Tuesday, 17 May 2022


Ardhi, Rangkul Peggiat Maggot dalam Paguyuban  

25 Jan 2022, 11:50 WIBEditor : Yulianto

Ardhi ajak pencinta lingkugan bergabung dalam paguyuban maggot | Sumber Foto:Dok. Ardhi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Aktivitas rumah tangga yang dilakukan kita setiap hari akan menghasilkan sampah. Sampah sisa makanan seperti sayuran atau buah-buahan, bumbu dapur yang sudah tak terpakai, hingga dedaunan yang rontok di halaman rumah, setidaknya lebih dari 50-60 persen merupakan sampah organik.

Jika tidak diolah dengan tepat, sampah bukan hanya menimbulkan bau tidak sedap, tapi juga berbahaya. Pasalnya, sampah organik bisa menghasilkan gas metana yang berisiko menciptakan ledakan dan juga pemanasan global.

Langkah kecil yang kita lakukan, tentu saja dapat membantu mengurangi risiko bahaya yang bisa terjadi. Karena itu, banyak masyarakat yang mulai mengolah sendiri sampah organiknya. Salah satunya dengan budidaya maggot.

Bahkan dengan kesamaan visi dan misi yakni mengatasi sampah, para pegiat maggot di tanah Air kini telah berkumpul dalam wadah Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara (PPMN). Sebagai Ketua PPMN, Muhammad Ardhi Elmeidian mengatakan, di tengah perubahan iklim sampah organik ibarat bom waktu.

“Sampah organik yang terakumulasi di TPA (tempat penampungan akhir,red) itu sangat membahayakan, bukan hanya untuk kita, tapi dunia,” katanya saat Webinar Maggot, Peluang Bisnis Masa Depan yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (20/1).

Dari hasil survei sampah organik dapur yang dilakukan Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara, dari 45,89 ton/hari sampah sisa rumah tangga atau 16.800 ton/tahun menghasilkan 7,5 ton/hari atau 2.800 ton/tahun maggot di Indonesia.  Jumlah 45,89 ton tersebut ekuivalen dengan 18.500 ton CO2e. “Jadi masyarakat itu kalau sudah bergerak sangat luar biasa. Angka itu memang kecil,” katanya.

Dukungan Pemda

Karena itu, pihaknya berharap dukungan Pemerintah Daerah untuk pengembangan maggot dari sampah organik dapur. Apalagi Ardhi menilai sangat memungkinkan potensi pengurangan sampah sisa makanan dengan BSF sebanyak 38,57 persen sangat memungkinkan.

Artinya, target Perpres No 97 Tahun 2017 mengenai pengurangan 30 persen sampah yang dikirim ke TPA adalah sesuatu yang tidak mustahil. Bahkan hitungan Ardhi, potensi pengurangan sampai bisa sampai 40 persen, bahkan lebih.

“Yang kami harapkan adalah dukungan dari kabupaten/kota dan dukungan infrastruktur, serta prasarana sarana dari pemerintah. Kita harus bareng-bareng mengatasi sampah ini, karena pengelolaan sampah merupakan sebuah sistem yang harus ditangani bersama semua pihak,” tuturnya.

Jika melihat dari sisi ekonomi, Ardhi mengakui, beternak maggot memang menguntungkan. Banyak produk yang bisa dihasilkan. Diantaranya, pupuk cair maggot dan bekas maggot (kasgot), pakan maggot untuk ternak dan budidaya ikan.

Ardhi mencontohkan, dengan memberikan pakan maggot segar (55 persen) yang dicampur pakan pabrik (45 persen), perkembangan ternak ayam cukup baik mencapai 2 kg dalam 30 hari. “Dagingnya juga enak dan gurih, serta lemaknya sedikit. Begitu juga dengan ikan lele tidak ada bau apa-apa,” katanya.

Jadi peluang bisnis budidaya maggot, mulai dari mengolahnya menjadi pupuk kompos, pupuk cairan dan pakan ternak. Selain menjadi solusi mengatasi limbah organik, ternyata budidaya maggot juga kian dilirik sebagai peluang bisnis menjanjikan.

Namun ia mengingatkan, dalam sosialisasikan maggot perspektifnya harus lingkungan hidup, jangan langsung mengejar ekonomi. Sebab, jika sebatas perspektif ekonomi, maka nanti akan sulit melakukan perhitungan bagaimana bisa mengembalikan biaya dari kegiatan budidaya maggot.

“Jadi perspektifnya harus dimulai dari lingkungan hidup. Kalau perspektif ekonomi, nanti sampah jadi komoditas yang diperjualbelikan. Akhirnya tujuan membantu petani dan peternak akan sulit tercapai. Ini merusak sistem,” tegasnya.

Karena itu Ardhi menegaskan harus dilihat dari sisi mengatasi persoalan lingkungan. Dengan mengembangkan maggot, minimal 45 persen masalah sampah bisa teratasi. Bahkan secara global mengurangi efek gas rumah kaca. “Ini harus dilakukan berbagai stakeholder, tidak hanya Dinas Lingkungan Hidup, harus kita dorong bareng-bareng,” katanya.

Perspektif selanjutnya adalah ketahanan pangan. Dengan membudidayakan maggot, setiap rumah tangga bisa membuat pupuk organik untuk kegiatan budidaya tanaman dan pakan ternak. Setelah itu baru perspektif usaha tani dan ternak yang lebih besar dalam bentuk kelompok.

“Setelah jumlah maggot banyak, baru kita pikirkan bisnisnya. Jadi pada tahap awal budidaya maggot, saya sarankan bukan menjual maggot, tapi ikan atau ayam, bisa juga hasil pertanian,” pesan Ardhi. Bagi pencinta lingkungan, Ardhi mengajak untuk bergabung dalam Paguyuban Peggiat Maggot Nusantara. Siapa mau bergabung?

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018