
Krisis pangan global makin nyata, tapi Indonesia tak boleh tinggal diam! Prof. Herry Suhardiyanto beberkan strategi jitu, dan Polbangtan Bogor disebut jadi kunci utama menghadapi badai pangan!
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Krisis pangan global makin nyata, tapi Indonesia tak boleh tinggal diam! Prof. Herry Suhardiyanto beberkan strategi jitu, dan Polbangtan Bogor disebut jadi kunci utama menghadapi badai pangan!
Krisis pangan bukan lagi bayang-bayang di kejauhan. Ancaman itu kini nyata, mengetuk pintu negara-negara, termasuk Indonesia. Dalam momen Dies Natalis ke-7 Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor yang digelar Rabu (25/6), muncul satu nama yang menyuarakan urgensi peran pendidikan vokasi pertanian dalam menghadapinya Prof. Herry Suhardiyanto Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University dan mantan Rektor IPB 2007–2017.
Dalam orasi ilmiah bertajuk "Strategi Pengembangan Polbangtan untuk Mendukung Agenda Nasional Swasembada Pangan Berkelanjutan”, Prof. Herry membuka paparannya dengan data yang mencengangkan.
Menurut FAO, lebih dari 725 juta penduduk dunia mengalami kekurangan gizi pada tahun 2023, dan lebih dari separuhnya berada di Asia.
Ironisnya, kawasan ini hanya memiliki 20 persen lahan pertanian dunia, tapi harus memberi makan hampir 50 persen populasi global. Indonesia termasuk di dalamnya, dengan beban berat di pundak.
Situasi di dalam negeri pun tak kalah kompleks. Prof. Herry menyoroti stagnasi produktivitas pertanian, tingginya kehilangan hasil pasca panen, hingga penyusutan lahan akibat alih fungsi yang terus berlanjut.
Pada 2023, produksi beras nasional tercatat sebesar 30,90 juta ton, mengalami sedikit penurunan dari tahun sebelumnya.
Sementara itu, produksi jagung turun signifikan sebesar 12,5 persen menjadi 14,46 juta ton.
Semua ini menjadi alarm yang tak bisa lagi diabaikan. Menurut Herry, tak cukup hanya bertahan Indonesia harus bertransformasi.
Ia menekankan pentingnya terobosan teknologi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim ekstrem.
Namun, teknologi tak akan berjalan tanpa kelembagaan petani yang kuat dan dukungan sumber daya manusia yang siap pakai.
Di titik inilah peran pendidikan vokasi seperti Polbangtan menjadi sangat strategis.
Polbangtan, menurutnya, punya tanggung jawab mencetak generasi muda pertanian yang tidak hanya cakap secara teknis, tapi juga memiliki jiwa kewirausahaan dan kesiapan menghadapi disrupsi teknologi.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan apresiasinya terhadap kiprah Polbangtan Bogor selama tujuh tahun terakhir.
Ia menyebut Polbangtan sebagai pabrik SDM pertanian modern yang dibutuhkan bangsa untuk mencapai kemandirian pangan.
Amran menaruh harapan besar agar lulusan Polbangtan bisa menjadi motor penggerak perubahan di tingkat akar rumput—bukan sekadar jadi penonton dalam arus transformasi sektor pertanian nasional.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa pendidikan vokasi seperti Polbangtan harus menjadi pusat unggulan yang menghasilkan lulusan dengan kompetensi global, namun tetap relevan dengan kebutuhan lokal petani.
Ia melihat Polbangtan sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan dan realitas di lapangan, antara teknologi dan tradisi, antara inovasi dan keberlanjutan.
Perayaan Dies Natalis ke-7 Polbangtan Bogor bukan hanya diisi dengan orasi ilmiah, tetapi juga pameran inovasi mahasiswa, seminar nasional, serta kegiatan pengabdian masyarakat yang melibatkan petani binaan.
Mahasiswa menunjukkan berbagai teknologi tepat guna dan gagasan kreatif untuk menyelesaikan persoalan pertanian, sekaligus membuktikan bahwa pendidikan vokasi tidak berhenti di ruang kelas, tapi tumbuh di tengah masyarakat.
Melalui semangat ini, Polbangtan Bogor kembali menegaskan posisinya sebagai garda terdepan pendidikan vokasi pertanian di Indonesia.
Di tengah pusaran tantangan global, Polbangtan hadir membawa solusi bukan hanya lewat teori, tapi lewat aksi nyata yang menjawab kebutuhan zaman.



