
Perhiptani Jateng Gelar Seminar Mitigasi Perubahan Iklim untuk Ketahanan Pangan Nasional
Pengaruh Terhadap Pertanian
Sub coordinator Padi Distanbun Jateng, Haryatmo SP mengatakan perubahan iklim yang terjadi secara garis besar berpengaruh terhadap 3 faktor, yaitu lingkungan yang memberikan pengaruh pada timbulnya penyakit pada tumbuhan.
Temperatur dengan kelembaban udara relatif dan foroperiodisitas yang berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga.
“Faktor kedua yaitu Inang, berpengaruh terhadap timbulnya penyakit pada tumbuhan, yaitu berupa jenis tanaman inang, kerentanan tanaman, bentuk dan tingkat pertumbuhan, struktur dan kerapatan populasi, kesehatan tanaman, dan ketahanan inang,” ujar Haryanto yang mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Prov.Jateng
Haryanto menambahkan Inang dalam keadaan rentan, patogen bersifat virulen (daya infeksi tinggi) dan jumlah yang cukup, serta lingkungan yang mendukung.Faktor-faktor iklim juga berpengaruh terhadap ketahanan tanaman inang.
Dan factor ketiga adalah Patogen yang merupakan organisme hidup dan dapat menimbulkan penyakit pada tumbuhan. Organisme-organisme tersebut dapat berupa fungi, bakteri, virus, serangga, riketsia, dan lainnya.

Pengaruh faktor iklim terhadap patogen bisa terhadap siklus hidup patogen, virulensi (daya infeksi), penularan, dan reproduksi patogen. Pengaruh perubahan iklim akan sangat spesifik untuk masing masing penyakit.
Pendampingan Petani
Pada kesempatan yang sama Ketua DPW Perhiptani Jawa Tengah, Warsana,SP,MSi menyampaikan pentingnya peran Penyuluh Pertanian dalam mendampingi petani dalam menyikapi perubahan iklim yang terjadi dalam konteks Swa sembada Pangan.
Dijelaskannya bahwa peran penyuluh pertanian sebagai advokasi dan memberdayakan petani dapat dilakukan dengan berbagai Langkah.
Mulai dari pengorganisasian komunitas. Dalam hal ini penyuluh mampu mendorong masyarakat untuk mengambil keputusan atas masalah di sekitarnya. Meningkatkan kemampuan masyarakat petani dalam menemukan sumberdaya. Dan mampu membawa hasil komunikasi dari tingkat komunitas, antar komunitas, antar desa, dan seterusnya
Pengembangan Jaringan Kerjasama yaitu dengan menjalin komunikasi untuk melakukan kerjasama dengan pihak lain (individu, kelompok, dan atau organisasi) agar bersama-sama dan saling mendukung dalam membangun kawasan produktif pertanian
“Pengembangan Kapasitas yaitu dengan ,eningkatkan kemampuan masyarakat untuk mencapai kerja produktif. Mempunyai pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk membangun dan mampu berkomunikasi dalam melakukan perbaikan organisasi dan manajemen, keuangan dan budaya organisasi,” ucapnya.
Selain itu ditambahkan Warsana, Komunikasi, Informasi, Edukasi (Kie) juga merupakan Langkah yang bisa dilakukan. Yang meliputi mampu mengelola informasi daxn menyebarkannya untuk mendukung pember-dayaan.
Mendokumentasikan informasi agar tersedia bagi masyarakat yang memer-lukannya dan Mampu manfaatkan berbagai media komunikasi.