Minggu, 08 Desember 2019


Dukung Ekspor, SDM Penyuluh dan Petani harus Melek Teknologi

15 Agu 2019, 11:57 WIBEditor : Gesha

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Prof Dedi Nursyamsi mengatakan infrastruktur, inovasi teknologi mutakhir dan semuanya berlandaskan sumberdaya manusia yang mandiri, profesional dan berjiwa enterpreneur tingg | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Upaya Indonesia untuk terus meningkatkan ekspor, tentunya tidak bisa terlepas dari dukungan sumberdaya manusia (SDM) pertanian. Karena itu,  di era persaingan perdagangan yang makin bebas, baik penyuluh maupun pelaku usaha (petani) harus melek dan responsif terhadap teknologi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Prof Dedi Nursyamsi mengatakan, agar produk pertanian Indonesia bisa bersiang di pasar dunia, membutuhkan komoditas yang berdaya saing tinggi. Dengan demikian, kita tidak hanya meningkatkan produksi, tapi juga menghasilkan komoditas dengan produktivitas yang efektif dan efisien.

Untuk mencapainya perlu didukung infrastruktur, inovasi teknologi mutakhir dan semuanya berlandaskan sumberdaya manusia yang mandiri, profesional dan berjiwa enterpreneur tinggi. “Kalau diurut, SDM mandiri, profesional, kompeten, dan berjiwa enterpreneur tinggi menjadi landasan dari lumbung pangan dunia yang dirintis Indonesia," tuturnya.

Di era 4.0, SDM juga dituntut untuk responsif terhadap teknologi. Teknologi diciptakan untuk membuat segala sesuatu lebih efektif dan efisien. Termasuk di pertanian, di sektor hulu menjadi lebih efisien sehingga meningkatkan margin pendapatan. Sedangkan di sektor hilir, value added bisa didapatkan. Bahkan dengan memanfaatkan big data, distribusi pangan menjadi lancar.

Karenanya, SDM pertanian yang secara garis besar terdiri dari penyuluh dan pelaku pertanian (petani, poktan,gapoktan maupun lembaga mikro pertanian) bisa memanfaatkan teknologi tersebut untuk menghasilkan produk dan lini distribusi yang efisien, namun berkualitas hingga bisa dinikmati pasar dunia.
"Kita harus menggarap pertanian dari hulu ke hilir. Kalau dahulu kita lebih banyak menggarap di hulu, sekarang hulu-hilir, karena hilir banyak memiliki value added yang tinggi," tambah Dedi.

Penyuluh sebagai ujung tombak pembangunan pertanian diharapkan Prof Dedi memiliki karakter 4.0, khususnya jiwa enterpreneurship. Dengan jiwa tersebut, penyuluh membimbing petani, tidak hanya meningkatkan produktivitas, tapi juga mengajak dan mendorong petani mengolah produknya karena value added yang bisa dirasakan petani.

“Petani dengan penyuluh itu saling dorong untuk meningkatkan produksi dan produktivitas. Penyuluh juga mengajak petani mengolah produknya, karena dari olahan itulah memiliki value added (nilai tambah) artinya memberikan keuntungan yang lebih besar,” tutur Prof Dedi.

Di era 4.0, penyuluh harus bisa menyesuaikan diri sehingga harus mengetahui bagaimana menggunakan Android, salah satunya sebagai informasi pasar sehingga penyuluh mampu mendistribusikan pangan yang tersedia. Sebab, di era revolusi industri 4.0 pelaku usaha, penjual dan pembeli tidak perlu lagi bertatap muka, akan tetapi bisa dilakukan transaksi secara online tanpa batas waktu dan tempat.
 
Petani Millenial
Dedi mengungkapkan petani millenial juga terus didukung dan didorong untuk memanfaatkan teknologi 4.0. “Mereka inilah yang sangat responsif terhadap teknologi. Bahkan dengan daya cipta dan rasa, mereka dapat menciptakan inovasi yang mengefisienkan pekerjaan mereka,” tuturnya.

Petani millenial juga didorong memanfaatkan informasi pasar yang diolah dengan big data, sehingga petani mendapatkan efisiensi dari hulu (produksi) dan efisiensi distribusi (lebih dekat dengan konsumen). Pada akhirnya profit petani millenial lebih banyak.

Petani millenial sendiri diakui Dedi sudah banyak bertumbuh di daerah. Ada yang memang muncul sendiri, karena ingin terjun bertani. Adapula yang ditumbuhkan melalui beragam program regenerasi petani seperti Santri Millenial, Program Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) dan lain sebagainya.

Menurut Dedi, kini mereka ada yang sudah mampu memanfaatkan teknologi alsintan, inovasi teknologi hulu, inovasi teknologi hilir bahkan memanfaatkan marketplace. “Ada juga yang belum. Karenanya mereka terus kami dorong untuk bersentuhan dengan teknologi. Agar usaha tani mereka lebih efisien dan berorientasi ekspor," tuturnya.

Tak hanya berkembang sendiri-sendiri, Prof Dedi dan jajarannya di BPPSDMP juga berusaha agar petani millenial ini saling berjejaring dari hulu hingga ke hilir, minimal di satu daerah. "Inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal korporasi petani dan menjadi kuat posisinya untuk bersama-sama eksportir untuk kian mendobrak pasar dunia," harapnya.

 

Reporter : TABLOID SINAR TANI
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018