Monday, 23 May 2022


Pemilik RM Soto Kudus ini Sukses Ternak Ayam KUB

15 Dec 2021, 16:25 WIBEditor : Yulianto

Sumali (dua dari kiri) saat menerima penghargaan peternak sukses dari Badan Litbang Pertanian | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta----Berawal dari sulit mencari ayam kampung untuk usaha rumah makan Soto Kudus miliknya, Sumali akhirnya membudidayakan Ayam KUB (Kampung Unggul Balitnak). Justru kini, lelaki berusia 50 tahun ini menjadi peternak yang terbilang sukses.

Tinggal di Ungaran, Jawa Tengah, sebelum beternak Ayam KUB, Sumali memiliki rumah makan Soto Kudus Pak Sumali dan resto Maskarebet yang berada di depan rumahnya Jl Pos Tingkir Suruh KM 2 setelah exit tol Salatiga, kira kira 50 meter arah ke Solo.

Sumali mengakui, dengan menu andalan ayam kampung dirinya sering kesulitan mencari bahan baku. Saat melihat pameran di BPTP Jawa Tengah tahun 2019, ia pun tertarik dengan keunggulan Ayam KUB dan langsung memesan sebanyak 2.500 DOC (day old chick).

Namun ungkap Sumali, saat ayam tersebut sudah besar, dirinya justru mengalami kesulitan memasarkan Ayam KUB. Karena banyak yang belum mengenal ayam tersebut, sehingga ditawar rendah oleh pembeli. Akhirnya ayam dibesarkan dan dimanfaatkan memenuhi kebutuhan warung makan miliknya.

“Sebagian DOC dibesarkan menjadi induk, sebagian lagi usia 3 bulan saya potong untuk memenuhi kebutuhan rumah makan,” katanya. Namun dengan berjalannya waktu, kini justru menjual DOC, telur dan karkas ayam KUB sangat mudah, bahkan banyak konsumen datang ke rumah.

Untuk produksi dan penjualan tidak ada kendala, stok selalu habis. Sekarang saya malah kewalahan menerima pesanan karena warung-warung sudah mulai buka setelah pandemi,” tutur Sumali saat menerima apresiasi peternak sukses dari Pusat Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) di Bogor, beberapa waktu lalu.

Tak Terpengaruh Pandemi

Sumali bersyukur sejak adanya pandemi, penjualan ayam KUB tidak ada pengaruhnya. Namun menurutnya, kendala peternak adalah harga pakan untuk konsentrat cukup mahal. Akhirnya dirinya dan peternak lainnya membuat pakan sendiri.

Untuk formulanya, Sumali memanfaatkan limbah industri dan rumah tangga seperti bungkil sawit dan roti kadaluarsa yang tidak berjamur. “Limbah itu saya jadikan pakan, juga kita pakai ajula yang saya tanam di belakang rumah,” katanya.

Dalam memasarkan ayam KUB Sumali mengungkapkan, hampir keseluruh Jawa Tengah. Kebanyakan melayani calon indukan/DOC untuk peternak rumah tangga. Untuk karkas ayam dipasarkan sekitar Semarang, Yogyakarta, Ungaran.

“Terus terang selain kami produksi indukan yang menghasilkan telur, kami juga memproduksi DOC.  Kami beli telur juga dari peternak lainnya, kemudian kita tetaskan dan jual DOC,” katanya.

Sumali menjual DOC Rp. 7.000 per ekor. Jika ada yang tidak laku, maka bibit ayam tersebut tersebut akan dipelihara hingga 3 bulan.  Kemudian akan diseleksi, jika kurang bagus, maka akan jual untuk konsumsi atau kuliner warung makan. Sedangkan yang bagus menjadi indukan.

Ayam KUB yang jantan saya jadikan daging (ayam potong,red). Sedangkan yang betina jadi indukan,” katanya Sumali yang mendirkan Asosiasi Peternak Ayam KUB (Anak Akub) yang kini memiliki perwakilan di 10 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Asosiasi ini untuk membantu sesama peternak Ayam KUB lainnya.

Sumali mengatakan, stok DOC selalu habis. Bahkan kini ia kewalahan menerima order setelah warung makan buka mulai banyak yang buka kembali setelah pandemi mereda. “Alhamdulillaah mulai dari ayam petelur dan pedaging laris diserbu pembeli,” katanya Sumali yang omset dari penjualan DOC mencapai Rp 40 - 50 juta/bulan dan dari usaha rumah makan Rp 3 juta/hari.

Kepada peternak lainnya, Sumali berpesan jika mau sukses, maka harus belajar. Bahkan dari kegagalan, kita bisa belajar dan pengalaman. Sebab pengalaman adalah guru yang paling berharga.  Upaya Sumali mengembangkan ayam KUB berbuah penghargaan dari Badan Litbang Pertanian.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018