
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menitipkan pesan penting kepada para lulusan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI).
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menitipkan pesan penting kepada para lulusan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI).
Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka diminta tidak sekadar mencari pekerjaan, tetapi benar-benar menjadi sumber daya manusia pertanian yang mampu memberi manfaat bagi petani dan pembangunan pertanian.
Amran mendorong lulusan untuk berani memilih jalan pengabdian, termasuk menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Menurutnya, penyuluh memiliki posisi penting karena berhadapan langsung dengan petani dan menjadi salah satu penghubung antara pengetahuan, teknologi, kebijakan, dan praktik di lapangan.
Pesan itu disampaikan Amran dalam Wisuda Nasional Polbangtan dan PEPI Tahun Akademik 2025/2026, Kamis (13/08).
Ia mengingatkan para lulusan bahwa dunia kerja akan menghadirkan tantangan yang berbeda dengan bangku kuliah.
Karena itu, kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus belajar menjadi bekal yang tidak kalah penting dari ijazah.
Amran kemudian mengenang pengalamannya ketika pernah menjadi penyuluh.
Dari pengalaman turun langsung ke lapangan, ia memahami bahwa pekerjaan penyuluh tidak selalu mudah.
Penyuluh harus berhadapan dengan beragam karakter masyarakat, mendengar persoalan petani, sekaligus berusaha mencari jalan keluar atas masalah yang mereka hadapi.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa keberhasilan seorang penyuluh tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan kepada petani.
Lebih dari itu, penyuluh harus mampu membangun kepercayaan dan menghadirkan perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Karena itu, Amran meminta lulusan yang memilih profesi PPL untuk bekerja dengan hati dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan di lapangan.
Menurut dia, keterbatasan kondisi bukan alasan untuk berhenti memberikan yang terbaik.
Amran juga menekankan pentingnya keberanian memulai karier dari bawah.
Ia tidak ingin para lulusan merasa rendah diri ketika harus menjalani pekerjaan yang mungkin belum sesuai dengan bayangan mereka setelah lulus.
Baginya, pekerjaan apa pun dapat menjadi jalan menuju keberhasilan selama dijalankan secara serius.
“Mau berkebun jadi terbaik berkebun, mau beternak terbaik, mau menjadi engineer terbaik,” ujar Amran.
Pesan itu relevan bagi lulusan vokasi pertanian yang akan memasuki berbagai bidang.
Mereka bisa menjadi penyuluh, petani, peternak, teknisi, engineer, pelaku usaha maupun bekerja di bidang lainnya yang berkaitan dengan pertanian.
Yang terpenting, kata Amran, setiap profesi harus dijalankan dengan tekad untuk menjadi yang terbaik.
Amran mengingatkan bahwa cita-cita besar tidak cukup hanya disimpan sebagai keinginan.
Mimpi harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata dan dijalankan secara konsisten.
“Mimpi besar menghasilkan rasa, rasa itu menghasilkan tindakan, tindakan itu adalah sukses,” katanya.
Menurut Amran, banyak orang menginginkan kehidupan yang lebih baik, tetapi tidak semuanya bersedia menjalani proses panjang untuk mendapatkannya.
Padahal, proses tersebut justru menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan dan karakter.
“Orang gagal itu karena tidak mau berproses,” tegasnya.
Karena itu, lulusan Polbangtan dan PEPI diminta tidak cepat menyerah ketika menghadapi kegagalan.
Kesalahan dan kesulitan di awal karier harus dijadikan pengalaman untuk memperbaiki diri.
Bagi petani dan penyuluh, pesan tersebut juga berarti pentingnya terus belajar.
Perubahan teknologi, iklim, mekanisasi, pasar, hingga pola usaha tani membuat pelaku pertanian harus terus memperbarui pengetahuan agar tidak tertinggal.
Amran juga mengingatkan para lulusan agar tidak menjadikan almamater sebagai ukuran keberhasilan.
Menurutnya, nama institusi pendidikan bukan jaminan seseorang akan sukses setelah memasuki dunia kerja.
