Thursday, 29 October 2026


Perkuat Brigade Pangan, Polbangtan Kementan Bekali 60 Penyuluh Kompetensi Teknis dan Manajerial

29 Oct 2026, 16:25 WIBEditor : Yulianto

Bimtek penyuluh untuk memperkuat brigade pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, BANYUMAS---Keberhasilan Brigade Pangan dalam mendukung swasembada pangan tidak hanya ditentukan ketersediaan lahan, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta sarana produksi, tetapi juga oleh sumber daya manusia yang kompeten.

Untuk memperkuat peran tersebut, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan Yoma) menggelar bimbingan teknis (bimtek) bagi 60 Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang akan mendampingi Brigade Pangan di sembilan kabupaten di Jawa Tengah.

Selama tiga hari, para penyuluh dari Kabupaten Cilacap, Kebumen, Demak, Pati, Banyumas, Pekalongan, Batang, Karanganyar, dan Magelang dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mendampingi 59 Brigade Pangan yang terbentuk pada 2026. 

Kegiatan yang berlangsung hingga Jumat (23/10) di Kabupaten Banyumas ini bertujuan memperkuat kapasitas penyuluh dalam mendukung pengelolaan usaha tani Brigade Pangan agar berjalan optimal dan berkelanjutan.

Materi bimtek mencakup budidaya padi dan jadwal tanam, pengelolaan alsintan, motivasi kewirausahaan, model bisnis dan analisis usaha tani, serta literasi dan inklusi keuangan.

Para peserta juga memperoleh pembekalan mengenai strategi percepatan penumbuhan Brigade Pangan, pembentukan karakter, metode pendampingan dan pembelajaran efektif, serta tata kelola kelembagaan Brigade Pangan.

Pembekalan tersebut dirancang agar penyuluh memiliki kemampuan teknis sekaligus administratif dalam mendampingi Brigade Pangan di lapangan. Dengan demikian, penyuluh diharapkan mampu mendorong peningkatan produktivitas lahan, mengoptimalkan indeks pertanaman, memperkuat pengelolaan usaha tani, serta meningkatkan pendapatan petani.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa cetak sawah dan optimalisasi lahan merupakan langkah strategis untuk menjaga ketersediaan pangan nasional di tengah ancaman alih fungsi lahan, krisis pangan global, dan dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.

“Cetak sawah dan optimasi lahan adalah kunci untuk menjamin ketersediaan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani. Kita tidak boleh bekerja biasa-biasa saja,” tegas Amran.

Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, mendorong optimalisasi lahan melalui penguatan peran Brigade Pangan sebagai salah satu upaya memperkokoh swasembada pangan nasional.

Menurut Idha, Brigade Pangan tidak sekadar menjadi pengelola usaha tani modern, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan dalam mendorong transformasi pertanian.

Peran itu diwujudkan melalui penerapan teknologi, penguatan kelembagaan, dan pengembangan usaha agribisnis di tingkat lapangan.

“Brigade Pangan harus memiliki kemampuan teknis, manajerial, dan kewirausahaan yang kuat agar mampu menjadi model pengelolaan usaha tani modern yang dapat direplikasi secara nasional,” kata Idha.

Penguatan kapasitas penyuluh menjadi bagian penting untuk menerjemahkan kebijakan tersebut menjadi aksi nyata di lapangan. Penyuluh tidak hanya bertugas memberikan rekomendasi teknis budidaya, tetapi juga mendampingi pengelolaan usaha, memperkuat administrasi kelembagaan.

Brigade Pangan juga, membantu membangun jejaring kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.

Kepala Bidang  Tanaman PanganDinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas, Yusuf Khanafi menyambut baik pelaksanaan bimtek tersebut.

Menurutnya, optimalisasi lahan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produksi pertanian dan mendukung pencapaian swasembada pangan.

“Pemanfaatan lahan oplah sangat penting guna mendukung tercapainya swasembada pangan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP),” ujarnya.

Ia menambahkan, dukungan Kementerian Pertanian melalui penyediaan sarana dan prasarana perlu diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan lapangan.

“Selain penyediaan benih unggul, alsintan, serta sarana produksi lainnya sesuai kebutuhan di lapangan, sumber daya manusia yang kompeten sebagai operator adalah kunci utamanya,” ungkap Yusuf.

Direktur Polbangtan Yoma, R. Hermawan menegaskan,  peningkatan kompetensi penyuluh merupakan langkah penting untuk memastikan Brigade Pangan mampu menjalankan kegiatan usaha tani secara efektif.

Melalui bimtek ini, ia berharap para penyuluh dapat menjalankan fungsi pendampingan secara aktif, baik dalam aspek teknis maupun administrasi.

“Penyuluh pendamping wajib berperan aktif dalam membersamai seluruh kegiatan Brigade Pangan, baik dari segi teknis maupun administrasi, serta menjadi fasilitator bagi Brigade Pangan untuk berkomunikasi dengan stakeholder terkait lainnya,” paparnya.

Hermawan menjelaskan, Brigade Pangan juga menjadi salah satu upaya Kementerian Pertanian dalam mendorong regenerasi petani.

Melalui kelembagaan ini, generasi muda diharapkan memiliki kesempatan untuk terlibat dalam usaha tani modern yang dikelola secara profesional dan berorientasi bisnis.

Karena itu, keberadaan penyuluh pendamping menjadi faktor penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan kapasitas petani muda.

Dengan pendampingan yang berkelanjutan, Brigade Pangan diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga membangun usaha tani yang berdaya saing, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat fondasi swasembada pangan nasional.

Reporter : Osi W
Sumber : Polbangtan YOMA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018