Sabtu, 24 Agustus 2019


Fajar Budiyuwono, Jatuh Bangun Besarkan Kopi Gurilang sampai ke Korea

07 Agu 2019, 23:09 WIBEditor : Gesha

Fajar Budiyuwono jatuh bangun mengembangkan kopi Gurilang dari tanah kelahirannya | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Pemalang --- Jika berkunjung ke Jawa Tengah, Kopi Gurilang dari Desa Gunung Sari, Kabupaten Pemalang sangatlah mahsyur disebut. Bahkan ada anggapan, belum sah jika belum cicipi Kopi Gurilang. Kemahsyuran Kopi Gurilang ini bahkan sampai ke negeri Ginseng, Korea Selatan.

Kopi Gurilang adalah andalan dari Kelompok Tani Karya Harapan yang dinakhkodai oleh Fajar Budiyuwono. Tak hanya berupa kopi bubuk, aneka olahan kopi lainnya juga dibuat oleh kelompok ini, seperti Cascara Kopi, Parfum Kopi dan Masker Kopi. Saat ini bahkan Kopi Gurilang sudah bermitra dengan Legita Cofee yang berada di Pemalang dan Tanah Merah Cofee di Jakarta yang dimiliki oleh buyer dari Korea. 

"Soal rasa, kopi berjenis arabika dan robusta asal Pemalang tidak kalah dengan kopi dari daerah lain. Bahkan, saat diseruput, rasa dan aroma kopinya  sangat kuat. Mungkin karena kopi ini diproses secara alami dan tradisional jadi rasanya sangat khas", ujar Fajar setengah berpromosi. 

Kerja keras dan jatuh bangun membangun citra Kopi Gurilang dirasakan betul oleh Fajar Budiyuwono. Di tahun 2004, Fajar yang merupakan putra Desa Gunungsari melihat kopi di desanya belum dikelola masyarakat dengan baik.

"Pemetikan masih seenaknya, biji kopi yang masih hinah asalkan buahnya sudah keras main dipetik begitu saja. Karena itu, saya merasa terpanggil untuk bisa mengubah kebiasaan masyarakat itu" beber Fajar.

Berbekal ilmu dari Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang dilaksanakan pemerintah, Fajar kemudian mengajak pemuda-pemuda desa untuk memperbaiki kondisi kopinya.

''Di desa Gunungsari dan beberapa desa lain seperti Gambuhan, Penakir, Jurangmangu dan Batursari, para petani umumnya menanam kopi jenis arabika. Sedangkan  di desa Pulosari, Gambuhan dan Banyumudal, para petani umumnya menanam kopi robusta," tutur Fajar.

Pada awalnya kelompok menjual buah merah kopi kepada pengepul di Kabupaten Wonosobo dengan harga Rp. 2000/kg untuk kopi jenis robusta dan Rp. 3.000/Kg untuk kopi jenis Arabica. Kondisi ini berlangsung sampai dengan tahun 2010. Mulai tahun 2011, Fajar dan teman-teman kolompoknya mulai berfikir untuk memproduksi greenbean karena harga kopi saat itu mulai meningkat. 

Setelah mencoba menggali informasi, pada tahun 2014 Kelompok Tani Karya Harapan mencoba mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa untuk bantuan sarana pascapanen kopi. “Kami mencoba usul kepada pemerintah kabupaten dan diteruskan kepada provinsi untuk meminta bantuan alat pascapanen kopi, Alhamdulillah, akhirnya tahun 2015 ada bantuan Fasilitasi Sarana Pasapanen dari Ditjen Perkebunan melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah," ungkap Fajar.

Bantuan Ditjen Perkebunan tahun 2015 tersebut berupa Huller (1 unit), Pulper (1 unit), Timbangan Duduk (1 unit), Para-para dan terpal ( 8 buah), Alat Ukur Kadar Air (1 unit l), dan Bangunan UPH sebanyak 1 unit. 

Kelompok Fajar tersebut benar-benar memulai semuanya dari 0 (nol). Saat ini kelompok sudah memiliki kepengurusan yang baik dan juga telah memilliki koperasi dengan nama Karya Mandiri Sejahtera. Anggota tetap koperasi saat ini berjumlah 83 orang dengan kas yang dimiliki mencapai lebih dari 200 juta rupiah.

“Modal awal koperasi diawali dari iurang pokok anggota sebesar Rp. 50.000, simpanan wajib sebesar Rp.15.000/bulan.  Modal awal saat itu yang diperoleh sebesar Rp.625.000 dan digunakan untuk membeli buah kopi merah dari anggota dan membeli pulper untuk mengolah kopi, Alhamdulillah harga dan pemasaran kopi makin baik sehingga seperti saat ini," katanya. 

Dari aspek legalitas kelompok tani ini telah memiliki SK Kemenkum dan HAM No. AHU-0007176.AH.01.07 Tahun 2015 dengan luas areal kebun kelompok seluas 50 Ha.  Bentuk produksi sebelum ada fasilitasi pascapanen buah basah dengan jumlah 100 Ton/tahun  dengan harga Rp. 3.000/kg.

Bentuk produksi setelah difasilitasi alat dan bangunan pascapanen kelompk tani ini memproduksi Greenbean Arabica per tahun antara lain greenbean Arabica sebanyak 7 Ton, dengan harga Rp. 80.000/kg. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk produksi per kg sebesar Rp. 1.500.

Dalam mengelola kelompok dan koperasi bukan tanpa kendala, banyak kendala yang dihadapi. Kendala yang dihadapi salah satunya ialah kapasitas sarana pascapanen kopi yang saat ini dirasakan makin terbatas, karena semakin banyak permintaan akan kopi Gurilang kepada kelompok tani ini.

"Kami masih membutuhkan huler, pulper dan tempat penjemuran yang lebih besar mengingat permintaan yang semakin meningkat. Kami berharap pemerintah dapat mensuport kami untuk meningkatkan skala usaha," imbuh Fajar.

Selain itu, mereka juga mengalami kesulitan dalam memperoleh sumber air yang bagus. "Air yang kami gunakan untuk memproses kopi secara full wash kami peroleh dengan membeli air Rp. 40.000/meter kubik," tambahnya.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018