
Penyuluh Pertanian Cianjur, Maman Sudirman sedang merawat padi dalam galon yang ditanam
TABLOIDSINARTANI.COM, CIANJUR — Siapa bilang menanam padi harus punya sawah? Maman Sudirman, penyuluh pertanian di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, punya cara unik untuk membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk bertani. Ia menyulap 33 galon bekas menjadi sawah mini di atas dak rumahnya.
Berada di Kampung Kandang Sapi, RT 02 RW 06, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, deretan galon berisi tanaman padi itu menjadi bukti kreativitas Maman dalam memanfaatkan ruang yang tersedia.
Di sela-sela kesibukannya sebagai penyuluh, ia menyempatkan diri merawat tanaman sekaligus mencoba peluang menghasilkan pangan dari rumah sendiri.
“Menanam padi tidak harus selalu di sawah. Saya mencoba memanfaatkan ruang yang ada di rumah. Galon bekas yang sudah tidak terpakai ternyata masih bisa dimanfaatkan untuk menanam padi,” kata Maman.
Baginya, kegiatan ini bukan sekadar mengisi waktu luang. Ia ingin membuktikan bahwa bertani dapat dimulai dari langkah sederhana, tanpa harus menunggu memiliki lahan luas.
Pengalamannya pun cukup menarik. Saat menggunakan varietas lokal, Maman mencatat produktivitas rata-rata sekitar 6,1 ons gabah kering panen per galon. Hasil tersebut menjadi pengalaman awal yang mendorongnya mencoba varietas lain.
Kini, ia menanam varietas Inpari 49 menggunakan metode tanam benih langsung (Tabela). Saat berumur 75 hari setelah tanam, pertumbuhan padi terlihat cukup bagus. Namun, bukan berarti semuanya berjalan mulus.
Maman menemukan bercak kuning pada ujung daun beberapa tanaman. Ia telah melakukan antisipasi melalui penyemprotan Extra Gen. Menurut pengamatannya, gejala tersebut kemungkinan berkaitan dengan cuaca panas, angin, serta paparan panas dari dinding beton di sekitar tanaman.
“Kalau menanam, kita tidak bisa hanya menunggu tanaman tumbuh. Setiap hari harus diamati. Airnya harus diperhatikan, pertumbuhannya dipantau, dan kalau ada gejala yang tidak biasa, kita harus segera mencari tahu penyebabnya,” ujarnya.
Bagi sebagian orang, galon bekas mungkin hanya menjadi barang tak terpakai. Namun, di tangan Maman, wadah tersebut memiliki fungsi baru sebagai tempat tumbuh tanaman pangan.
Caranya relatif sederhana. Galon dipotong sekitar tiga perempat bagian, kemudian bagian bawahnya diberi empat hingga lima lubang kecil untuk mengalirkan kelebihan air. Media tanam menggunakan tanah sawah atau tanah berhumus yang dicampur pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 2:1.
Media tersebut dipersiapkan sebelum penanaman. Bahan pendukung seperti mikroba dan kapur pertanian dapat digunakan sesuai kebutuhan serta dosis yang dianjurkan.
Benih yang dipilih dapat berasal dari varietas yang sesuai, seperti Inpari 32, Inpari 49, atau Ciherang. Benih direndam selama 24 jam, ditiriskan, lalu diperam semalam hingga mulai berkecambah.
Penanaman dilakukan secara langsung melalui metode Tabela atau menggunakan bibit cabutan berumur sekitar 12–15 hari. Jumlah tanaman perlu disesuaikan dengan ukuran wadah agar tidak terlalu padat dan tetap memperoleh unsur hara yang cukup.
Namun, jangan salah sangka. Meski menggunakan galon, tanaman padi tetap membutuhkan perawatan sebagaimana budidaya di sawah.
Pengaturan air menjadi salah satu hal penting dalam budidaya padi di dalam galon.
Pada fase awal, media dijaga tetap lembap dengan genangan dangkal. Seiring pertumbuhan tanaman, pengairan disesuaikan dengan umur dan kebutuhan padi.
Pemupukan juga dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi tanaman dan ukuran wadah. Pemberian pupuk yang berlebihan justru dapat mengganggu pertumbuhan.
Selain itu, sinar matahari menjadi faktor penting. Padi membutuhkan pencahayaan yang cukup untuk mendukung pertumbuhan hingga pembentukan gabah.
Karena itu, galon sebaiknya ditempatkan di lokasi yang memperoleh sinar matahari langsung sekitar enam jam sehari atau lebih, sesuai kondisi tanaman.
“Jangan ditempatkan di tempat teduh. Padi membutuhkan sinar matahari yang cukup. Kita juga harus rajin memeriksa air dan jangan sering memindahkan tanaman, supaya pertumbuhannya bisa diamati dengan baik,” pesannya.
Padi yang ditanam dalam galon umumnya dapat dipanen pada umur sekitar 90–110 hari, bergantung pada varietas dan kondisi pertumbuhan.
Dalam panduan yang dibagikannya, potensi hasil satu galon diperkirakan mencapai 0,5–1 kilogram gabah kering. Angka tersebut merupakan target budidaya, bukan hasil yang sudah dipastikan pada semua tanaman.
Pengalaman Maman dengan varietas lokal, yang menghasilkan rata-rata 6,1 ons gabah kering panen per galon, menjadi gambaran awal. Sementara itu, hasil varietas Inpari 49 masih perlu dilihat hingga panen.
Budidaya padi dalam galon tentu tidak dimaksudkan untuk menggantikan sawah sebagai sumber utama beras. Namun, cara ini menawarkan alternatif menarik bagi masyarakat yang ingin belajar bertani di tengah keterbatasan lahan.
Dari kegiatan sederhana tersebut, keluarga dapat mengenal proses produksi pangan secara langsung. Anak-anak juga bisa belajar bagaimana benih tumbuh, tanaman membutuhkan air dan sinar matahari, hingga akhirnya menghasilkan gabah.
Bagi Maman, pengalaman ini juga menjadi ruang untuk terus belajar.
Perbedaan kondisi lingkungan, pilihan varietas, dan cara perawatan memberikan pelajaran yang dapat diamati dari waktu ke waktu.
“Tidak harus menunggu punya lahan luas untuk mulai bertani. Manfaatkan saja ruang yang ada. Kita bisa mencoba dari beberapa galon, merawatnya dengan tekun, lalu belajar dari hasilnya,” ungkap Maman.