Sabtu, 24 Agustus 2019


Penyuluh 4.0, Punya Jiwa Enterpreneur dan Tanggap Teknologi

14 Agu 2019, 15:23 WIBEditor : Gesha

Penyuluh pertanian di masa kini harus bisa menguasai teknologi | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pemanfaatan internet of things, big data hingga artificial intellegence juga harus bisa dimanfaatkan dengan baik oleh penyuluh pertanian. Sehingga bisa menghasilkan produk yang memiliki daya saing dan mampu menembus pasar dunia. 

"Penyuluh Pertanian untuk menuju 2045 dituntut untuk bisa meningkatkan produktivitas sehingga meningkatkan kualitas dan ekspor. Karenanya, penyuluh harus mandiri, harus profesional, harus mempunyai jiwa entrepreneurship," tutur Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi ketika memotivasi penyuluh pertanian saat Bimbingan Teknis Uji Kompetensi di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (14/8).

Mengapa harus memiliki jiwa enterpreneurship dalam diri penyuluh? Prof Dedi menjelaskan dengan adanya jiwa tersebut, penyuluh membimbing petani tidak hanya meningkatkan produktivitas semata, tetapi juga mengajak dan mendorong petani untuk mengolah produknya karena value added yang bisa dirasakan oleh petani. "Petani dengan penyuluh itu saling dorong untuk meningkatkan produksi, produktivitas tetapi juga mengajak petani untuk mengolah produknya karena dari olahan itulah memiliki value added (nilai tambah) artinya memberikan keuntungan yang lebih besar," beber Prof Dedi.

Jiwa enterpreneur akan mengubah orientasi usahatani dari sekedar produksi menjadi berorientasi bisnis. Petani akan mulai mempertimbangkan jenis tanaman yang akan ditanam, waktu tanam dan bahkan sampai pada usaha pengolahan hasil pertanian dalam rangka memperoleh nilai tambah dari kegiatan tersebut

Nah, di era 4.0 inilah penyuluh harus bisa menyesuaikan diri sehingga penyuluh juga harus tahu bagaimana menggunakan Android, salah satunya sebagai informasi pasar sehingga penyuluh mampu mendistribusikan pangan yang tersedia. Pada era revolusi industri 4.0 pelaku usaha, penjual dan pembeli tidak perlu lagi bertatap muka, akan tetapi bisa dilakukan transaksi secara online tanpa batas waktu dan tanpa batas tempat

"Misalnya bisa mengetahui daerah mana yang surplus beras, daerah mana yang kurang. Dan penyuluh bisa memanfaatkannya untuk mendistribusikan beras atau pangan yang dimilikinya, itulah manfaat 4.0. Tidak berbatas ruang," beber Prof. Dedi.

Prof Dedi juga menilai penyuluh masih menjadi ujung tombak yang penting untuk pembangunan pertanian.  "Penyuluh harus seperti logam dari tombak yang langsung berhadapan dengan pembangunan. Harus punya jurus menghindar dan mematikan lawan sekaligus. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi 4.0," tukas Prof Dedi.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018