
Petani penangkar benih kentang industri lokal tersenyum lebar
TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung — Kentang industri lokal memiliki peluang besar untuk bersaing dengan varietas impor. Salah satunya adalah kentang Chitra yang mulai dikembangkan petani penangkar di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sebagai alternatif bahan baku industri keripik kentang (chips).
Dataran tinggi Pangalengan telah lama menjadi sentra tanaman sayuran di Jawa Barat. Kentang menjadi salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan petani di wilayah tersebut. Salah satunya Asep Setiawan, penangkar benih kentang yang telah menekuni usaha ini sejak 1995.
Berbekal pengalaman membudidayakan kentang di Garut, Jawa Barat, Asep mulai mengembangkan varietas kentang Chitra setelah sekitar dua tahun menekuni penangkaran benih Granola, jenis kentang untuk sayuran. Dari pengalaman tersebut, ia melihat budidaya kentang industri memiliki prospek yang menjanjikan, terlebih benihnya sudah dikembangkan di dalam negeri dan memiliki pasar yang jelas karena didukung industri penyerap hasil (off-taker).
“Dulu saya juga pernah menanam kentang industri jenis Atlantik yang benihnya dari impor. Tapi, sekarang saya memutuskan beralih ke benih Chitra karena sudah ada perusahaan lokal yang memproduksi,” tutur Asep.
Setelah beberapa kali menanam, Asep menilai kualitas kentang industri Chitra tidak kalah dari varietas impor. Produktivitasnya bahkan mampu mencapai sekitar 25 ton per hektare.
Petani kentang Pangalengan lainnya, Endang Mulyadi, juga mengakui keunggulan Chitra, terutama dari sisi ketahanan terhadap penyakit. Berdasarkan pengalamannya, varietas ini lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan kentang industri impor yang pernah ditanam, khususnya saat musim hujan ketika risiko busuk daun dan rebah batang meningkat.

“Dari pengalaman kami, kentang Chitra lebih baik ketahanannya terhadap penyakit, terutama saat musim hujan,” ujarnya.
Ketahanan tersebut berpotensi mengurangi penggunaan pestisida sehingga biaya budidaya dapat ditekan. Meski demikian, pada musim kemarau petani perlu melakukan penyiraman lebih rutin.
Kentang Chitra idealnya dipanen pada umur sekitar 100 hari setelah tanam (HST). Dalam kondisi tertentu, panen dapat dilakukan pada umur 80 HST, khususnya jika hasilnya akan digunakan kembali sebagai benih. Sementara itu, kentang Granola Lembang dan Granola Kembang umumnya membutuhkan waktu lebih dari 100 HST.
Melihat prospek tersebut, Asep bersama Endang menyiapkan lahan sekitar 10 hektare di Pangalengan untuk memperluas penangkaran benih Chitra. Ketersediaan lahan yang sesuai masih menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan usaha ini. Untuk mendukung kegiatan penangkaran, petani memperoleh pasokan benih dari PT Agra Intan Makmur Sejahtera (AIMS).
Direktur Utama PT AIMS, Benediktus Tommy, mengatakan pengembangan kentang industri lokal perlu disertai pembuktian kualitas secara langsung di lapangan. Karena itu, pihaknya mengajak pemerintah, pelanggan, dan perusahaan pengguna kentang industri untuk melihat proses penangkaran serta berdiskusi dengan petani.
“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun pelanggan dan off-taker, untuk datang langsung melihat proses penangkaran benih kentang industri lokal,” ujar Tommy saat mengunjungi lokasi penangkaran benih di kawasan Situ Cileunca, Pangalengan.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjawab anggapan bahwa benih kentang lokal memiliki kualitas di bawah benih impor. Melalui kunjungan langsung dan diskusi dengan petani, para pemangku kepentingan dapat menilai kualitas benih serta melihat potensi pengembangannya.
Tommy menjelaskan, varietas Chitra telah dilepas pada 2017. Varietas ini berawal dari introduksi kentang industri Bliss dari luar negeri yang kemudian dikembangkan di dalam negeri hingga menghasilkan varietas dengan nama Chitra. Sejak 2023, AIMS mulai mendorong pengembangan dan penanamannya agar semakin dikenal serta dimanfaatkan
petani.
Pengembangan Chitra diharapkan dapat memperluas pilihan varietas bagi petani sekaligus memperkuat pasokan kentang untuk industri pengolahan. Dengan dukungan benih bermutu, ketersediaan lahan yang sesuai, dan penerapan budidaya yang tepat, kentang industri lokal berpeluang meningkatkan daya saing serta mengurangi ketergantungan pada benih impor.
Swasembada Benih Kentang Industri
Kementerian Pertanian terus mendorong peningkatan produksi komoditas yang dapat dikembangkan di dalam negeri, termasuk benih, guna memperkuat kemandirian pangan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah benih kentang industri yang selama ini masih banyak dipasok dari impor.
Kepala Kelompok Seksi Pengawasan Mutu Benih, Direktorat Perbenihan Hortikultura, Fakhruddin, mengatakan Indonesia telah mencapai swasembada benih kentang Granola yang digunakan untuk kebutuhan sayuran. Namun, untuk kentang industri, ketergantungan terhadap benih impor masih cukup tinggi karena industri memiliki persyaratan khusus terkait kualitas dan karakteristik kentang.
“Kementerian Pertanian saat ini fokus pada pencapaian swasembada pangan. Untuk komoditas hortikultura di antaranya bawang putih. Menariknya, saat ini ada kentang industri,” kata Fakhruddin saat mengunjungi lokasi penangkaran benih kentang di Pangalengan, Bandung, Kamis (15/10).

Fakhruddin menyambut baik kehadiran perusahaan yang memproduksi benih kentang industri di dalam negeri. Namun, ia juga mempertanyakan masih adanya impor ketika produksi lokal mulai tersedia.
“Kenapa masih ada impor kentang industri? Padahal ada produksi di dalam negeri. Ini yang kemudian mendorong kami untuk melihat langsung penangkaran benih kentang lokal,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah berencana mengunjungi lokasi produksi benih kentang industri lainnya, antara lain di Pemalang, Jawa Tengah, dan Sembalun, Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Kita ingin mengharmonisasikan antara industri kentang, produsen benih, dan petani. Kita harapkan nanti industri kentang bisa menyerap produksi di dalam negeri,” tambahnya.
Dari hasil pengamatan di Pangalengan, Fakhruddin menilai kualitas benih kentang industri lokal sudah cukup baik dan sesuai dengan persyaratan serta karakteristik yang dibutuhkan industri. Selanjutnya, pemerintah akan menyiapkan panduan dan regulasi untuk mendukung pengembangan produsen benih kentang industri di dalam negeri.