Sunday, 09 May 2021


Wali, Penangkar Benih Beromset Miliaran Rupiah di Bireuen

26 Apr 2021, 08:04 WIBEditor : Ahmad Soim

Waliyul Hidayah (31) | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Pria ini sudah tertarik mengenai seluk beluk benih selagi masih duduk di kelas 3 Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Jeumala Amal, Lueng Putu Pidie Jaya. Kini setalah terjun di usaha penangkaran benih, omzet kelompoknya  mencapai miliyaran rupiah per tahunnya.

Alumnus Fakultas Teknik Universitas Al Muslim Kabupaten Bireuen tahun 2015 ini, adalah tulang punggung keluarganya dan juga kebanggaan masyarakat di Kecamatan Jeunieb, Bireuen.  Dengan latar belakang pendidikannya itu dia mampu memproduksi benih padi hingga 180 ton per musim tanam.

Dia adalah Waliyul Hidayah (31), teman - teman memanggil namanya dengan sebutan Wali. Anak yatim yang ditinggal sosok Ayahnya pertengahan 2007, kala itu ia sedang menghadapi ujian akhir sekolah. Walau  tiada lagi sosok sang Ayah,  langkah Wali tetap tegap tak pernah goyah dan putus asa apalagi menyerah. 

Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, Wali berperan mengganti posisi ayah, terutama dalam membiayai kebutuhan sekolah adik - adiknya dan biaya dirinya melanjutkan kuliah. Maka mulai tahun 2009 sambil kuliah Wali banting setir belajar bertani skala demplot pada lahan 2.000 m2. 

Berbekal ilmu yang diperoleh dari internet serta tanya sana tanya sini, Wali mencoba menanam padi di lahan tersebut dengan membayar upah Rp 180.000 untuk tiga orang, sementara untuk olah tanah Rp 25.000 per are (satu are = 300 m). Ketekunannya dalam memelihara dan merawat Padi ternyata memberikan hasil yang sangat menggembirakan hatinya. “Coba bayangkan…saya baru pertama kali tanam padi tapi hasil panennya 8,5 ton per hektar”, ujarnya bangga.

Melihat kenyataan tersebut, muncul dalam benaknya "kalau petani menanam padi, pasti memerlukan benih yang baik dan berkualitas, sehingga hasil panennya akan meningkat", gumamnya.

“Rupanya bertani itu menarik dan sangat menguntungkan, caranya harus sesuai dengan petunjuk teknis apalagi kalau kita lakukan dengan sistem agribisnis”, tukasnya. Atas restu dari Ibunya selanjutnya Wali menggarap sawah peninggalan Ayahnya seluas dua hektar yang selama ini disewakan. 

Pada tahun 2010 dirinya mulai menerapkan teknologi Jajar Legowo. Melalui metode teknologi jajar legowo, petani lebih mudah dalam perawatan padi dan pengendalian hama. Dengan varietas Hibrida ternyata hasilnya mencapai 10 – 11 ton per hektar, sedangkan kalau varietas lain hanya di bawah 9 ton. Dalam mengembangkan usahanya memproduksi benih padi, kesempatan itu dimanfaatkannya memperluas lahan hingga 45 hektar. 

Wali dalam melakukan penangkaran menggunakan benih padi yang bersertifikat seperti Mustajab, Bestari, Inpari 32 dan Inpari 30. Kalau menanam padi pihaknya menganjurkan agar petani menggunakan benih unggul dan bersertifikat karena hasilnya bisa mencapai di atas 10 ton/ha, sementara kalau benih yang tidak bersertifikat rawan akan hama penyakit.

Dari hasil panen padi setiap hektarnya, Wali membeli kembali sebanyak 4 ton untuk dijadikan sebagai benih berlabel ungu dan dapat ditanam kembali. Sesuai perjanjian setiap kilogram benih dibayar Rp 200 lebih mahal dari harga pasar. 

“Setiap produksi padi tersebut, sebagian di jual dan sebagiannya lagi dijadikan benih, karena harga jual benih lebih tinggi dibandingkan padi untuk konsumsi.”, bebernya.

Sementara kalau sudah menjadi benih melalui beberapa proses tahapan sesuai SOP maka harga jual benih berlabel akan semakin berharga. Kalau calon benih mereka beli tergantung kesepakatan, minimal margin sekitar Rp 500/kg calon benih diterima di gudangnya. Hasilnya sekitar 280 ton per tahun, semua diupkup oleh PT. Pertani dan Sang Hyang Sri (SHS).

