Friday, 16 October 2026


Polbangtan Kementan Jajaki Drone Canggih Korea Selatan

16 Oct 2026, 16:30 WIBEditor : Gesha

Polbangtan Kementan menjajaki teknologi drone pertanian Korea Selatan untuk memperkuat kompetensi SDM dan mendorong modernisasi pertanian Indonesia.

TABLOIDSINARTANI.COM, Serpong – Polbangtan Kementan menjajaki teknologi drone pertanian Korea Selatan untuk memperkuat kompetensi SDM dan mendorong modernisasi pertanian Indonesia.

Teknologi drone pertanian Korea Selatan mulai dilirik untuk mendukung modernisasi pertanian Indonesia. 

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor menjajaki perkembangan teknologi tersebut dalam Pertemuan Bilateral Indonesia–Korea Selatan dan Drone Capacity Development Academy 2026 di Balai Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Mektan, Serpong, 13–14 Oktober 2026.

Bukan sekadar untuk menyemprot tanaman, drone yang diperkenalkan dalam forum tersebut juga dirancang untuk menebar benih hingga menyebarkan pupuk. 

Teknologi ini menjadi salah satu referensi bagi pengembangan pertanian modern, terutama dalam meningkatkan efisiensi pekerjaan di lahan sekaligus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) pertanian yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan berasal dari perusahaan Korea Selatan, Cheonpung. Drone pertanian multifungsi tersebut memiliki konsep penggunaan modul yang dapat diganti sesuai kebutuhan operasional.

Dalam paparan perusahaan, sejumlah model drone memiliki kapasitas tangki cairan semprot 16 liter, 20 liter, hingga 40 liter.

Variasi kapasitas tersebut memberikan gambaran mengenai pilihan teknologi yang dapat dikaji untuk mendukung kegiatan pertanian di Indonesia.

Namun, pemanfaatannya tidak bisa dilakukan begitu saja. Kesesuaian dengan kondisi lahan, biaya operasional, keselamatan penerbangan, serta manfaat ekonomi bagi petani tetap perlu menjadi pertimbangan sebelum teknologi diterapkan lebih luas.

Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong modernisasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi dan peningkatan kompetensi SDM. 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani dalam mendukung swasembada pangan nasional.

Sejalan dengan arah tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya menyiapkan petani, penyuluh, mahasiswa, dan pelaku usaha pertanian agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Bagi Polbangtan Bogor, penjajakan ini menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan mengenai mekanisasi dan digitalisasi pertanian. 

Pengenalan teknologi drone juga dapat menjadi referensi dalam menyiapkan lulusan pendidikan vokasi yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan sektor pertanian modern.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Muhammad Amin menyoroti pentingnya pendidikan vokasi dalam menyiapkan generasi muda yang mampu mengikuti perkembangan teknologi melalui pembelajaran berbasis praktik.

Sementara itu, Direktur Polbangtan Bogor Yoyon Haryanto menegaskan bahwa penguasaan teknologi perlu diintegrasikan dengan pengetahuan dan keterampilan praktis agar SDM pertanian siap menghadapi perubahan di lapangan.

Tak hanya membahas perangkat drone, forum Indonesia–Korea Selatan tersebut juga mengulas sistem regulasi dan keselamatan penerbangan di Korea Selatan.

Narasumber dari Korea Transportation Safety Authority (KOTSA/TS) memaparkan mekanisme registrasi drone, kualifikasi pilot, pengawasan lembaga pelatihan, hingga pengujian kompetensi operator.

Peserta juga diperkenalkan dengan pemanfaatan teknologi digital untuk verifikasi lisensi serta simulasi Virtual Reality (VR) dalam pembelajaran. 

Fasilitas Gimcheon Drone Qualification Center turut diperkenalkan melalui tayangan video yang memperlihatkan sarana ujian teori, pengujian praktik, dan fasilitas pendukung lainnya.

Selain itu, diskusi mencakup peluang akses pasar, pengujian produk, kemungkinan produksi komponen di dalam negeri, serta pertimbangan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Meski membuka peluang pengembangan teknologi pertanian, kegiatan tersebut masih berada pada tahap pertukaran informasi dan penjajakan. Belum ada kesepakatan formal mengenai pelatihan lanjutan, Training of Trainers (ToT), kurikulum, pendanaan, maupun jadwal tindak lanjut khusus BPPSDMP.

Dengan demikian, drone canggih Korea Selatan belum dapat disebut sebagai teknologi yang sudah resmi diterapkan melalui program tersebut. Penjajakan selanjutnya masih memerlukan kajian kelayakan, proposal resmi, pembagian peran, dan kejelasan pembiayaan.

Bagi Indonesia, tantangannya bukan hanya mendatangkan teknologi canggih, tetapi memastikan inovasi tersebut sesuai kebutuhan petani, aman digunakan, dan memberikan manfaat ekonomi. 

Penguatan kompetensi SDM menjadi kunci agar perkembangan drone pertanian tidak berhenti sebagai pengenalan teknologi, melainkan dapat menjadi bagian dari transformasi pertanian nasional. (wsd)

Reporter : Wsd
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018