Polbangtan Kementan mengevaluasi K-Smart Farm untuk mengoptimalkan teknologi pertanian modern, memperkuat kompetensi petani milenial, dan menjaga keberlanjutan smart farming.
TABLOID SINAR TANI.COM, Bogor – Polbangtan Kementan mengevaluasi K-Smart Farm untuk mengoptimalkan teknologi pertanian modern, memperkuat kompetensi petani milenial, dan menjaga keberlanjutan smart farming.
Program pertanian pintar atau smart farming hasil kerja sama Indonesia dan Korea Selatan menghadapi sejumlah tantangan teknis yang perlu segera dibenahi.
Melalui evaluasi K-Smart Farm, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor mendorong perbaikan fasilitas, penguatan keterampilan sumber daya manusia, hingga strategi pemasaran agar teknologi pertanian modern benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi petani.
Monitoring dan evaluasi (monev) tersebut berlangsung di Ruang Seminar 2 Polbangtan Bogor, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan ini melibatkan tim KNU-IIRD Korea Selatan, Sekretariat Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), pengelola K-Smart Farm, serta alumni pelatihan jangka panjang.
Evaluasi difokuskan pada proyek Enhancing Millennial Farmers’ Income by Adopting K-Smart Farm Technology in Indonesia.
Program ini dirancang untuk meningkatkan pendapatan petani milenial melalui penerapan teknologi pertanian cerdas sekaligus memperkuat kompetensi sumber daya manusia pertanian.
Namun, hasil evaluasi menunjukkan bahwa keberlanjutan smart farming tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan teknologi. Kesiapan peralatan, kemampuan pengelola, biaya pemeliharaan, hingga akses pasar turut menentukan keberhasilan penerapannya.
Dalam evaluasi bersama tim teknis, sejumlah kendala ditemukan pada fasilitas smart greenhouse.
Sistem pemantauan berbasis web server belum dapat diakses, sementara beberapa sensor dan peralatan pemompa mengalami gangguan. Sistem otomatis pada mesin fogger juga belum berfungsi secara optimal.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena fasilitas K-Smart Farm memiliki peran penting dalam pembelajaran praktik mahasiswa dan pengembangan keterampilan petani.
Perbaikan sistem, ketersediaan suku cadang, serta pelatihan teknis lanjutan dinilai diperlukan agar fasilitas dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selama ini menekankan pentingnya modernisasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan produktivitas, dan penguatan kualitas sumber daya manusia.
Sejalan dengan arah tersebut, pengembangan smart farming diharapkan mampu mendorong pertanian Indonesia menjadi lebih efisien dan berdaya saing.
Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia pertanian agar mampu beradaptasi dengan transformasi teknologi.
Kerja sama internasional seperti K-Smart Farm diharapkan memperluas pengalaman dan keterampilan pengelola pendidikan vokasi, mahasiswa, serta petani.
Di Polbangtan Bogor, fasilitas smart greenhouse telah dimanfaatkan untuk pembibitan cabai, tomat, dan terong, serta budidaya tomat ceri dan melon. Bibit yang dihasilkan bahkan telah dipasarkan kepada petani dan mahasiswa di wilayah Bogor.
Artinya, fasilitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan usaha.
Meski demikian, peluang tersebut membutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan, terutama dalam pemeliharaan peralatan dan pengendalian biaya operasional.
Alumni pelatihan K-Smart Farm yang mengikuti program pada 2024 dan 2025 turut memberikan masukan.
Pelatihan dalam empat gelombang tersebut dinilai meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelolaan greenhouse.
Namun, peserta juga menyoroti perlunya pendampingan untuk memperluas akses pasar dan menghasilkan produk berkualitas dengan harga kompetitif.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Muhammad Amin menekankan pentingnya menjadikan fasilitas pendidikan vokasi sebagai sarana pembelajaran yang terhubung dengan kebutuhan nyata sektor pertanian.
Sementara itu, Direktur Polbangtan Bogor Yoyon Haryanto menegaskan bahwa hasil evaluasi perlu ditindaklanjuti secara konkret, mulai dari perbaikan fasilitas hingga penguatan aspek usaha dan pemasaran.
Menurutnya, K-Smart Farm berpotensi menjadi sarana pembelajaran, pengembangan inovasi, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia pertanian. Optimalisasi fasilitas diperlukan agar teknologi yang tersedia memberikan manfaat lebih luas bagi mahasiswa dan petani.
Tantangan lain yang turut menjadi perhatian ialah kebutuhan biaya operasional, pengadaan sarana produksi, perawatan sensor, serta suku cadang yang harus didatangkan dari Korea Selatan.
Karena itu, perencanaan pembiayaan dan penguatan transfer pengetahuan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program.
Melalui evaluasi ini, Polbangtan Bogor bersama mitra Korea Selatan diharapkan dapat memperkuat koordinasi, memperbaiki kendala teknis, dan meningkatkan kemampuan pengelola.
Dengan dukungan tersebut, smart farming diharapkan tidak berhenti sebagai proyek kerja sama, tetapi berkembang menjadi solusi pertanian modern yang produktif, terjangkau, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia. (wsd)