Pada tahun ketiga itulah dia sempat menghasilkan total benih sebanyak 180 ton, dan seterusnya seiring berjalannya waktu, Wali pun mengembangkan sayap menjalin kerja sama dengan perusahaan penangkar benih. “Alhamdulillah saya dipercaya sebagai ketua Gapoktan “Japakeh” dari 2017 sampai sekarang”, pujinya.

BACA JUGA:

Sejak menjabat sebagai Ketua Gapoktan hampir setiap tahun kelompok tani mendapatkan bantuan, baik infrastruktur maupun alsintan dari dinas Pertanian Kabupaten Bireuen.

Kegiatan menjadi petani rupanya mendapat support serta dukungan penuh dari isterinya Nazilla yang juga mantan pacar saat kuliah dulu. “Dulu saya dan isteri teman kuliah satu kampus di fakultas yang sama, hanya beda ruangan”, jawabnya tersipu malu. 

Omzet yang diperoleh kelompoknyapun tak tanggung-tanggung hingga miliyaran rupiah.  "Sedangkan keuntungan setahun dengan dua kali musim tanam, berkisar Rp 140 juta", timpalnya. 

Di samping bertani, Wali aktif dalam berbagai forum termasuk juga membentuk Aceh Bertani Comunity. Komunitas tersebut bertujuan untuk sosialisasi dan membangun komunikasi yang tersebar hampir di semua kabupaten/kota. "Kami juga  membangun kerja sama setiap musim tanam dengan perusahaan pestisida dalam mengatasi hama penyakit", imbuhnya. 

Selain itu tugasnya sehari - hari sebagai tenaga Pendamping Lokal Desa/Kementerian Desa, di Kecamatan Jeunieb, Bireuen, yang tak begitu jauh dengan tempat tinggalnya di desa Cot Trieng Kec Kuala.

Almarhun ayahnya dulu Kepala Sekolah SMA 1 Simpang Mamplam Kab Bireuen dan Ibunya hanya sebgai ibu rumah tangga. Kini Wali tidak hanya sebagai tulang punggung keluarga, tapi juga menjadi kebangaan bagi masyarakat di kampungnya. Pasalnya, karena Wali yang belajar di Fakultas Teknik Sipil Universitas Al Muslim (Unmus) Bireuen berbalik arah dalam membantu petani untuk penyediaan benih padi.

Menurutnya, alasan terjun ke dunia yang berbeda dengan latar belakang pendidikannya, karena pertanian itu asyik dan menarik bila kita jalani dengan sungguh-sungguh dapat meningkatkan daya saing sehingga memberi peluang untuk penumbuhan ekonomi. “Saya bangga menjadi petani, dan kita jangan ragu karena bertani adalah pekerjaan mulia”, jawabnya.

Apalagi dari kerja samanya sebagai mitra dalam pembuatan demplot dengan BATAN, Wali bersama mitra lainnya dari seluruh Indonesia pernah diundang ke Batan Semarang pada Agustus 2019 atas prestasinya sejak 2016 bekerjasama dengan Batan.

Dirinya menyampaikan ucapan terimakasih yang tulus dan mendalam kepada Dr Cut Azizah, ST., MT sebagai Direktur Pasca Sarjana Universitas Almuslim yang juga sebagai dosen pembimbingnya. "Sehingga atas jasa beliau saya berhasil meraih gelar sarjana teknik", kenang Wali terharu.

Wali juga mendapat apresiasi dari dosen pengujinya waktu kuliah, yang memposting kegiatannya dalam akun Facebook mantan Setda Aceh Tamiang dan Bireuen dengan akun Razuardi Essek yang juga di Tag ke FBnya Paduka Waly Nan DRoe, hari Rabu tanggal 27 Januari 2021 

Atas kegigihan dan ketekunannya menangkarkan benih padi, Wali telah mampu menyekolahkan ketiga orang adiknya dan suatu kebanggan dirinya pun telah menyelesaikan Sarjana. Selain mampu merehab rumah Ibunya, suatu hal yang sangat mengharukan Sinar Tani yaitu ketika mendengar Ibunya sudah menunaikan ibadah Umrah dan juga telah mendapatkan kursi sebagai calon jamaah haji...

 === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018