
STIE Muhammadiyah Cilacap Ajarkan Petani Buat Pupuk Organik
TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap -- Upaya meningkatkan kemandirian petani dan mendorong pertanian ramah lingkungan terus dilakukan berbagai pihak. Salah satunya lewat kegiatan workshop pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) di Desa Mandala, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap.
Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat dari dosen dan peneliti STIE Muhammadiyah Cilacap, bekerja sama dengan Pemerintah Desa Mandala, yang melibatkan petani, wanita tani, pemuda karang taruna, pelajar hingga mahasiswa.
Workshop menghadirkan narasumber praktisi pupuk organik lokal, Mauludin, yang membagikan teknik dan formulasi pembuatan pupuk organik cair berbasis bahan alami, seperti kohe (kotoran hewan), molase, cairan EM4, hingga urine hewan ternak.
Ia juga mengenalkan pembuatan POC berbasis fotosintesis (photo synthetic battery), yang menjadi inovasi baru dalam dunia pupuk organik.
Salah satu praktik yang diajarkan adalah membuat POC dari kohe kambing. Prosesnya sederhana, sebuah drum 100 liter diisi 50 liter air, ditambah molase dan EM4 masing-masing 0,25 liter, lalu diaduk hingga merata.

Selanjutnya, 40 kg kohe kambing yang sudah dibungkus dimasukkan ke dalam drum.
“Tutup rapat drum selama dua minggu. Jika aromanya sudah seperti tape, berarti fermentasi berhasil. Cairan ini bisa langsung diaplikasikan ke tanaman dengan campuran air 1:25,” jelas Mauludin.
Wignyo Mudiharso, dosen pengabdi STIE Muhammadiyah Cilacap, menyampaikan bahwa pelatihan ini adalah awal dari visi besar menjadikan Desa Mandala sebagai desa rujukan dalam pertanian organik.
"Insya Allah, ke depan Desa Mandala bisa menjadi pusat pelatihan pertanian organik. Bahkan, pengajarnya bisa dari Pak Kades, Sekdes, hingga perangkat desa yang hari ini juga ikut belajar,” ungkapnya.

Wignyo menekankan pentingnya peran aktif masyarakat, dan berharap pelatihan ini bisa memantik semangat petani untuk mandiri dan lebih berdaya secara ekonomi.
Salah satu peserta, Kasirun, petani asal Desa Mandala, menyambut baik pelatihan ini.
Menurutnya, pelatihan ini sangat membantu, namun tetap membutuhkan pendampingan agar hasilnya maksimal di lapangan.
“Alhamdulillah, ilmunya sangat bermanfaat. Tapi kami tetap berharap ada pendampingan saat praktik dan pemupukan, agar hasilnya terlihat nyata,” ujarnya.
Komunitas Petani Talas Pratama yang juga hadir dalam pelatihan ini mengungkapkan bahwa beberapa anggotanya sudah mulai menggunakan pestisida organik dari fermentasi tembakau untuk mengendalikan hama ulat.

"Selama ini kami beli pupuk organik secara online. Kalau bisa buat sendiri, tentu lebih hemat dan aman. Harapan kami, petani Desa Mandala ke depan bisa mandiri sepenuhnya,” tambah salah satu anggota.
Kepala Desa Mandala, Yulis Samingan, mengatakan mayoritas warganya bekerja sebagai petani buah, seperti durian, alpukat, dan kelengkeng.
Karena itu, pelatihan ini sangat relevan dan diharapkan bisa mengubah cara bertani warga ke arah yang lebih ramah lingkungan.
"Di desa kami banyak peternak kambing dan sapi. Bahan untuk membuat pupuk organik melimpah. Tinggal kemauan dan ilmunya yang perlu terus ditingkatkan,” jelas Yulis.
Ia juga menyampaikan bahwa pupuk organik dapat membantu menyuburkan tanah, membuatnya lebih gembur, dan meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil panen.“
"Kami sangat berharap STIE Muhammadiyah Cilacap terus mendampingi. Mulai dari pembuatan pupuk, cara aplikasinya, hingga panen. Karena potensi pertanian di sini sangat besar,” pungkasnya.