
Anak muda Jawa Barat buktikan, bertani bisa bikin cuan, mandiri, dan tembus pasar dunia lewat Program YESS dari Kementerian Pertanian.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Anak muda Jawa Barat buktikan, bertani bisa bikin cuan, mandiri, dan tembus pasar dunia lewat Program YESS dari Kementerian Pertanian.
Dari balik hamparan hijau ladang kopi Cianjur hingga aroma tajam rempah dari Tasikmalaya, angin segar sedang bertiup kencang di tanah Pasundan.
Bukan hanya musim panen yang tiba, tetapi juga hadirnya gelombang baru anak-anak muda yang berani bertani dengan cara berbeda lebih cerdas, lebih inovatif, dan tentu saja, lebih menguntungkan.
Adalah Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) yang kini menjelma menjadi suluh perubahan di sektor pertanian.
Melalui Provincial Programme Implementation Unit (PPIU) Jawa Barat, program ini sukses mencetak ribuan petani milenial tangguh, melek teknologi, dan sanggup menembus pasar global.
Hingga pertengahan 2025, program YESS di Jawa Barat telah menyentuh lebih dari 67.000 pemuda yang sebelumnya nyaris putus asa dengan masa depan pertanian. Tak hanya dilatih, mereka juga dihubungkan dengan modal, pasar, bahkan peluang ekspor.
Bayangkan, dari 929 penerima hibah individu, terbentuk 23 klaster wirausaha pertanian yang menghasilkan omzet kolektif lebih dari Rp32 miliar per tahun. Tak hanya sekadar bertani, mereka kini jadi pebisnis andal.
Di lima kabupaten binaan YESS Bogor, Cianjur, Sukabumi, Subang, dan Tasikmalaya tantangan regenerasi petani begitu terasa.
Mayoritas petani berusia di atas 50 tahun, sementara generasi muda memilih minggat ke kota.
Tapi semua mulai berubah sejak program YESS hadir dengan pendekatan berbeda.
“Awalnya banyak yang ragu,” kata Aminudin, Project Manager YESS PPIU Jawa Barat.
“Tapi kami percaya, kalau dibimbing lewat pendidikan vokasi, pendampingan, dan inkubasi bisnis, anak muda bisa jatuh cinta lagi pada pertanian.”
Keraguan itu kini tumbang oleh bukti nyata. Anak muda tak lagi malu bertani, bahkan bangga memamerkan produk olahan mereka lewat media sosial, marketplace, hingga pameran internasional.
Tak berhenti di pelatihan, program YESS juga membuka akses ke pembiayaan usaha. Melalui sinergi dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan dana bergulir, anak muda bisa mengembangkan usaha mereka dari skala rumah tangga menjadi komersial.
Hingga 2025, lebih dari Rp132 miliar pendanaan telah dimanfaatkan oleh penerima manfaat program.
Sebagian dari mereka kini mengekspor kopi, rempah, dan hortikultura organik ke mancanegara. Ini bukan kisah dongeng. Ini nyata, dari desa-desa di Jawa Barat.
Petani milenial jebolan program YESS bukan hanya menanam dan memanen. Mereka membangun brand, mengelola keuangan, memakai teknologi smart farming, dan bahkan membentuk koperasi. Mereka mengubah lahan menjadi ladang cuan, dan sawah menjadi studio kreativitas.
Dengan masa program yang akan berakhir pada Desember 2025, PPIU Jawa Barat siap memastikan warisan YESS terus berdenyut melalui penguatan klaster bisnis dan integrasi ke kebijakan daerah.
“Kami percaya sinergi adalah kunci,” ujar Aminudin.
“Dari desa-desa di Jawa Barat, kita sedang menyiapkan generasi emas pertanian Indonesia," tambahnya
Menteri Pertanian Amran Sulaiman juga mengapresiasi dengan mengatakan bahwa Petani muda adalah warisan berharga untuk masa depan pangan kita.
“Mereka membuktikan bahwa bertani itu keren, menguntungkan, dan punya masa depan.” sebutnya
Pernyataan tersebut ditegaskan kembali oleh Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, yang menyebutkan bahwa program YESS tak sekadar dijalankan sebagai inisiatif pemerintah, melainkan telah dijadikan sebagai gerakan perubahan nyata di lapangan.
"Ekosistem agribisnis yang tangguh dan berkelanjutan kini sedang dibangun bersama anak-anak muda, agar pertanian tak lagi dipandang sebelah mata, tetapi dianggap sebagai jalan hidup yang menjanjikan,” ucapnya.



