Friday, 16 April 2021


Kisah Jatuh Bangun Suami Istri di Aceh Bangun Usaha Ternak

03 Apr 2021, 17:04 WIBEditor : Ahmad Soim

Muhammad Jafar (46) dan Evi Bahraini (41) di peternakan kambingnya bersama beberapa teman | Sumber Foto:Abda

Urusan Kamar Mandi dan Agribisnis

"Kalau urusan luar, biasa dibantu orang lain, namun untuk kamar mandi harus saya yang memapahnya", sambung Evi.

Penyempitan syaraf dan tulang belakang Bang Jafar, mulai parah sejak tiga tahun lalu, ia tidak bisa berjalan sama sekali. Walau sudah berusaha berulangkali berobat ke Penang.

Ide untuk memelihara kambing atas kesepakatan bersama, dan saya selalu mendukung. "Terakhir saya berhenti mengajar di SMA Negeri unggul Sigli hanya karena ingin mengurus suami dengan penuh cinta dan kasih sayang". kenangnya haru.

Tanpa disadari dari pelopak mata Jafar, terlihat airmata menetes dipipinya.Untuk menunjang kebutuhan ekonomi keluarga, mereka menjual anak kambing yang telah berumur enam bulan (lepas sapih) dengan harga Rp.3 juta.

Di dalam kandangnya terdapat beberapa jenis kambing, ada Boerka, PE, Nubian dan lainnya. Sementara untuk mentransfer teknologi agar mudah diadopsi masyarakat, pihaknya juga menjalin kerjasama  melalui kerja praktek baik dengan SMK Ulim, SMKPPN Saree maupun dengan Universitas Jabal Ghafur.

Jika ada yang memesan Bokashi dan Biourine pihaknya dengan senang hati akan mengirimkan ke alamat langsung, sedangkan Pestisida alami belum diproduksi secara masal. "Kami belum menjualnya masih dalam tahap promosi saja", ucapnya.

Yang menjadikan pihaknya mulai mandiri dan maju seperti sekarang ini, adalah berkat dukungan peneliti dan penyuluh  BPTP Aceh sejak 2015. Pihak BPTP juga yang memperkenalkan ke Loka Penelitian Kambing Potong (Lolitka) Sei Putih, Galang Provinsi Sumatera Utara.

Bantuan dari Lolitka yang diterimanya yaitu dua ekor pejantan. Bantuan tersebut digunakan untuk pengembangbiakan, setiap 10 ekor betina dibutuhkan seekor pejantan.

Kandangnya pun  disiapkan berdasarkan tanda tanda birahi kluster baik yang mau kawin dan kandang indukan.

Untuk memproduksi pakan kami belum memiliki mesin pelet, dari Dinas Kabupaten pernah memberi bantuan mesin Shredder atau pencacah pelepah kelapa sawit.

Setiap tahunnya tidak kurang 20 orang bahkan ada dari berbagai daerah sudah pernah magang di Nacara Farm.

Menurut Samsul, hasil produknya sudah teruji, pernah dicoba untuk tanaman Padi yang hampir gagal panen. Dengan pemberian pupuk organik (biourine) dapat menyehatkan kembali. "Saya pernah menggunakan biourine Nacara Farm, hasilnya bagus dan sangat memuaskan", ungkapnya.

Dia berharap dengan memberi sedekah dan berbagi kepada orang yang membutuhkan dapat menyembuhkan suaminya. Dari ternak kambing tersebut dengan masa pemeliharaan selama 3 bulan bisa mendapat keuntungan Rp.500.000 per ekor. Kalau menjelang Idul Adha, pesanan warga sekitar mencapai 50 ekor. jika lebih dari itu pihaknya belum sanggup untuk memenuhinya.

--+

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018