Friday, 16 April 2021


Model Penyuluhan Partisipatif yang Melembaga di Lokasi Food Estate

04 Apr 2021, 08:11 WIBEditor : Ahmad Soim

Menko Marves Luhun B Pandjaitan di Food Estate Humbahas panen kentang | Sumber Foto:Dok Humas Kementan

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Prof Sumardjo memodelkan penyuluhan pertanian di food estate dengan model penyuluhan partisipatif yang melembaga.

Output yang dikehendaki dalam penyuluhan di food estate ini adalah pelaku utama yang mandiri, sistem agribisnis yang simetris, saling teringetrasi, saling memperkuat, tidak saling memakan. Kalau industri dan jasa mendukung pertanian maka simetri sistem agribisnis akan terwujud. Dengan penyuluhan partisipatif yang melembaga ini diharapkan terwujud di food estate.

Output lain yang diharapkan dalam penyuluhan disini adalah produktif dan inovatif, kelembagaan petani mandiri, interdependen, petani sejahtera, petani bermartabat. Petani bermartabat itu Ia tahu mewujudkan apa, dan tahu bagaimana caranya.

Patut diwaspadainya lanjutnya adanya output yang tidak dikehendaki  yaitu kesenjangan inovasi terjadi di antara petani, misalnya sistem agribisnis yang asimtris, adanya konflik, persaingan sosial, dalam pemasaran. Ada inovatif, dan ada yang tidak. Ini bisa dikelola, diperkecil, kalau bisa dihilangkan dengan manajemen BPP Kostratani. BPP kostrani yang kita disain selama ini sudah bagus.

Untuk mengendalikan input yang terkendali, sarana dan prasanara BPP harus memadai, figure penyuluh, inovatif, teknologi tepat guna, semua ini bisa dikendalikan BPP. Kalau food estatenya itu ada penempatan SDM seperti transmigrasi lokal, maka  pelaku utama bisa dikendalikan. Kalau food estatenya itu perlu konsolidasi lahan, maka pelaku utama perlu didesain dengan mencetak local champion.

BACA JUGA:

Ada peran penyuluh pertanian apparat sipil negara (ASN), penyuluh swasdaya dan penyuluh swasta. Penyuluh ASN, harus mensupervisi dan kualitas penyulluhnya harus professional.  Perguruan tinggi berfungsi menyediakan pendidikan profesi maupun vokasi. Rekruitmen penyuluh didasain ke arah situ khususnya di food estae ini.

Disain sistem penyuluhan di tingakt BPP, model penyuluhan yang cocok adalah partisipatif dan melembaga. Teknologi informasi dan komunikasi harus aktual dan faktual serta solutif untuk keberlanjutan, sehingga akses cyber itu betul betul bisa dipilih. Cyber ekstenstion itu paradigmanya adalah kavetaria informasi. Apa yang dicari ada disitu. Yang memilih  petani, pelaku utama atau pelaku usahanya. Yang menyediakan pemerintah atau pihak pihak perguruan tinggi atau yang terkait.

Tentang anggaran untuk food estate, adalah termasuk input yang tidak terkendali yakni bagaimana komitmen pusat tidak bisa dikendalikan BPP. Juga komitmen daerah pun tidak bisa dikendalikan oleh BPP. Ini dikendalikan oleh regulasi yang di atas. Potensi sumberdaya local juga tidak terkendali, tapi given, kita harus gunakan itu. Tidak mimpi yang tidak ada.  Lokalita itu seperti apa, pasarnya seperti apa, itu yang kita kelola.

Demikian juga pasar domestik dan global pun tidak bisa dikendalikan BPP, tapi itu harus diterima.   Semua itu akan dipengaruhi regulasi yang tepat berkait dengan penyuluhan dan pembangunan pertanian.

Salah satu aksioma penyuluhan adalah jangan memproduksi sesuatu yang tidak ada pasarnya. Kalau itu terjadi nggak laku, harga jatuh dan lain sebagainya.

Penguatan  lokal champion dan forum media dilakukan. Dalam pemasaran perlu ada orang yang berpihak petani, tidak memakan petani, dia memasarkan produk petani dengan baik. Mendapat informasi, bisa secara sosial memberdayakan petani sesuai kebutuhan pasar. Forum media menjadi kerjasama usaha, ada whatapps group ada group group vitual yang memperkuat posisi tawar dan simeteris agribisnis.

Sumberdaya insani yang ingin diwujudkan ada 4 tingkatan. Ada yang tidak berdaya, kurang  berdaya, berdaya dan mandiri. Wujudkan sinergi komunikasi dan penyuluhan dalam rekayasa sosial partisipatif pemberdayaan masyarakat pertanian sehingga sumberdayanya bisa diarahkan menjadi berdaya dan mandiri. Optimalkan 6 peran BPP, yakni: 1) Pusat Data dan Informas, 2) Konsultasi Agribisnis, 3) Pusat Pembelajaran, 4) Pusat pengembangan kemitraan, 5) Koordinasi program pembangunan pertanian, 6) Penumbuhkembangan kelembagaan petani.

Dukungan dari perguruan tinggi dalam penyuluhan ini juga perlu dilembagakan. Ada Kuliah Kerja Nyata (KKN) terpadu, praktek lapang. Mahasiswa yang praktek disitu akan dinilai SKS-nya. Ada wadahnya sekarang. Demikian juga riset dan pengabdian masyarakat, ada riset, edukasi, dan subsitansi. Ini ada link-nya.

Dalam food estate perlu dsain mekanisasi pertanian, menggunakan kecerdasan buatan dengan teknologi internet, menerapkan modern farming dan sebagainya. “Ini pening untuk menarik genrasi muda, selain menggarap masyarakat yang sudah ada,” tambah Prof Sumardjo. 

--+ 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018