Friday, 30 October 2026


Bayar di Lapangan, Petani Lebih Pilih Jual Gabah ke Bulog

30 Oct 2026, 07:18 WIBEditor : Yulianto

Tim Jemput Pangan Bulog terjun di Kendal

TABLOIDSINARTANI.COM, Kendal--Kepastian harga dan kemudahan pembayaran langsung di lapangan menjadi daya tarik petani menjual gabah ke Bulog. Dengan harga gabah any quality Rp 6.500/kg, petani tidak perlu repot lagi menjual ke tengkulak yang kadang harganya ditekan. 

Wakil Pemimpin Cabang Perum BULOG Semarang, Kurnia Pradipta mengatakan, mekanisme tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung penyerapan. BULOG memberikan pilihan pembayaran secara tunai maupun transfer sesuai kesepakatan dengan petani. 

“Pembayaran dapat dilakukan pada hari yang sama atau hari berikutnya, bergantung pada waktu panen dan penyelesaian administrasi,” kata Kurnia saat kunjungan wartawan ke Kendal, Kamis (29/10). 

Untuk pembelian GKP di tingkat petani, BULOG mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram any quality dengan kondisi GKP cukup usia panen sesuai ketentuan pemerintah. 

Kebijakan ini menjadi bentuk dukungan untuk memberikan kepastian harga dan menjaga kepercayaan petani terhadap mekanisme penyerapan pemerintah. “Meski harga gabah di pasaran kini mencapai Rp 7.000/kg, tapi dengan kemudahan pembayaran, bahkan cash di lapangan membuat petani lebih tertarik menjual ke Bulog,” ujarnya. 

Dalam pelaksanaan penyerapan, kata Kurnia, Bulog membentuk Tim Jemput Gabah. Untuk di Kabupaten Kendal, Tim BULOG tersebut bergerak berdasarkan informasi potensi panen. 

Setelah menerima informasi tersebut, petugas BULOG mendatangi lokasi dengan armada pengangkut yang disesuaikan dengan perkiraan volume gabah. Petugas kemudian melakukan pemeriksaan kondisi gabah dan penimbangan untuk memastikan jumlah pembelian.

“Dengan dukungan petugas pemeriksa kualitas BULOG agar proses berlangsung tertib, transparan, dan sesuai prosedur,” katanya. 

Dalam pemeriksaan, ada dua kualitas yang dilihat yakni kadar air dan butir hampa. Saat pemeriksaan gabah petani di Kendal, kadar airnya mencapai 29 persen. 

Jika sudah melewati masa panen raya, Kurnia mengungkapkan, biasanya panen tidak berlangsung serentak. Karena itu, informasi dari PPL dan Babinsa sangat membantu kami mengetahui titik-titik yang masih panen.

“Kami tetap hadir melakukan penyerapan dengan harga sesuai ketentuan pemerintah dan memberikan kemudahan pembayaran kepada petani," ujar Kurnia.

Setelah proses pembelian selesai, gabah diangkut menuju Sentra Penggilingan Padi (SPP) BULOG Kendal atau Mitra Pengolahan GKP untuk menjalani proses lanjutan pengeringan menjadi Gabah Kering Giling (GKG), sebelum diolah menjadi beras. Beras hasil pengolahan selanjutnya disimpan di gudang BULOG sebagai bagian dari pengelolaan CBP. 

Rangkaian proses ini menunjukkan bahwa keberhasilan penyerapan tidak hanya bergantung pada kegiatan pembelian di sawah. Namun juga didukung kesiapan petugas, sarana pengangkutan, fasilitas pengolahan, dan pergudangan yang terintegrasi.

Perlu diketahui, Perum BULOG berhasil melampaui target penyerapan gabah dan beras dalam negeri sebesar 4 juta ton setara beras pada tahun 2026. Hingga 28 Oktober 2026, realisasi penyerapan nasional mencapai 4.25 juta ton setara beras atau 106 persen dari target. 

Pencapaian ini merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, mulai dari petani dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Tim Jemput Pangan BULOG, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Bintara Pembina Desa (Babinsa), hingga dinas pertanian setempat yang bersinergi mengawal penyerapan hasil panen di berbagai wilayah Indonesia.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018