Friday, 27 November 2020


Cerita Manis Petani Bertahan Kala Pandemi COVID 19

28 Sep 2020, 06:33 WIBEditor : Gesha

Petani tetap semangat bertani kala pandemi | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Menarik untuk berbagi berbagai situasi yang dialami petani dewasa ini, lebih-lebih di saat pandemi covid-19. Lebih menarik lagi jika yang dibagi adalah cerita manis nyata petani yang survive, bisa berusaha tani dengan tenang dan nyaman, bisa panen dengan hasil bagus dan harga jual juga bagus adalah serangkaian keadaan faktual yang tidak sulit kita jumpai di banyak tempat.

Satu titik yang bisa kita hampiri adalah panen pisang ambon di lahan milik Suladi, ketua Gapoktan Mandiri di desa Sukowilangun Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang.

Saat ditanya bagaimana perasaannya saat memanen, puas dan senang karena sekarang harganya bagus sekali. “Alhamdulillah, senang dan puas. Saya jual langsung karena pembeli datang, ini panen awal dan selanjutnya akan panen lagi karena menunggu sebagian belum layak panen. Per tandan harga 100-150 ribu. Berbeda kalau kita simpan dulu dan dimatangkan sendiri, harga bisa lebih tinggi namun waktunya lebih lama. Ke depan sebagian kita matangkan sendiri dan kita jual di warung sendiri," pungkas Suladi.

Pisang adalah buah meja makan. Praktis dihidangkan di meja makan dan relatif disukai berbagai kalangan. Harganya cukup stabil, dan bisa dijual dalam keadaan belum matang hingga sudah matang.

Di Malang, Jawa Timur, kebanyakan tanamannya dibudidayakan secara organik atau semi organik, sehingga cukup aman dikonsumsi. Bisa dibayangkan kalau setiap keluarga bisa memiliki tanaman pisang sendiri dan memanen sendiri, tentu ini sangat bagus terlebih di saat pandemi covid-19 yang dianjurkan lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayur. 

Pada titik yang lain bisa dijumpai semangat Rokib, ketua Kelompok Tani ‘Tani Makmur II’ masih di Desa Sukowilangun Kabupaten Malang. Melihat peluang porang yang makin diminati banyak orang, Rokib bersiap mengembangkan porang menjadi komoditas baru di kelompok taninya.

“Kita siapkan polibag dan semua pendukungnya termasuk media tanam dan lahan. Pupuk organik juga melimpah dan saat awal musim hujan kita bismillah akan tanam porang,” tutup Rokib sambil menunjukkan benih porang.

Porang dalam beberapa waktu terakhir ini seperti mengiringi pemberitaan survivenya sektor pertanian. Komoditas ini ternyata memiliki keunggulan pada sifatnya yang multi manfaat.

Porang dapat diolah menjadi tepung dan sangat diminati berbagai industri, termasuk industri farmasi. Porang juga sudah menjadi komoditas ekspor pertanian ke berbagai mancanegara. Ini seperti membuktikan bahwa sektor pertanian tidak pernah kehilangan momentum untuk survive termasuk di saat pandemi seperti sekarang ini.

Gerak langkah petani ini bisa jadi menjadi inspirasi banyak orang, dimana optimisme, kerja keras, gotong-royong dan keyakinan adalah energi yang membuat para petani bertahan. 

BPP Kalipare pun makin semangat dengan kostratani sekarang ini. Bahkan bisa dikompilasi bahwa sektor perkebunan lebih khusus tebu juga sangat memuaskan. Petani tebu sangat menikmati manisnya panen tebu sekarang ini. Pisang, porang, jagung, padi dan tebu bisa menjadi komoditas strategis ke depan di BPP Kalipare.

Reporter : Kiswanto
Sumber : Penyuluh di Kabupaten Malang
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018