
Kepala BRIN Prof Arif Satria berpesan agar lulusan Polbangtan-PEPI terus belajar, adaptif, dan memiliki pola pikir berorientasi pada masa depan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria berpesan kepada para lulusan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) untuk menjadi pembelajar sejati dengan pola pikir yang berorientasi pada masa depan.
Sebanyak 1.532 lulusan pendidikan vokasi pertanian dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) resmi dikukuhkan dalam Wisuda Nasional Tahun Akademik 2025/2026.
Wisuda Nasional Polbangtan dan PEPI 2026 menjadi momentum bagi Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) pertanian yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga mampu berkontribusi langsung dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan.
Rangkaian wisuda diawali dengan Sidang Senat Akademik yang dipimpin Sekretaris Jenderal Kementan Suwandi.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria turut hadir dan memberikan orasi ilmiah kepada para lulusan.
Di hadapan para wisudawan, Arif menyampaikan pesan agar lulusan Polbangtan dan PEPI tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar dan memasuki dunia kerja.
Ia meminta para lulusan menjadi pembelajar sejati dengan future mindset, mengingat perubahan teknologi, pengetahuan, dan kebutuhan dunia kerja berlangsung semakin cepat.
“Jadilah pembelajar sejati dengan future mindset,” ujar Arif.
Menurut Arif, terdapat tiga kata kunci yang saling berkaitan untuk menjadi pembelajar sejati, yakni mindset positif, learning agility, dan grit.
Arif menjelaskan, pembelajar sejati tidak hanya belajar di ruang kelas.
Pengetahuan bisa diperoleh dari siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.
Ia bahkan mengajak lulusan pendidikan vokasi pertanian menjadikan lingkungan pertanian sebagai ruang belajar.
“Jadikan sawah jadi sekolah, jadikan greenhouse jadi sekolah, jadikan kebun jadi sekolah, jadikan tubuh ini sebagai guru. Itu pembelajar sejati,” katanya.
Arif kemudian mengutip ungkapan yang sering dikaitkan dengan Albert Einstein, “Once you stop learning, you start dying.”
Menurut dia, berhenti belajar membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan. Kondisi itu yang ia sebut sebagai “mati secara sosial”.
“Kalau kita tidak belajar, kita tidak ingin beradaptasi terhadap perubahan. Karena perubahan cepat sekali. Itu yang terjadi, kita mati secara sosial,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa ilmu yang diperoleh lulusan selama menempuh pendidikan belum tentu seluruhnya tetap relevan dalam lima tahun mendatang.
Hal itu terjadi karena kecepatan perubahan di luar institusi pendidikan berlangsung sangat cepat.
Karena itu, lulusan harus memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat agar mampu menyesuaikan diri dengan kondisi baru.
“Kalau kita pembelajar, maka kondisi apa pun kita akan cepat beradaptasi karena kecepatan kita belajar,” kata Arif.
Growth Mindset
Arif juga menekankan pentingnya growth mindset.
Ia membedakan orang dengan fixed mindset dan growth mindset.
Orang dengan fixed mindset, menurutnya, cenderung menganggap kemampuan dirinya memiliki batas.
Sementara mereka yang memiliki growth mindset percaya bahwa kemampuan, pengetahuan, dan kebiasaan dapat terus berkembang melalui proses belajar dan latihan.
Ia mencontohkan mahasiswa yang memperoleh nilai 30 dalam suatu mata kuliah.
Nilai tersebut, kata Arif, tidak otomatis menjadi tanda bahwa kemampuan mahasiswa hanya sebatas itu.
Jika nilai rendah terjadi karena kurang belajar atau kurang latihan, maka hasil tersebut masih dapat diperbaiki.
“Karena itu saya akan perbaiki nilai itu dengan latihan, dengan belajar, dengan belajar, dengan belajar. Itu growth mindset,” jelasnya.
Selain mindset, lulusan juga membutuhkan grit. Arif menjelaskan grit sebagai kegigihan yang disertai passion atau kecintaan terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Menurutnya, orang yang memiliki grit tidak mudah berhenti ketika mengalami kegagalan.
Mereka terus melangkah secara konsisten hingga mencapai tujuan.
“Orang yang konsisten, orang grit itu naik tangga terus, pelan-pelan,” katanya.
