
Mentan Amran membuat kejutan di momen wisuda dengan memberikan hand traktor kepada wisudawan Polbangtan-PEPI yatim piatu sebagai modal memulai usaha tani.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Mentan Amran membuat kejutan di momen wisuda dengan memberikan hand traktor kepada wisudawan Polbangtan-PEPI yatim piatu sebagai modal memulai usaha tani.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa hand traktor kepada 13 wisudawan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) yang seluruhnya merupakan anak yatim piatu.
Bantuan tersebut diberikan dalam rangkaian Wisuda Nasional Polbangtan dan PEPI Tahun Akademik 2025/2026, Kamis (13/08).
Pemberian hand traktor menjadi bentuk perhatian pemerintah sekaligus upaya mendorong lulusan pendidikan vokasi pertanian agar mampu mengembangkan kemandirian ekonomi setelah menyelesaikan pendidikan.
Bagi para penerima, hand traktor tidak diposisikan sekadar sebagai hadiah atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan.
Alsintan tersebut dapat menjadi aset produktif yang digunakan untuk mengolah lahan pertanian sekaligus membuka peluang usaha jasa alat dan mesin pertanian di daerah masing-masing.
Amran menekankan agar bantuan pemerintah tidak berakhir sebagai aset yang hanya disimpan.
Alat yang diberikan harus dioperasikan dan dikelola secara produktif sehingga menghasilkan pendapatan bagi penerima serta memberikan manfaat bagi petani lain yang membutuhkan layanan mekanisasi.
Dorongan tersebut menjadi penting karena lulusan Polbangtan dan PEPI dipersiapkan untuk terjun langsung ke sektor pertanian.
Pendidikan vokasi yang mereka tempuh tidak hanya membekali kemampuan teknis, tetapi juga diharapkan melahirkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan pertanian modern.
Menurut Amran, generasi muda tidak semestinya hanya memikirkan pekerjaan setelah memperoleh ijazah.
Mereka perlu melihat sektor pertanian sebagai ruang untuk membangun usaha, mengembangkan inovasi, dan menciptakan lapangan pekerjaan.
“Jadilah Anda terbaik di bidang Anda. Mau berkebun jadi terbaik berkebun, mau beternak terbaik, mau menjadi engineer terbaik,” ujar Amran.
Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan arah bantuan alsintan yang diberikan pemerintah.
Mekanisasi tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk mempercepat pekerjaan petani, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem bisnis baru di pedesaan.
Lulusan yang memiliki kemampuan mengoperasikan dan mengelola alsintan dapat mengembangkan usaha jasa mekanisasi.
Hand traktor, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk membantu pengolahan lahan petani dengan sistem jasa.
Dengan model tersebut, satu unit alat dapat menghasilkan pendapatan bagi pengelolanya sekaligus membantu petani memperoleh layanan pengolahan lahan yang lebih efisien.
Pemberian alsintan kepada lulusan yang membutuhkan juga bukan kali pertama dilakukan Amran.
Sehari sebelumnya, Rabu (12/8/2026), Amran memberikan bantuan combine harvester kepada Hasan, seorang wisudawan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang merupakan anak yatim piatu.
Saat itu, Amran juga menempatkan alat pertanian tersebut sebagai modal usaha, bukan hadiah yang boleh berhenti sebagai kepemilikan pribadi.
Hasan diminta menggunakan combine harvester untuk memberikan jasa panen kepada petani sekaligus menghasilkan pendapatan.
“Saya ingin Hasan jadi pengusaha. Alat ini jangan dijual. Jadikan modal usaha, dipakai untuk membantu petani dan menghasilkan pendapatan,” kata Amran.
Amran bahkan meminta Hasan belajar mengoperasikan alat tersebut secara mandiri agar memiliki kemampuan teknis sekaligus memahami pengelolaan bisnisnya.
Pola pemberian bantuan kepada wisudawan tersebut menunjukkan perhatian pemerintah terhadap keberlanjutan lulusan setelah mereka menyelesaikan pendidikan.
Tantangan bagi pendidikan vokasi bukan hanya mencetak lulusan yang kompeten, tetapi juga memastikan keterampilan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang nyata.
Di sisi lain, mekanisasi membuka peluang bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian tanpa harus selalu memiliki lahan dalam skala besar.
Mereka dapat mengambil peran sebagai penyedia jasa alsintan bagi petani, mulai dari pengolahan tanah, penanaman hingga panen.
Model tersebut juga berpotensi mempercepat modernisasi pertanian di tingkat petani.
Semakin banyak penyedia jasa alsintan di daerah, semakin terbuka akses petani terhadap teknologi mekanisasi tanpa harus membeli seluruh peralatan secara mandiri.
Karena itu, Amran meminta para penerima bantuan menjaga, mengoperasikan, dan mengembangkan alat yang telah diberikan.
Pemerintah tidak ingin bantuan berhenti pada penyerahan aset, tetapi berkembang menjadi sumber pendapatan, kegiatan usaha, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Bagi 13 wisudawan Polbangtan dan PEPI, hand traktor yang diterima pada momentum kelulusan dapat menjadi titik awal untuk membuktikan bahwa pendidikan vokasi pertanian dapat berujung pada kemandirian.
Dari sebuah unit alsintan, mereka didorong membangun usaha, melayani petani, dan jika berkembang, menciptakan lapangan pekerjaan baru.
“Anak muda jangan hanya berpikir mencari pekerjaan. Jadilah pencipta lapangan pekerjaan,” kata Amran.