Data produksi padi
TABLOIDSINARTANIN.COM, Jakarta---Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan akurasi, kecepatan dan kualitas data pertanian melalui aplikasi Pengutan Data Pangan Strategis (PDPS). Kementerian Pertanian juga telah memperkenalkan Sistem Monitoring Pertaniana Padi (Simotandi) guna memperbaiki metode perhitungan area luas tanam dan panen.
Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi sudah meminta agar dibentuk tim untuk melacak keberadaan lahan sawah dan disesuaikan dengan data BPN (Badan Pertanahan Nasional) yang telah ada. Tujuannya agar selisihnya tidak banyak atau agar lahan sawah yang ada semua terdata dalam BPN. “Ada sistem aplikasi ARcGIS yang dapat memetakan pertanaman yang belum terdata di Kerangka Sampling Area,” ungkapnya.
Suwandi mengakui, perlunya meningkatkan akurasi dan kecepatan serta kualitas pelaporan data luas tambah tanam oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. Bahkan sejak Januari 2019, Kementerian Pertanian sudah membuat aplikasi, namanya Penguatan Data Pangan Strategis (PDPS). Sementara itu untuk peningkatan kualitas data, diperkenalkan aplikasi Collector for ArcGIS. “Tinggal manfaatkan fasilitas handphone android, langkahnya mudah, dan hasilnya pencatatan data standing crop akan lebih akurat dan valid,” ujarnya
Sementara itu Efi Respati dari Pusat Data dan Sistem Informasi (Pusdatin) Kementan, menjelaskan, Kementan terus melakukan penguatan data pangan. Dengan membangun sistem Pengembangan Data Pangan Strategis (PDPS) dapat mempercepat pelaporan data, memudahkan akses data dan memperkuat korodinasi data antara pusat dan daerah. “Dengan adanya sistem ini bisa mempercepat aliran data secara periodik setiap bulan agar lebih akurat, kuat dan mudah diakses. Kami akan terus melakukan evaluasi agar tidak ada selisih perbedaan data yang signifikan antara data upsus dan data PDPS,” tutur Efi.
Simotandi
Kementerian Pertanian juga telah memperkenalkan Sistem Monitoring Pertaniana Padi (Simotandi) guna memperbaiki metode perhitungan area luas tanam dan panen. Selama ini penghitungan luas tanam dan panen masih menggunakan metode konvensional (eye estimate). Namun dengan Simotandi menggunakan metode scientific yang memanfaatkan data citra satelit Landsat 8 dengan resolusi spasial 30 m x 30 m dan temporal 16 harian.
Pemanfaatan citra Landsat 8 ini untuk memantau (monitoring) data standing crop tanaman padi pada beberapa fase pertanaman padi (fase penggenangan, tanam, vegetative-1, vegetative-2, maksimum vegetatif, generative-1, generative-2, panen dan bera).
Hasil Simotandi disajikan dalam peta sebaran dan data tabular luas fase pertanaman padi yang dapat digunakan sebagai alat bantu praktis bagi petugas lapangan untuk melakukan verifikasi data luas tanam dan panen sesuai dengan kondisi faktual lapangan.
Kelebihan Simotandi adalah data relatif lebih akurat, minimalisir personal error, transparan dan dapat di validasi oleh semua pihak. Data hasil Simotandi telah di uji validitas dan kemantapan sistemnya dengan melakukan groundcek di beberapa daerah oleh Tim Pusdatin Kementan dan LAPAN.
Beberapa manfaat Simotandi diantara, perencanaan percepatan tanam padi baik level nasional, provinsi, kabupaten, kecamatan maupun blok sawah. Selain itu dapat mendeteksi sebaran sawah yang belum dimanfaatkan, luas potensi tanam, kebutuhan air, alsintan, kebutuhan agroinput, prediksi panen, dan antisipasi pasokan, stok, harga dan lainnya. Dilengkap dengan prakiraan curah hujan 6 harian dan 1-3 bulanan, sehingga Simotandi bermanfaat untuk perencanaan usahatani.