Menuju Kesuksesan
Arif juga mengingatkan bahwa kemampuan akademik maupun teknis saja tidak cukup untuk menjamin seseorang mampu mempertahankan kesuksesan.
Ia mengambil contoh dari dunia bulu tangkis.
Seorang atlet bisa mencapai posisi juara karena memiliki kemampuan, tetapi prestasinya dapat menurun apabila tidak lagi berlatih, bekerja keras, dan menyusun strategi.
“Menuju puncak soal kemampuan, bertahan di puncak soal karakter,” tegasnya.
Karena itu, pendidikan di Polbangtan dan PEPI menurut Arif tidak hanya bertujuan membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan.
Para lulusan juga harus memiliki sikap kerja keras serta karakter yang kuat agar mampu menghadapi dinamika dunia kerja dan pembangunan pertanian.
Pesan berikutnya berkaitan dengan pentingnya future practice.
Arif meminta para lulusan berani memulai sesuatu yang baru dan tidak hanya terpaku pada praktik yang sudah ada.
Menurut dia, best practice tetap penting untuk dipelajari.
Namun, pembelajaran tersebut seharusnya digunakan sebagai pijakan untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik.
“Boleh belajar dari best practice. Tapi tujuannya bukan untuk meniru, tujuannya untuk melampaui,” ujarnya.
Arif menyebut best practice dapat membuat seseorang menjadi pengikut apabila hanya digunakan untuk meniru.
Sebaliknya, future practice dapat mendorong seseorang menjadi pemimpin karena berani menciptakan inovasi.
Ia menilai persaingan masa depan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan pengetahuan, tetapi juga imajinasi, kreativitas, dan kecepatan belajar.
“Siapa yang cepat belajar, siapa yang memiliki kemampuan imajinasi yang kuat, kreativitas yang kuat, dia yang akan menang di pertandingan,” katanya.
Arif juga memberikan pesan khusus mengenai karakter dan integritas.
Ia mengingatkan para lulusan agar tidak semata-mata menjadikan IQ maupun IPK sebagai ukuran kesuksesan.
Menurut Arif, terdapat banyak faktor lain yang berperan dalam menentukan keberhasilan seseorang.
Ia mengutip 10 Biggest Factors to Determine Success dari Thomas Stanley.
Faktor pertama adalah kejujuran kepada semua orang, disusul kedisiplinan dan kemampuan menjalin hubungan baik dengan orang lain.
“Yang pertama adalah kejujuran, integritas. Karena itu adalah fondasi bagi kita untuk bisa dipercaya,” ujar Arif.
Faktor berikutnya mencakup memiliki pasangan yang mendukung, bekerja lebih keras dibandingkan kebanyakan orang, mencintai pekerjaan atau bisnis, memiliki kualitas kepemimpinan, memiliki jiwa kompetitif, terorganisasi dengan baik, serta mampu menjual ide maupun produk.
Arif menekankan pentingnya kemampuan bergaul dan membangun hubungan dengan orang lain.
Menurut dia, seseorang bisa memiliki IQ tinggi, disiplin, dan IPK bagus, tetapi tetap akan menghadapi hambatan jika tidak mampu berinteraksi dengan orang lain secara baik.
Karena itu, ia mendorong para wisudawan menjadi pribadi yang menyenangkan, mampu bekerja sama, dan memiliki jejaring yang luas.
SDM Vokasi
Pesan Arif tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Wisuda Nasional Polbangtan dan PEPI Tahun Akademik 2025/2026 yang mengukuhkan 1.532 lulusan.
Kementan menempatkan pendidikan vokasi pertanian sebagai salah satu bagian penting dalam menyiapkan SDM yang kompeten untuk mendukung pembangunan sektor pertanian.
Para lulusan diharapkan tidak hanya menguasai teori dan keterampilan teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, menciptakan inovasi, serta memiliki karakter dan integritas.
Dengan bekal tersebut, lulusan Polbangtan dan PEPI diharapkan mampu mengambil peran dalam mendorong modernisasi pertanian dan memperkuat upaya Indonesia menuju swasembada pangan berkelanjutan.
Pesan Arif pun menjadi pengingat bahwa ijazah bukan akhir dari proses pendidikan. Justru setelah memasuki dunia kerja, kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, berinovasi, dan menjaga karakter akan menjadi bekal penting bagi para lulusan untuk menghadapi masa depan.