
Penyuluh Pertanian Kabupaten Alor
TABLOIDSINARTANI.COM, Alor — Penyuluh pertanian di Kabupaten Alor, baik yang bertugas di Pulau Alor maupun Pulau Pantar, terus membuktikan peran strategis mereka dalam meningkatkan kapasitas petani.
Tak sekadar memberikan teori, para penyuluh hadir dengan aksi nyata melalui pengembangan lahan demonstrasi plot (demplot) di berbagai wilayah binaan.
Melalui lahan demplot, penyuluh dan petani dapat belajar secara langsung mengenai teknik budidaya, pemantauan pertumbuhan tanaman, hingga penanganan hama dan penyakit tanaman. Pendekatan ini dinilai efektif karena memberikan pengalaman nyata yang mudah dipahami oleh petani.
“Penyuluhan tidak cukup hanya dengan bicara. Petani perlu melihat langsung agar lebih mudah memahami dan menerapkannya,” ungkap Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pantar Tengah sekaligus Ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian Cabang Wilayah 4 Pantar, Darius Bler Sir, SST.

Prinsip ini sejalan dengan moto yang dipegang teguh oleh para penyuluh: apa yang didengar mudah dilupakan, tetapi apa yang dilihat akan selalu diingat.
Selain menjadi sarana edukasi, lahan demplot juga berfungsi sebagai tempat praktik bersama dalam mengatasi berbagai tantangan pertanian, seperti pengendalian gulma dan serangan hama.
Dengan demikian, penyuluh dapat memberikan solusi yang tepat dan aplikatif sesuai kondisi lapangan.
Setiap penyuluh diharapkan memiliki lahan demplot di desa binaan masing-masing atau wilayah kerja penyuluhan pertanian (WKPP).
Kehadiran demplot terbukti mampu mendorong kemajuan sektor pertanian serta memperkuat kepercayaan petani terhadap peran penyuluh.
Darius menegaskan pentingnya memberi contoh nyata kepada petani.
“Kita harus menjadi pelita bagi petani. Dari yang belum bisa menjadi bisa, dari cara tradisional menjadi lebih modern. Penyuluh harus menjadi contoh di lapangan,” ujarnya.

Semangat kolaborasi juga terlihat dengan keterlibatan mantan Rektor UNTRIB Kabupaten Alor, Alvons F. Gorang, S.Sos., M.M, yang menyatakan kesiapan untuk terjun langsung ke dunia pertanian bersama para penyuluh di Pantar Tengah.
Dalam rencana pengembangan ke depan, lahan seluas 10 hektare milik pribadi Alvons akan dijadikan demplot percontohan.
Lahan tersebut akan ditanami kopi sebagai komoditas utama, dengan sistem tumpangsari bersama jagung dan porang.
Langkah ini diharapkan mampu menjadi model pertanian terpadu yang dapat ditiru oleh petani lain di wilayah tersebut.
Selain itu, para penyuluh bersama tokoh masyarakat juga tengah merancang pembentukan kelompok tani dengan nama yang mencerminkan visi dan misi pembangunan pertanian ke depan.
Dengan berbagai inisiatif tersebut, Kecamatan Pantar Tengah diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan pertanian yang maju dan berkelanjutan di Kabupaten Alor.