Wednesday, 14 April 2021


Kisah Jatuh Bangun Suami Istri di Aceh Bangun Usaha Ternak

03 Apr 2021, 17:04 WIBEditor : Ahmad Soim

Muhammad Jafar (46) dan Evi Bahraini (41) di peternakan kambingnya bersama beberapa teman | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh – Muhammad Jafar (46) tidak bisa berjalan karena penyempitan pada syarafnya. Istrinya, Evi Bahraini (41) yang sudah 9 tahun jadi guru honorer, akhirnya meninggalkan pekerjaannya untuk bisa merawat suaminya dan berjuang bersama mengembangkan usaha peternakan.

Untuk mewujudkan impiannya, Muhammad Jafar (46) dan isterinya Evi Bahraini (41), selalu berusaha dan berdoa dengan yakin dan tulus ikhlas. Ia ingin memperoleh formula usaha yang tepat dan bermanfaat. Berbagai aral rintangan mereka lalui bersama.

Keseharian Bang Jafar, waktunya selalu dihabiskan di rumah.   Pernah ke Jogja untuk berobat sekaligus belajar tentang teknologi pakan ternak. Akhirnya membuahkan hasil, ia bisa beternak kambing secara intensif, gampang dilaksanakan dan lebih menguntungkan.

 "Saya rela meninggalkan pekerjaan dan memilih merawat suami sambil beternak kambing secara intensif", turur Evi memulai kisahnya. Evi, sarjana bahasa Inggris ini tetap rendah hati. Sejak menikah tahun 2005, mereka belum dikaruniai anak, untuk itu kami selalu memperbanyak sedekah. "Semoga Allah akan memberikan rezekinya bagi yang bertawaqal serta terus berusaha", ingatnya.

BACA JUGA:

Nacara Farm adalah nama yang mereka pilih untuk kegiatan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) di Gampong Baro Yaman , Mutiara, Pidie. Menurut Jafar, akibat Covid-19, berdampak pada sulitnya memperoleh bahan baku (limbah kulit kopi, ampas sagu, kulit coklat dan tanaman jagung) untuk pembuatan pakan ternak.

"Kami  beruntung dan bersyukur bisa melaksanakan pelatihan dan magang baik untuk mahasiswa, petani maupun masyarakat", kata Jafar.

Dia membuat sendiri dan memberikan nama khusus untuk Mol yang dibuatnya dengan nama Hormon Organik Ternak (HOT). Selama ini untuk masalah pakan kami olah sendiri, sedangkan pakan dari pabrik diberikan sebagai pembanding saja.

 Beberapa pejabat provinsi, termasuk isteri Gubernur Aceh, Dr. Dyah Erti Idawati pernah membawa program Rumoh Gizi. "Waktu itu beliau pun pernah minum langsung air susu kambing yang baru diperah", ungkapnya bangga.

Pada  tahun 2015, Balai pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh pernah juga melaksanakan kegiatan Temu Lapang, Teknologi budidaya Indegofera. "Kami mulai mendapat binaan dan pendampingan teknologi inovasi", jelasnya.

Jatuh Bangun

Evi pada tahun 2005-2010, pernah bekerja di NGO. Selesai kontrak dengan NGO tahun 2010, mulanya kami memelihara Ayam Siam dalam jumlah banyak. Rumahnya selalu ramai dikunjungi oleh para hobbies untuk sekedar melihat-lihat, bahkan ada yang menyewa serta membeli ayamnya dengan harga mahal untuk diadu.

Muncul dalam benak Evi, ini tidak mungkin dilanjutkan karena lebih banyak maksiat/mudharatnya ketimbang manfaatnya, maka diputuskanlah untuk tidak berternak ayam lagi. "Karena walaupun sudah saya jual dengan perjanjian dan dilarang untuk dilaga, namun masih saja terlihat mereka mengadu ayam tersebut", lirihnya.

 Pada akhir tahun 2001, pernah memelihara Puyuh di Jeulingke, Banda Aceh dan usahanya hancur semuanya akibat tsunami yang melanda Aceh waktu itu. Selanjutnya kami pulang ke kampung melanjutkan usaha dengan memelihara Puyuh sebanyak 9000 ekor. Namun ujian pun datang kembali, seluruh Puyuhnya mati akibat diserang wabah flu burung.

 Kemudian ia fokus untuk memelihara dan beternak kambing sejak tahun 2012, saat itulah sahabatnya dari NGO mendatanginya untuk memberikan hadiah atas keseriusannya berusaha. Alhamdulillah uang yang diterima dalam bentuk dolar Australia tersebut  dijadikan untuk menambah modal, membuat kandang dan membeli kambing lagi.

Di awal menjalani beternak kambing, pakan yang diberikan hanya hijauan. Pada sisi lain kambingnya tampak kurus, karena tidak cukup pakan dan asupan gizinya kurang "Saya membayar upah anak-anak kampung untuk potong rumput", ujar Evi yang fasih berbahasa Inggris.

Dalam mempelajari  teknologi, dirinya mencoba belajar lewat Internet dan beberapa chanel Youtube. "Tapi apa yang disajikan tidak pernah tuntas", gumamnya. Namun setelah belajar selama dua hari di Jogja tentang fermentasi jerami, gedebok pisang pakai ampas tahu. Sekarang kami sudah bisa membuat pakan ternak hasil racikan sendiri. 

Untuk memberi manfaat kepada masyarakat, pihaknya selalu terbuka dan menerima bagi yang  berminat belajar ataupun magang. "Kami menyediakan akomodasi gratis selama 1-3 bulan dengan program learning  by doing. Selesai magang bisa langsung bekerja" ujarnya. Materi pelatihan diajarkan mulai perawatan dan kesehatan ternak, pengolahan limbah ternak, manajemen pakan dan sanitasi lingkungan. 

Sementara ini, produk pupuk bokashi dan biourine untuk pengunjung akan diberikan secara gratis. Namun kalau pun ada yang mau menyumbang, cukup seikhlasnya saja melalui kotak amal yang disediakan.

Urusan Kamar Mandi dan Agribisnis?

 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018