Sunday, 09 May 2021


Kiat Industri Peternakan Unggas Bertahan Maju di Tengah Pandemi Covid-19

25 Apr 2021, 17:48 WIBEditor : Ahmad Soim

Pakan menjadi biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas ayam | Sumber Foto:Julian

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Pandemi Covid-19 membuat daya serap pasar terhadap produk unggas menurun. Pemerintah melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan melakukan beberapa kali  pemotongan (cutting) produksi DOC agar poduksi ayam tidak berlebih karena bisa  membuat harga jual ayam di pasaran anjlog dan merugikan peternak.

Ki Musbar Mesdi, Wakil Ketua Umum HKTI Bidang Peternakan dan Perikanan mengatakan pasar selalu dinamis. Pada saat Ramadhan sekarang, permintaan ayam justru tinggi. Saat ini harga ayam tinggi, karena harga jagung sedang naik. “Sementara kebutuhan ayam pada Bulan Ramadhan tinggi. Harga karkas ayam per ekor mencapai Rp 45 ribu,” katanya.

Pada tahun ini CV Misouri Bandung yang bergerak di pembibitan unggas diturunkan kuaota impor GPS-nya dari 18 ribu menjadi 6.500 ekor. Penurunan kuota impor ini dilakukan pemerintah menghadapi masa Pandemi Covid-19 tahun 2021 yang secara umum ada penurunan daya serap pasar.

BACA JUGA:

Agung Latif dari CV Misouri Bandung saat bicara tentang Strategi Bertahan Usaha Breeding Farm Broiler Non Integrasi mengatakan harus melakukan efisiensi dalam penjualan DOC. “Dari dulu sampai sekarang, kita hanya menjual DOC berdasarkan pesanan order. Kita nggak ada kelebihan produksi DOC,” tambahnya dalam Webinar yang diselenggarakan HKTI, Kamis (22/04/2021).

Kalau kita terkena cutting oleh pemerintah, lanjutnya terpaksa kita potong sejumlah prosentasi yang ditetapkan pemerintah kali order yang masuk. Jadi tidak membuang DOC. “Harga jual DOC kita ikuti pasar. Kita jual DOC tidak lewat broker tapi langsung ke peternak,” tambahnya.

Industri Peternakan integrasi seperti PT Wonokoyo Jaya Kusuma, punya cara yang berbeda dalam bertahan memajukan usaha perunggasannya. “Ada dua hal yang bisa kita lakukan untuk tetap maju di bisnis perunggasan, yakni mengurangi ketergantungan impor dan efisiensi di segala lini, khususnya di budidaya, produktivitas, penurunan angka mortalitas ayam dan afkir ayam,” tambah drh. Herry Setiawan dari Wonokoyo.

Diakuinya sampai saat ini kebutuhan GPS masih harus impor. “Sehingga akan berebut dengan dengan negara negara lain. Tentu produsennya akan menyesuaikan harga jualnya dengan permintaan,” tambahnya.

 === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018