
Literasi informasi dan Layanan Perpustakaan Digital bagi Petani dan Penyuluh
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) terus bertransformasi di era pandemi ini dengan terus memperluas layanan Perpustakaan Digital dan Literasi Informasi bagi Penyuluh.
"Kita transformasi Perpustakaan dari konvensional menjadi digital. Momentnya sangat pas saat pandemi ini, " ungkap Kepala PUSTAKA Kementan, Abdul Basith kepada tabloidsinartani.com, Selasa (14/09).
Abdul Basith mengingatkan bahwa Perpustakaan bukan sebagai mercusuar tetapi bagian unit Layanan masyarakat tani. "Sehingga masyarakat bisa mengambil manfaat dari keberadaan Perpustakaan. Bukan sekedar pengkoleksi buku, " tegasnya.

Basith menyebut layanan digital yang bisa diakses masyarakat antara lain melalui iTani yang menjadi aplikasi perpustakaan digital berbasis media sosial yang dilengkapi dengan eReader untuk membaca ebook.
iTani menyediakan ebook, ejurnal, dan hasil penelitian Kementerian Pertanian secara gratis. Dengan beragam fitur, media sosial masyarakat dapat terhubung dan berinteraksi dengan pengguna yang lain. Untuk memberikan rekomendasi buku yang sedang dibaca, menyampaikan ulasan buku serta mendapatkan teman baru. "Membaca ebook di iTani jadi lebih menyenangkan karena Anda dapat membaca ebook secara online maupun offline, " tuturnya.
Download Aplikasi iTani disini Aplikasi iTani

Untuk memperluas akses digital bagi masyarakat tani di daerah, Basith mengaku membutuhkan dukungan dan peran aktif penyuluh memanfaatkan layanan digital tersebut.
Selain layanan berupa Perpustakaan Digital, PUSTAKA turut serta berupaya meningkatkan kompetensi penyuluh mengenai literasi Informasi.
Seperti diketahui, Literasi Informasi bagi penyuluh sebagai sebagai jembatan ilmu pengetahuan bagi petani, sebab penyuluh mempunyai peran penting bagi petani dalam pendampingan pengelolaan usaha taninya.

Selama ini penyuluh mendapatkan transfer ilmu pengetahuan bisa melalui peneliti pertanian secara langsung. Akan tetapi dengan keterbatasan waktu tatap muka antara peneliti dan penyuluh mengakibatkan lambannya penyampaian informasi ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian terbaru.
Melalui program literasi informasi ini penyuluh diberikan pembekalan untuk mengetahui kebutuhan informasi, menentukan, mengevaluasi serta bagaimana menggunakan informasi tersebut dalam kegiatan penyuluhan.