Friday, 07 May 2021


Geopolitik Rempah Indonesia: Ketika Jaya dan Masa Depannya

25 Apr 2021, 08:32 WIBEditor : Ahmad Soim

Kapulaga, bahan rempah unggulan Indonesia | Sumber Foto:Istimewa

 

Oleh: Soedjai Kartasasmita - Tokoh Perkebunan Indonesia

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Banyak di antara kita yang tidak tahu bahwa asal-usul rempah-rempah di dunia adalah dari beberapa pulau saja di Maluku yang luasnya 240 KM2. Ini benar-benar anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus kita syukuri. Sumber daya alam yang luar biasa ini  ternyata telah mampu merubah peta geopolitik di Asia Tenggara, Eropa bahkan seluruh dunia sejak awal abad ke 15.  Hingga tahun 1550 an perdagangan rempah-rempah dikuasai oleh pedagang-pedagang Arab yang sejak abad ke 8 sudah mempunyai hubungan dagang dengan Cina.

Karena keuntungan yang sangat besar selama beberapa abad mereka tidak mau mengungkapkan lokasi sebenarnya dari kepulauan rempah-rempah itu. Untuk menjaga kerahasiaan lokasi geografisnya mereka selalu sebar luaskan mitos yang menyatakan bahwa kepulauan penghasil rempah-rempah itu lokasinya di bagian Selatan bumi dan dihuni oleh naga-naga air yang buas yang kalau melihat manusia langsung diterkam dan dimakannya. 

Mengapa mitos itu bisa mereka pertahankan sampai berabad-abad?.  Sebabnya tidak lain karena pada era itu belum ada peta seperti yang kita kenal sekarang, yang namanya peta adalah sketsa yang dibuat oleh Kardinal dari Inggris yang kemudian disusul dengan peta buatan ahli peta dari Vlamingen, Belgia yang sudah bisa dijadikan acuan untuk pelayaran.

Untuk pelayaran jarak jauh orang masih mengikuti gerakan-gerakan matahari dan bintang-bintang. Christopher Columbus misalnya pada tahun 1492 diberangkatkan dari Spanyol dengan misi untuk mendapatkan lokasi dari kepulauan rempah-rempah yang menggiurkan itu dengan mengikuti gerakan matahari dan bintang-bintang melalui laut Atlantik untuk menemukan kepulauan rempah-rempah. Ketika ia tiba di Karibia disangkanya bahwa itulah kepulauan yang dicarinya tapi ternyata di Karibia tidak ada rempah-rempah sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dengan harapan akan bisa menyelesaikan misinya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tapi ternyata kemudian dalam perjalanannya ini yang ia temukan adalah benua Amerika jadi tidak mengherankan kalau hingga sekarang Christopher Columbus dianggap sebagai orang yang menemukan benua Amerika padahal misi sebenarnya adalah menemukan kepulauan Maluku. 

Portugal juga mengirimkan ekspedisi yang dipimpin oleh Vasco da Gama dengan mengambil rute ke Tanjung Harapan dan selanjutnya berlayar melalui Samudra Hindia ke berbagai kawasan di sekitar Filipina. Pada tahun 1515 Portugal mengirimkan ekspedisi lagi yang kali ini berhasil menemukan lokasi yang menjadi idaman seluruh dunia itu dan karena khawatir akan direbut oleh negara lain langsung dideklarasikan sebagai tanah jajahan Portugal.

BACA JUGA:

Memang keuntungan yang diperoleh dari penjualan rempah-rempah yang dihasilkan di tanah jajahannya yang baru itu sangat-sangat luar biasa sehingga menimbulkan iri hati pada raja  Spanyol. Tanpa ragu-ragu Spanyol lalu menduduki Portugal dan rajanya disingkirkan dan Portugal menjadi negara bagian dari Spanyol. Sebagai konsekuensinya kepulauan Maluku menjadi tanah jajahan Spanyol.

Sementara itu Inggris pun berminat untuk menggeser Spanyol dari kepulauan Maluku dan dalam kaitan ini mengajak Pemerintah Belanda untuk mengusirnya dengan menggunakan armada kapal perang kedua negara itu.  Spanyol berhasil diusir dan akhirnya kepulauan Maluku jatuh ketangan Inggris dan Belanda. Ternyata ketika Spanyol mundur dari Maluku mereka tanpa ragu-ragu menduduki kepulauan di utara Borneo yang kemudian langsung dideklarasikan sebagai jajahannya dengan nama negara Filipina. Tidak lama kemudian Inggris menduduki Kalimantan Utara dan Semenanjung Malaya dan Belanda dengan menggunakan kekuasaan VOC mulai menguasai Sumatera, Jawa dan pulau-pulau lainnya.

Sementara itu Belanda juga tidak rela kalau Inggris ikut hadir di Maluku dan dengan segala cara dicobanya untuk mendorong Inggris untuk meninggalkan kepulauan rempah-rempah itu. Akhirnya diadakan negosiasi dan dicapai kata sepakat untuk mengadakan tukar guling. Pulau Banda diserahkan kepada Belanda tapi pada lain sisi Manhattan di Amerika yang menjadi jajahan Belanda diserahkan pada Inggris dan hingga sekarang menjadi bagian dari kota New York.

Itulah sejarah ringkas mengenai perkembangan geopolitik di dunia yang dipicu oleh rempah-rempah yang selama berabad-abad lokasinya dirahasiakan oleh para pedagang Arab.

Rempah-rempah dewasa ini tidak lagi menduduki posisi yang sehebat dulu dalam ekonomi R.I. karena sudah dikalahkan oleh kelapa sawit, karet, kopi, kakao dan lain-lain walapun ada yang mendapat keuntungan besar dari rempah-rempah yaitu pabrik-pabrik rokok kretek seperti Jarum dan Gudang Garam. Untuk berbagai keperluan rumah tangga rempah-rempah memang tetap diperlukan.

Belakangan ini penggunaan rempah-rempah tidak terbatas pada keperluan untuk makanan dan minuman saja karena dalam era pandemi Covid 19 ini banyak dimanfaatkan sebagai obat herbal yang berguna untuk meningkatkan imunitas tubuh. Ini bukan saja di Indonesia tapi juga di Eropa. Orang makin sadar bahwa untuk mendapatkan kesehatan konsumsi rempah-rempah itu sangat diperlukan seperti a.l. pala, cengkeh, kayu manis dan lain-lain. Jadi melihat perkembangan ini sudah tepatlah kebijakan Pemerintah untuk mengembalikan kejayaan rempah-rempah pada masa lalu, tentunya juga diikuti dengan upaya-upaya R&D supaya lebih mantap.  Sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah kepada Indonesia berupa pulau-pul seluas 240 km2 yang oleh dunia disebut sebagai negara rempah-rempah alangkah baiknya seandainya sejarah rempah-rempah ini dikaitkan dengan pendirian ibu kota baru di Kalimantan Timur.

 

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018