Wednesday, 04 November 2026


Punya Performa Menjanjikan, Benih Kentang Industri Lokal jadi Harapan Petani

04 Nov 2026, 12:29 WIBEditor : Yulianto

Nasrudin, petani sekaligus penangkar benih kentang di Desa Clekatakan, Pemalang

TABLOIDSINARTANI.COM, Pemalang---Benih kentang industri lokal varietas Chitra mulai menunjukkan potensinya untuk menandingi benih impor. Di Desa Clekatakan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, pertumbuhan benih kentang Chitra terlihat lebih subur dan berdaun lebih hijau menumbuhkan optimisme petani terhadap kualitas benih karya anak bangsa.

Kaki Gunung Slamet menjadi salah satu sentra sayuran di Jawa Tengah. Dengan ketinggian yang mumpuni membuat komoditas kentang juga mempunyai potensi besar sebagai usaha tani yang menjanjikan. Seperti terlihat di lahan Nasrudin, petani sekaligus penangkar benih kentang di Desa Clekatakan.

Sebagai petani inovator, Nasrudin telah banyak makan asam garam bertani sayuran, termasuk kentang. Bahkan ketika diperkenalkan benih kentang industri produksi dalam negeri bernama Chitra, ia pun tak sungkan untuk mencoba membudidayakan. Apalagi hasil panennya pun siap diserap perusahaan.

Ketika Tabloid Sinar Tani berkunjung ke lahan petani, nampak penanaman perdana Chitra yang telah berumur sekitar 56–60 hari setelah tanam (HST), pertumbuhannya terlihat cukup menggembirakan meskipun ditanam pada musim kemarau.

Bahkan dibandingkan benih kentang impor dengan umur tanaman hampir sama dan perawatan relatif serupa menunjukkan benih kentang Chitra tumbuh lebih subur, dengan batang dan daun yang berkembang lebih baik.

“Ini pertama kalinya saya menanam sekaligus menangkarkan benih kentang industri varietas Chitra. Pada umur sekitar 60 hari, pertumbuhannya terlihat lebih subur, tanamannya lebih tinggi, dan daunnya lebih hijau. Saya juga menanam benih impor di lahan lain dengan umur yang hampir sama. Perawatannya sama, tetapi pertumbuhan Chitra terlihat lebih baik,” tuturnya.

Dalam penanaman perdana tersebut, Nasrudin menggunakan sekitar 10.000 knol atau umbi benih Chitra kelas G0 (benih sumber) yang hasil panennya untuk benih generasi G2 (benih sebar). Pada umur sekitar 60 HST, jumlah umbi yang teramati mencapai sekitar 15 knol dan masih berpotensi bertambah. Namun, hasil akhir tetap menunggu panen yang idealnya yakni saat tanaman berumur 100–105 HST.

Dengan menjadi penangkar benih kentang industri lokal ini, ia ingin turut membuktikan bahwa Indonesia mampu memproduksi benih kentang industri sendiri. Pada akhirnya, ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri dapat dikurangi. “Kalau kita bisa memproduksi benih sendiri, mengapa harus terus bergantung pada impor?” katanya.

Namun diirnya mengakui, saat ini produksi benih kentang industri lokal belum mampu memenuhi kebutuhan untuk pertanaman di dalam negeri. Karena itu, hingga kini masih ada benih kentang industri impor seperti jenis Atlantik.

Alternatif bagi Petani

Optimisme serupa disampaikan Ketua Kelompok Tani Cahya Tani, Wasto Al Wasiludin. Menurut dia, multiplikasi benih kentang industri Chitra memberikan alternatif bagi petani yang selama ini terbiasa menggunakan benih impor. Sejak dua tahun terakhir, benih tersebut mulai petani budidayakan dan memberikan pengalaman positif bagi mereka yang telah mencobanya.

“Kami sebagai petani merasa terbantu karena tidak ingin terus-menerus bergantung pada benih impor. Selama ini mindset petani kentang adalah impor-impor-impor,” katanya. Namun ketika petani telah mencoba menanam benih kentang industri lokal, ternyata kualitasnya tidak kalah bagus dari benih impor. Bahkan saat musim kemarau panjang sepanjang tahun ini, benih kentang industri lokal hasilnya masih cukup baik dibandingkan dengan benih kentang industri lainnya.

Karena itu, petani berharap dengan adanya benih kentang industri lokal, Indonesia bisa mandiri benih atau paling tidak bisa memenuhi sekitar 50 persen dari kebutuhan dalam negeri. Selain memberikan pilihan bagi petani, pengembangan Chitra juga membuka peluang usaha penangkaran benih di daerah dan memperkuat kemandirian perbenihan nasional.

Namun demikian, Wasto memberikan beberapa catatan agar produksi kentang ada yang menyerap, sehingga memberikan ketenangan terhadap pasar benih kentang industri. ”Kami merasa puas dan terbantu karena sekarang ada alternatif dan terbantu dengan yang bisa dikembangkan sendiri. Kami berharap penggunaan benih lokal semakin meluas,” tuturnya.

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018