Rabu, 14 Januari 2026


Lewat Kebun Apih, Nandang Mengedukasi Bertani Anggur

10 Jan 2026, 11:13 WIBEditor : Herman

H. Nandang, Penggiat Anggur dan Pemilik Kebun Anggur Apih

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Di tengah hamparan tanaman anggur yang tumbuh rapi di kawasan Ujung Berung, Bandung, H. Nandang tidak sekadar menanam dan merawat pohon. Purnawirawan Polri itu menjadikan Kebun Anggur Apih sebagai ruang belajar terbuka, tempat masyarakat memahami cara bertani anggur yang benar.

Pandemi Covid-19 membawa perubahan besar bagi banyak orang, termasuk H. Nandang. Ia menemukan jalan hidup baru di sektor pertanian, tepatnya sebagai penggiat dan petani anggur.

Saat aktivitas di luar rumah sangat dibatasi akibat pandemi, H. Nandang memilih mengisi waktu dengan belajar budidaya anggur. Berawal dari ketertarikannya sebagai penggemar buah anggur, ia mempelajari teknik penanaman secara otodidak melalui berbagai sumber, mulai dari menonton video edukasi di YouTube, membaca referensi, hingga mempraktikkan langsung penanaman di rumah.

Ia juga aktif berdiskusi dengan para petani dan penggiat anggur dari berbagai daerah untuk memperdalam pemahaman.

Dalam proses belajar tersebut, H. Nandang banyak mendengar keluhan petani anggur pemula yang kerap menghadapi kegagalan, baik akibat kesalahan teknik, pemilihan varietas, hingga perawatan tanaman. Bagi pria yang memiliki hobi golf ini, kondisi tersebut justru menjadi tantangan sekaligus peluang untuk berkontribusi memberikan solusi nyata.

Berbekal keyakinan dan lahan yang dimilikinya, pada tahun 2021 H. Nandang mulai menanam ratusan varietas anggur di lahan yang berlokasi di Komplek Ujung Berung Indah, Jalan Segar VI No. 6 Blok K, Kelurahan Cigending, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung, Jawa Barat.

Lahan tersebut sebelumnya ditanami berbagai jenis buah, namun seluruh tanaman diganti dengan anggur karena ia melihat potensi besar komoditas ini untuk dikembangkan di Indonesia.

Dari sinilah lahir Kabun Anggur Apih, sebuah kebun yang tidak hanya berfungsi sebagai area budidaya, tetapi juga didedikasikan sebagai kebun edukasi dan agrowisata anggur.

Nama “Apih” diambil dari panggilan cucu tercinta kepada H. Nandang, yang mencerminkan nilai kekeluargaan dan kehangatan yang ingin ia hadirkan di kebun tersebut.

Di atas lahan seluas sekitar 1.300 meter persegi, H. Nandang sempat menanam ratusan varietas anggur. Namun seiring berjalannya waktu, ia melakukan seleksi ketat dan kini hanya mempertahankan puluhan varietas unggulan. Pemilihan tersebut didasarkan pada kesesuaian iklim, kemudahan perawatan, daya tahan tanaman, serta cita rasa buah yang disukai masyarakat.

Berbeda dengan kebun anggur pada umumnya, Kebun Anggur Apih tidak menjual buah hasil panen. Kebun ini secara khusus difungsikan sebagai tempat belajar menanam anggur yang benar.

Dengan ketersediaan buah sepanjang waktu, pengunjung diperbolehkan mencicipi anggur langsung dari kebun, dengan harapan pengalaman tersebut dapat memotivasi mereka untuk menanam anggur di rumah masing-masing.

“Saya ingin masyarakat bisa menanam anggur dengan benar dan menikmati hasilnya, yaitu bisa panen dari kebun mereka sendiri,” ujar H. Nandang.

Saat ini, H. Nandang juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Asosiasi Penggiat Anggur (ASPAI) Bandung Raya. Melalui Kebun Anggur Apih, ia aktif mengedukasi masyarakat mulai dari tahap awal penanaman, perawatan, pemangkasan, hingga panen.

Ia memiliki visi besar agar Indonesia suatu hari mampu mencapai swasembada anggur dan tidak lagi bergantung pada produk impor seperti yang terjadi saat ini.

Berbagai varietas anggur tumbuh subur di Kebun Anggur Apih. Mulai dari jenis yang populer di masyarakat seperti Jupiter, Ninel, dan Gos V, hingga varietas premium seperti Juroklonok atau Zuraflonok.

Varietas unggulan ini dikenal memiliki tingkat kemanisan di atas 20 Brix, berwarna hitam saat matang, bertekstur renyah (crunchy), serta memiliki keunggulan daya simpan yang cukup lama meski berada pada suhu ruang.

Menariknya, kebun yang berada di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut ini juga memiliki pohon induk varietas unggul yang saat ini sedang dalam proses pendaftaran varietas, yakni Furoda Jabaragritek. Varietas asal Ukraina ini memiliki rasa manis yang harmonis dengan tekstur buah yang renyah dan menjadi salah satu andalan Kebun Anggur Apih.

Untuk mendukung perannya sebagai kebun edukasi, H. Nandang melengkapi Kebun Anggur Apih dengan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari area pelatihan hingga tim pendamping yang siap memberikan informasi dan pendampingan teknis kepada pengunjung. Tidak hanya masyarakat umum, kebun ini juga kerap dikunjungi mahasiswa, peneliti, serta tamu dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga Papua.

“Begitu ada pengunjung datang, saya langsung berikan edukasi. Di sini saya bukan sekadar menjual bibit, tapi menjual kehidupan. Artinya, dengan edukasi yang saya berikan, bibit bisa ditanam dengan baik, hidup, dan menghasilkan buah,” jelasnya.

Bibit anggur yang ditawarkan di Kebun Anggur Apih memiliki tinggi minimal sekitar 80 sentimeter dan siap tanam. Untuk varietas umum seperti Jupiter, Ninel, dan Gos V, bibit dibanderol sekitar Rp150 ribu per batang. Sementara untuk varietas khusus seperti Juroklonok/Zuraflonok dan Kyoho asal Jepang, harganya berkisar Rp400 ribu per bibit.

Ke depan, H. Nandang berharap semakin banyak masyarakat yang tertarik dan mampu membudidayakan anggur secara benar. Menurutnya, budidaya anggur tidak memerlukan lahan luas, namun memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun pemenuhan gizi keluarga.

 

 

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018