Minggu, 18 Agustus 2019


Kalau Tidak Jadi Menteri Pertanian Lagi, Ini Aktivitas yang Amran Lakukan

27 Mei 2019, 12:51 WIBEditor : Gesha

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman terus optimis untuk berkarya di pertanian. | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pemerintahan baru pasca pemilu akan terbentuk dalam waktu dekat, pucuk pimpinan kementerian pun sepertinya akan diganti, seperti jabatan Menteri Pertanian (Mentan). Nah kalau Amran Sulaiman tidak akan menjadi Mentan lagi, kira-kira apa yang akan dirinya lakukan ya?

"Jiwaku adalah ingin membuat nyaman petani. Makanya saya ingin membuat alat maupun pertanian terpadu. Misalnya, tanam padi bisa panen 10 ton, dengan alat panen sekaligus langsung mengolah tanah kemudian langsung aku pupuk pakai drone," tutur Menteri Pertanian, Amran Sulaiman kepada tabloidsinartani.com.

Dengan cara pertanian semacam ini, petani hanya cukup bekerja 4-5 jam sehari saja, dari yang sebelumnya dilakukan selama 1 bulan. "Petaninya untung, biayanya separuh. Naik 2 kali produksinya, pendapatannya juga naik 200 persen. Biaya produksinya juga ditekan," beber Menteri Amran.

Pemikiran visioner dan out of the box seperti ini diharapkan Amran juga bisa ditiru oleh yang lainnya. "Kemarin saya tanya-tanya butuh biaya berapa untuk realisasikan itu, Rp 30 Milyar?Selesai sudah," tukasnya.

Dengan alsintan tersebut, setidaknya mendapatkan untung Rp 500 ribu per hektarnya sehingga per satu musim tanam bisa mencapai Rp 8 trilliun. Tak hanya menciptakan alsintan, dirinya juga menjadi offtaker (pemasarannya).

"Dijual dengan harga Rp 4 ribu, aku beli Rp 5 ribu per kilogramnya. Langsung aku packaging dan jual Rp 12 ribu per kilogram. Karena mesinnya yang aku pasang adalah yang terbaik," tukasnya.

Meskipun begitu, Menteri Amran enggan menjelaskan dimanakah kompleks pertanian terpadu yang akan dirinya kembangkan nanti. "Nantikan saja gebrakan aku," tukasnya.

Inovasi Tiada Henti

Menteri Amran memang menaruh perhatian yang besar pada inovasi pertanian untuk bisa mempermudah dan meningkatkan kesejahteraan petani. Dirinya sempat menuturkan pertanian di Jepang yang bisa efisien dan terpadu dengan adanya mekanisasi yang diterapkan oleh petani.

Karenanya, Menteri Amran juga mendorong agar asosiasi maupun Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di daerah mampu menjadi inovator. "Mereka menciptakan inovasi yang sesuai dengan daerahnya kemudian disebarkan oleh PPL sampai tingkat kecamatan. Bayangkan terjadi lompatan dan multiplier effect di setiap daerah," tuturnya.

Bahkan Menteri Amran menantang inovasi yang dihasilkan harus setiap detik. "Caranya semua teknologi seluruh Indonesia bisa diakses setiap detik di wilayah tersebut melalui website. Kita lakukan otomatisasi, internet digitalisasi. Inilah yang akan menggerakkan petani-petani untuk kembali ke pertanian," beber Menteri Amran.

 

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018