Monday, 06 December 2021


Kisah M. Kaoy Supir Ambulan yang Suka Bertani Kakao

22 Nov 2021, 12:52 WIBEditor : Gesha

Kaoy bersama anak bungsunya | Sumber Foto:Abda

TABLOIDSINARTANI.COM, Pidie --- Selain terkenal dengan durian, kebiasaan para petani Gp. Mane dan Geumpang Kabupaten Pidie juga menaman kakao di dalam kebunnya. Seperti yang dilakukan M. Kaoy, seorang supir Ambulan yang ternyata suka bertani kakao. 

Beberapa waktu lalu, kebun M. Kaoy ini didatangi dosen dan mahasiswa USK Banda Aceh Jurusan Tata Boga untuk  praktek pengolahan dan pemanfaatan biji durian menjadi tepung  durian. Penanggung jawab demplot kakao Dr Ir Basri A. Bakar, MSi melihat prospek biji durian untuk menambah pendapatan cukup besar. "Kami mengundang pihak kampus untuk melakukan pembinaan kepada kaum ibu desa Mane", ujar Basri.

Basri mengakui bahwa hal ini merupakan dampak kegiatan pendampingan demplot kakao yang dilaksanakan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh kerjasama dengan Dinas Pertanian Pidie.  

Merasa beruntung karena setelah dilakukan pemangkasan, sambung samping, cupon dan pemupukan, kebun kakao Kaoy terlihat mulai tumbuh subur, dirinya pun tambah semangat. "Dalam waktu dekat saya akan mengajak anak saya untuk membuka lahan baru dengan tanaman kakao," tekadnya.

Diakui Bang Kaoy, sapaan akrabnya, selama ini pertumbuhan kakao kurang optimal. Namun dengan perawatan intensif dan menerapkan teknologi sesuai SOP bisa memberikan hasil nyata. Awalnya semangat petani dalam merawat kebun cukup rendah, tapi dengan adanya pendampingan ditunjang harga jual yang baik, semangat petani pun semakin bergeliat. "Harga biji kakao kering sekarang lebih baik yakni Rp. 25.000 - 30.000 per kilogram," bebernya. 

Tak hanya itu, bahkan usai panen padi, Bang Kaoy juga pernah menanam cabai merah. "Saat panen dari hasil menanam cabai sebanyak 3.000 batang dapat untung Rp 28 juta. Alhamdulillah dari usaha tani saya bisa bangun warung dan berjualan untuk menambah penghasilan," ujarnya.

Ia berharap kepada dinas/instansi terkait agar tetap melaksanakan pendampingan secara berkelanjutan, sehingga petani lebih bergairah dan termotivasi.Pihaknya berterima kasih kepada pemerintah yang selama ini peduli terhadap petani. Ia mengatakan, jika bantuan dalam bentuk dana mungkin tidak seberapa, yang penting ada evaluasi dan pengawasan yang lebih intensif.

"Semoga dengan adanya kegiatan pendampingan lanjutan bisa meningkatkan hasil kakao sehingga menambah kesejahteraan bagi petani. "Alhamdulillah saya dan anggota kelompok sudah mampu melakukan sambung samping setelah mengikuti pelatihan oleh BPTP dan Dinas Pertanian," katanya.

Pergi Merantau

Kecintaannya terhadap kakao sebenarnya dimulai setelah dirinya pergi merantau ke berbagai daerah. Muhammad Kaoy adalah sosok pria ramah kelahiran Mane, 5 Januari 1965 merupakan alumni FKIP D3 PMP Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Pidie. Waktu itu dia memiliki kebun kakao seluas 1 hektar dan dibiarkan terlantar menjadi hutan kakao serta tidak terawat di Gampong Mane, Kecamatan Mane, Pidie.

Keseharian Bang Kaoy hanya bekerja sebagai sopir ambulan Puskesmas Mane, selain itu jika tidak ada pasien rujukan dia menghabiskan waktu merawat kebun kakao. "Pada tahun 1990 saya sempat meninggalkan kampung halaman dan pergi merantau ke Bandung, Jawa Barat," kenang Bang Kaoy saat wawancara dengan tabloidsinartani.com. 

Selama di Bandung ia melanjutkan pekerjaan sebagai sopir angkot dan tinggal di kelurahan Darwati kecamatan Ranca Sari Kota Bandung. Sebelumnya Kaoy sempat tinggal di Medan, namun karena kehidupan sulit,  ia pun hijrah ke Ibukota. Selama di Jakarta ia tinggal di Cileduk Tanggerang dan menjadi sopir angkot selama 5 tahun. "Untuk biaya urus KTP dan SIM terpaksa malamnya saya bekerja di doorsmen" kenangnya haru. 

Tepatnya tahun 1996 ia pun menetap di kota Bandung tinggal di rumah kos kosan. Selanjutnya tahun 1998 dia mempersunting Oneng Rukiah yang juga cucu pemilik rumah kos untuk menjadi isterinya. Setelah lahir anak pertama ia pamit pada isterinya untuk pulang ke Aceh. Karena kegigihannya, tahun 2007 ia pun diterima menjadi sopir kontrak ambulan Puskesmas Mane. Tak pelak karena sudah ada pekerjaan dia menjemput sang isteri untuk diboyong ke Aceh hingga sekarang. Dari perkawinannya dengan neng geulis Bandung, kini telah dikaruniai tiga anak tampan dan ayu.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018