumber dari produksi dalam negeri mencapai 101 ribu ton. Untuk penyaluran CJP telah terlaksana melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan sebanyak 51,2 ribu ton ke 3.578 peternak unggas di 17 provinsi. Sedangkan stok CJP hingga akhir 2025 masih 45 ribu ton.
Data Badan Pangan Nasional, angka stok CJP di kuartal pertama tahun 2026 telah mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini berkat realisasi pengadaan jagung dalam negeri yang hingga 2 April telah mencapai 125 ribu ton atau mencapai 123,9 persen dibandingkan realisasi pengadaan tahun 2025. Stok CJP pun saat ini telah berada di angka 168 ribu ton.
Saat Rapat Koordinasai Perunggasan di Surabaya, beberapa waktu lalu, Amran Sulaiman menegaskan, pemerintah memperpanjang program SPHP jagung untuk membantu peternak lokal menjaga biaya pakan, serta keberlanjutan usaha perunggasan nasional. Kebijakan tersebut menurutnya, penting karena jagung merupakan salah satu bahan baku utama pakan unggas.
Kepastian pasokan jagung dengan harga yang terjangkau diharapkan dapat membantu menjaga biaya produksi peternak. Bapanas mencatat total alokasi program SPHP jagung pakan yang digulirkan sejak Mei 2026 sebanyak 242 ribu ton yang merupakan hasil penyerapan panen petani jagung dalam negeri dengan harga penyerapan yang baik untuk mendukung peternak unggas.
Sementara itu Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan, Tiurmauli Silalahi mengatakan, pemerintah saat ini terus memperkuat sinergi antara petani dan industri melalui sosialisasi di berbagai provinsi sentra jagung. Hal ini dilakukan untuk menjamin pasokan bahan baku yang berkelanjutan. Bahkan untuk melindungi petani, pemerintah menetapkan harga pembelian jagung sebesar Rp 5.500 per kilogram.
Tiurmauli mengatakan, dengan kemajuan teknologi pengolahan memungkinkan jagung bertransformasi menjadi produk bernilai tinggi. Melalui penguatan kemitraan dan hilirisasi, jagung tidak hanya menjadi komoditas pakan, tetapi juga sumber bahan baku industri pangan bernilai tambah tinggi bagi ekonomi nasional.
”Strategi ini diharapkan mampu menempatkan jagung sebagai fondasi pertumbuhan industri pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia,” katanya.