
H.Yahman, Raja Gas Depok yang mulai melirih dunia pertanian
TABLOIDSINARTANI.COM, Depok --- Di tengah kesibukannya mengelola jaringan distribusi gas elpiji Raja Gas yang telah dikenal luas di Kota Depok, H. Yahman Setiawan mengambil langkah tak biasa. Pengusaha yang lama berkecimpung di sektor energi ini melirik dunia pertanian, membangun Bosstan, kebun pertanian edukatif di tengah kota untuk mengenalkan kembali alam dan pertanian kepada generasi muda.
Pesatnya alih fungsi lahan di Kota Depok, menimbulkan keprihatinan H. Yahman dan istri, Hj. Reny Destiany Setiawan. Karena itu sepetak tanah kosong miliknya yang berada di Jl. H. Abdul Gani II, Kalibaru, Kec. Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, kini berubah menjadi kawasan pertanian terpadu yang hijau dan produktif.
Lahan yang sebelumnya tak termanfaatkan itu kini disulap menjadi sebuah kebun edukasi yang mengusung konsep pertanian modern, ramah lingkungan, dan berorientasi pada masyarakat.
H. Yahman menuturkan, gagasan membangun Bosstan berawal dari keprihatinannya melihat lahan miliknya yang dibiarkan kosong. Ia pun berinisiatif mengubahnya menjadi lahan pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga memberi manfaat bagi warga sekitar.

“Awalnya saya melihat lahan ini kosong dan belum termanfaatkan dengan baik. Dari situ muncul keinginan untuk menjadikannya lahan pertanian yang bisa menjadi contoh bagi masyarakat, terutama bagaimana bercocok tanam dengan cara yang lebih modern dan ramah lingkungan,” ujar H. Yahman.
Pertanian yang dikembangkan di Bosstan berbeda dengan pertanian manual yang selama ini dikenal masyarakat. Di lahan ini, H. Yahman dan istri mencoba memperkenalkan sistem pertanian modern sebagai contoh nyata, bukan sekadar teori.
Nama H. Yahman sendiri bukan sosok asing di Kota Depok. Mantan sopir angkot ini dikenal sebagai pengusaha sukses di bidang distribusi gas elpiji dengan nama Raja Gas, usaha yang telah lama berkembang dan memiliki jaringan luas.

Bahkan H. Yahman juga pernah menjual minyak tanah secara keliling dan menjadi salah satu perintis usaha gas di kota Depok.
“Alhamdulillah, usaha gas kami berkembang dan dikenal luas,” ungkapnya.
Selain sebagai bentuk pemanfaatan lahan, Bosstan juga lahir dari keinginan istri tercinta Hj. Reny untuk menghadirkan ruang edukasi pertanian bagi generasi muda
.
Ia khawatir anak-anak di perkotaan semakin jauh dari dunia pertanian.
“Saya tidak ingin anak-anak nanti tidak tahu seperti apa bentuk pohon sayur, melon, atau buah-buahan lainnya. Sekarang ini lahan pertanian di Depok semakin berkurang karena banyak yang beralih fungsi menjadi perumahan,” tutur Hj. Reny.
Dalam mengembangkan Bosstan, dukungan keluarga menjadi kekuatan utama. Hj. Reny menyebut sang suami sangat mendukung penuh sejak awal pembangunan kebun tersebut.

Ke depan, mereka juga berencana mengembangkan pertanian serupa di lahan milik keluarga lainnya.
Saat ini, Bosstan telah dilengkapi dengan dua greenhouse berukuran masing-masing 100 meter persegi yang ditanami sayuran hidroponik seperti selada (lettuce) dan pakcoy.
Hasilnya dinilai cukup baik. Selain itu, satu greenhouse lainnya ditanami melon jenis Chamoe dan Delmation yang memiliki rasa unik serta tampilan menarik.
Tak berhenti pada pertanian tanaman, Bosstan juga dirancang menjadi kawasan edukasi terintegrasi. Ke depan, area ini akan dikembangkan dengan sektor peternakan dan perikanan, sehingga menjadi eduwisata pertanian bagi anak-anak dan masyarakat umum.

Menariknya, Bosstan juga dihubungkan dengan program dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) yang dikelola Hj. Reny dan kini telah memiliki dua dapur di Kota Depok.
Dari dapur MBG tersebut, setiap hari dihasilkan sekitar 50 kilogram sampah organik berupa sisa makanan, kulit buah, dan sayuran.
“Saya melihat limbah dapur MBG ini sangat potensial untuk dimanfaatkan. Sampah organiknya bisa diolah menjadi pupuk, sehingga mendukung konsep zero waste dan bisa digunakan kembali di pertanian,” jelas Hj. Reny.
Menurutnya, konsep ini sejalan dengan semangat ketahanan pangan, di mana produksi pangan bisa dimulai dari lingkungan terdekat, bahkan dari rumah.
Ia optimistis, jika sektor pertanian dikelola secara serius dengan dukungan teknologi, Indonesia mampu mencapai swasembada pangan.

“Kalau para pelaku usaha mau berinvestasi dan konsisten di pertanian dengan teknologi, saya yakin Indonesia bisa swasembada pangan,” tegasnya.
Pembangunan Bosstan sendiri dilakukan secara bertahap. Hj. Reny mengakui, hasilnya memang belum terlihat secara instan.
Namun, ia terus melakukan evaluasi agar ke depan Bosstan siap dibuka secara luas sebagai pusat edukasi pertanian di Kota Depok.
Melalui Bosstan, ia juga ingin mengajak rekan-rekannya yang memiliki lahan tidak terpakai untuk memanfaatkannya menjadi lebih produktif melalui pertanian.
Ia berharap kebun ini kelak bisa ditanami komoditas dengan pasar luas seperti cabai, sekaligus membuka lapangan kerja dan mengurangi pengangguran di sekitar lokasi.
Harapan besar pun disampaikan Hj. Reny. Baginya, Bosstan bukan semata tentang keuntungan materi.
“Saya ingin bermanfaat. Anak-anak bisa lebih mengenal pertanian, peduli lingkungan, dan memahami konsep go green. Mungkin ini langkah kecil, tapi semoga bisa membentuk generasi yang lebih baik dan membawa Indonesia menuju kesejahteraan,” pungkasnya.