Senin, 18 November 2019


Jadikan Indonesia Kuat di Tangan Petani dan Penyuluh Milenial

08 Agu 2019, 13:47 WIBEditor : Gesha

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaha Manusia Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi terus meggeber petani dan penyuluh pertanian millenial sebagai ujung tombak pertanian masa depan | Sumber Foto:HUMAS BPPSDMP

TABLOIDSINARTANI.COM, Pontianak -- Masa depan pertanian Indonesia sudah tidak bisa ditawar lagi untuk bisa dikelola oleh petani dan penyuluh milenial. 

“Petani milenial harus cerdas, melek teknologi, melek ICT tahan banting dan yang tidak kalah penting memiliki entrepreneurship yang tinggi," tutur Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Prof. Dedi Nursyamsi ketika berkunjung ke Kebun Percobaan Sungai Kakap, Pontianak, Kamis (8/8).

Karenanya, Kebun Percobaan Sungai Kakap yang dimiliki oleh Kementerian Pertanian dan dikelola oleh BPTP Kalbar. "Kebun Percobaan Sungai Kakap ini adalah salah satu sarana tempat untuk menggembleng petani milenial dan penyuluh Kalbar," pesan Kepala BPPSDMP Prof. Dedi Nursyamsi di depan para petani milenial yang sedang magang di kebun percobaan tersebut.

Prof Dedi juga mengingatkan pentingnya Penyuluh ibarat ujung tombak. "Ibarat perang yang paling terdepan itu infantri itulah penyuluh. Pernah lihat ujung tombak?," ujar Prof Dedi kepada para penyuluh yang hadir.

Prof Dedi menceritakan ujung tombak terbuat dari besi, logam, tonggaknya terbuat dari kayu. Dari warna logam mengkilat artinya penyuluh itu harus seperti logam. "Keras nya harus lebih keras dari kayu, Mengkilatnya harus lebih mengkilat juga dari kayu. Ujung tombak harus lebih tajam dari gagang kayu yang terbuat dari tombak," tuturnya menggambarkan penyuluh seperti tombak.

Sedangkan peneliti, pendidik, dosen, widyaiswara sebagai gagang tombak. "Sehingga penyuluh harus lenih tajam dari peneliti. Penyuluh kesehariannya bertemu petani, ketemu milenial. Anda para penyuluh lah yang membangun semangat petani milenial untuk menanam, memupuk hingga mengetahui cara mengolah produk pangan bahkan packaging. Peran penyuluh itu luar biasa," tegasnya memotivasi petani.

Karena itu ilmu, semangat, mental penyuluh harus luar biasa. Sehingga jika pangan kuat negara pasti kuat. "Tapi kalau pangannya lemah alias kekurangan pangan negara pasti lembek. Negara Uni Soviet karena paceklik saat itu tidak bisa produksi gandum akhirnya kelaparan, diikuti krisis pangan lalu krisis sosial politik, ekonomi sehingga akhirnya bubar.  Sama kita juga," tegas Prof Dedi.

Artinya NKRI harga mati kalau pangan kuat, maka NKRI kuat. "Karena itu pangan juga harga mati karena tidak ada pangan tidak ada NKRI," pungkasnya.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018