Tuesday, 27 October 2026


Tiap Tahun Berteriak Harga Jagung Mahal, Pemerintah Bangun Ekosistem Peternakan Hulu-Hilir

27 Oct 2026, 14:47 WIBEditor : Yulianto

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengkampanyekan makan telur untuk bantu tingkatkan kesejahteraan peternak rakyat

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Melonjaknya harga jagung untuk pakan membuat kalangan peternak ayam terancam tutup kendang. Untuk membantu persoalan yang kerap menyelimuti peternak rakyat, Kementerian Pertanian menyiapkan ekosistem dari hulu hingga hilir.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengakui, secara umum nilai tukar petani (NTP) kini mencapai 131,11. Namun di sub sektor peternakan terbilang masih paling rendah dibandingkan subsektor lainnya  yakni hanya 102,91.

”Jadi pekerjaan rumah kami saat ini adalah peternak. Kalau perkebunan sudah paling sejahtera. Jika nanti NTP peternak naik, kita harapkan ke depan NTP secara umumakan mencapai 140-an,” kata Amran saat Rapat Koordinasi Kemitraan Jagung Pakan Ternak di Jakarta, Selasa (27/10). Pada rapat yang dihadiri peternak dari sentra unggas rakyat dan petani jagung di Jawa dan Lampung ditandatangani MoU (Nota Kesepahaman) antara peternak dan petani jagung. 

Dalam jangka pendek mengatasi mahalnya harga jagung, Amran mengatakan, pemerintah telah menyaluran jagung SPHP melalui Perum Bulog dengan harga Rp 5.000/kg. Sementara itu harga jagung di pasar mencapai Rp 8.000-8.500/kg.

Sedangkan dalam jangka panjang, Amran mengatakan, pemerintah akan membangun ekosistem dari hulu hingga hilir dengan membangun kemitraan antara petani jagung, peternak, Perum Bulog dan ID Food serta Berdikari.

Pemerintah akan memberikan bantuan benih gratis kepada petani untuk menanam jagung seluas 300 ribu hektar (ha). Dari luasan lahan tersebut diharapkan akan menghasilkan sebanyak 2,1 juta ton jagung pipilan.

”Kita akan siapkan anggaran Rp 300 miliar untuk bantuan benih jagung tersebut. Anggarannya sudah ada, tinggal geser.  Bahkan tahun depan bisa kami tambah lagi Rp 300 miliar,” ujarnya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1,8 juta ton akan dibeli koperasi atau kelompok peternak yang bermitra dengan petani. Jagung tersebut langsung didistribusikan ke peternak layer (ayam petelur) maupun broiler (pedaging) skala kecil dan mikro kecil.

Sedangkan sisanya sekitar 300 ribu ton akan disimpan di gudang Bulog sebagai off taker untuk kebutuhan pada September-Januari saat produksi jagung mulai berkurang. Mekanisme kerjasamanya dalam bentuk resi Gudang.  

““Produksi jagung dari petani nanti langsung diserap peternak atau kelompok peternak. Kalau berlebih akan dibeli Bulog. Jagung tersebut tetap milik peternak. Jika nanti peternak membutuhkan, maka bisa diambil di gudang Bulog. Jadi sistemnya resi gudang,” tutur Amran.

Sementara itu di bagian hulu, Amran menjelaskan, produksi telur dari peternak akan memasok untuk kebutuhan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) sebanyak 325 ribu ton dan kebutuhan masyarakat sebanyak 1,8 juta ton.

Selain itu, pemerintah juga berencana membangun tuga pabrik tepung telur yang nantinya akan mengisi kebutuhan industri pangan, baik dalam negeri maupun ekspor.

Ekosistem peternakan hulu hulir ini menurut Amran, sifatnya tertutup (closed system). Karena itu tidak boleh ada pihak luar yang masuk. Bahkan petani tidak boleh menjual hasil panen jagung di luar peternak yang sudah bermitra.

“Kalau ada (yang masuk, red) akan kami tindak dan tidak akan kami beri bantuan lagi. Kami akan tegas dan tidak boleh bermain-main. Sekarang ini kita bangun ekositem dari hulu ke hilir agar tiap tahun tidak ada lagi peternak yang berteriak,” tegas Amran.

Bagi petani jagung yang bermutra, tambahnya, pemerintah akan memberikan bantuan alat mesin pertanian berupa handtraktor. Namun dalam diskusi dengan Mentan, peternak berharap, pemerintah tidak hanya membantu petani jagung alsintan, tapi juga membantu peternak dengan mesin pengering (dryer) jagung.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018