“Yang membuat sukses adalah karakter,” kata Amran.
Ia menilai ilmu yang diperoleh selama pendidikan harus dibarengi dengan kerja keras, disiplin, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan membangun hubungan dengan orang lain.
Amran kemudian menyinggung konsep ilmu yakin, ainul yakin, dan haqqul yakin. Ilmu menjadi dasar untuk memahami sesuatu, pengalaman membuat seseorang melihat dan membuktikan pengetahuan tersebut di lapangan, sedangkan keyakinan yang kuat mendorong seseorang untuk terus mengejar tujuan.
Bagi lulusan vokasi pertanian, proses tersebut dapat dimulai dari hal sederhana. Ilmu yang diperoleh di kampus harus dibawa ke lahan, kandang, bengkel alat mesin pertanian, maupun ke tengah kelompok tani.
Dari sana, pengetahuan diuji oleh kondisi nyata dan kemudian dikembangkan menjadi solusi.
Karakter Penyuluh
Pesan Amran mengenai karakter juga menjadi penting bagi PPL.
Penyuluh tidak cukup hanya menguasai materi teknis, tetapi perlu memahami kehidupan petani yang menjadi sasaran pendampingannya.
Petani memiliki persoalan yang berbeda-beda, ada yang menghadapi keterbatasan modal, akses sarana produksi, teknologi, pasar, tenaga kerja maupun perubahan kondisi lingkungan.
Karena itu, penyuluh dituntut mampu menjadi pendamping yang memahami persoalan tersebut secara nyata.
Kedekatan dengan petani juga akan membangun kepercayaan. Ketika petani percaya kepada penyuluh, proses penyampaian teknologi dan penerapan inovasi akan lebih mudah dilakukan.
Di titik inilah lulusan Polbangtan memiliki tantangan sekaligus peluang.
Bekal pendidikan vokasi yang diperoleh harus diterjemahkan menjadi kemampuan memecahkan persoalan pertanian di lapangan.
Amran kemudian mengajak para lulusan melakukan perubahan dari dalam diri sebelum berharap dapat menghasilkan perubahan di lingkungan sekitar.
“Ubah mindset-mu, ubah tindakanmu, ubah karaktermu,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan membutuhkan kebiasaan baru.
Orang yang ingin maju harus berani bekerja lebih keras, memperluas pengetahuan, menjaga disiplin dan tidak mudah terpengaruh oleh penilaian orang lain.
Ia juga meminta para lulusan tetap berjalan pada jalur yang benar, mematuhi aturan, serta tidak mengorbankan prinsip demi mengejar keberhasilan.
“Jangan peduli pada hinaan orang. Yang penting Anda berjalan dalam rel yang benar,” kata Amran.
Di tengah persaingan dunia kerja dan usaha, Amran mengingatkan ada satu prinsip yang tidak boleh ditinggalkan, yakni kejujuran.
“Jangan bohong. Harus jujur. Mau sukses jangan bohong,” tegasnya.
Bagi petani, penyuluh maupun tenaga profesional pertanian, kejujuran menjadi modal untuk membangun kepercayaan.
Kepercayaan tersebut tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat, tetapi dapat hilang hanya karena satu tindakan yang tidak jujur.
Karena itu, Amran berharap para lulusan Polbangtan dan PEPI mampu membawa ilmu sekaligus karakter ketika kembali ke tengah masyarakat.
Baik sebagai PPL yang mendampingi petani, petani yang mengelola usaha tani, peternak, engineer, teknisi, maupun pelaku usaha, mereka diminta memberikan kinerja terbaik.
“Jadilah Anda terbaik di bidang Anda,” ujar Amran.
Pesan tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana lulusan mendapatkan pekerjaan.
Lebih jauh, Amran ingin mereka menjadi generasi yang mampu mengubah ilmu menjadi kerja nyata, membangun kepercayaan dengan petani, serta ikut mendorong pertanian Indonesia menjadi lebih maju, produktif dan berdaya saing.



