Sabtu, 14 Desember 2019


Indah Sofiati, Bawa Jeruk Purut Menembus Negeri Perancis

12 Agu 2019, 18:28 WIBEditor : Gesha

Indah Sofiati (kiri), membawa jeruk purut ke pasar luar negeri | Sumber Foto:JULIANTO

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --Kementerian Pertanian saat ini terus menumbuhkan generasi milenial untuk terjun dalam usaha tani, termasuk menjadi eksportir dan mendorong diversifikasi ekspor produk pertanian. Dengan strategi itu diharapkan akan semakin banyak produk pertanian Indonesia yang merambah pasar mancanegara.

Salah satu sosok generasi milenial tersebut adalah Indah Sofiati, Direktur PT Cakrawala Skyline. Sosok wanita muda tesebut merupakan pendatang baru dalam dunia usaha, khususnya eksportir produk pertanian. Bahkan ia mampu menembus pasar komoditas pertanian Uni Eropa, khususnya Perancis, dengan komoditas yang selama ini jarang terpikirkan oleh pelaku usaha lainnya yakni jeruk purut.

“Untuk bisa masuk ke pasar pertanian di Perancis tidak mudah, tidak cukup sebulan atau dua bulan. Tapi setelah saya mengetahui titik masuknya dan dengan penanganan khusus, akhirnya bisa juga masuk. Misalnya berapa ukuran dan berat jeruk purut yang dibutuhkan,” kata Indah.

Usaha yang dibangun Indah memang tidak mudah. Sebelum terjun sebagai eksportir, Indah memang sempat tinggal di Negeri Menara Eiffel ini selama 16 tahun. Kebetulan sang suami merupakan seorang yang pernah bekerja sebagai pemasaran komoditas sayuran di Perancis.

Melihat peluang pasar sayuran di Perancis cukup besar, apalagi lagi selama ini banyak diisi dari Negara-negara lain, akhir tahun 2016, Indah bersama suami memutuskan untuk pindah dan tinggal di Jakarta.

“Waktu itu saya berpikir bisnis apa yang harus saya lakukan. Saya coba kontak teman di Perancis, ternyata mereka mencari jeruk purut,” tuturnya. Namun saat itu, Indah juga tidak begitu mengetahui, jeruk purut itu seperti apa. Akhir berbakat mencari informasi dari berbagai sumber, Indah pun paham mengenai jeruk purut, termasuk lokasi sentra produksinya di Indonesia.

Pada tahun 2017, Indah mulai sepenuhnya terjun menjadi eksportir. Namun saat ingin mencari jeruk purut, ia mengakui tidak mudah mendapatkan. Sebab, jeruk purut termasuk komoditas yang langka dan tidak secara khusus dibudidayakan petani.  “Saya mencari ke pelosok desa, akhirnya saya temukan yang banyak petaninya menanam ada di Blitar dan Tulungagung. Jeruk purut, sebenarnya ada, tapi tersebar di beberapa wilayah Indonesia,” ungkapnya.

Kendala lain yang dialami Indah untuk mendapatkan jeruk purut sesuai dengan permintaan pasar Perancis adalah kualitas. Umumnya petani tidak merawat secara baik tanaman jeruk purut, sehingga kualitas jeruk purutnya kurang baik.

“Untuk mendapatkan jeruk yang bagus dengan kualitas bagus tidak mudah. Saya hanya bisa mencapatkan 500 kg/bulan, maksimal 1 ton/bulan, padahal kebutuhannya mencapai 1-2 ton/bulan. Tapi sekarang dengan berjalannya waktu, saya bisa kirim 2-4,5 ton/bulan,” tuturnya.

Indah diakui, hingga kini untuk mendapatkan pasokan jeruk purut di dalam negeri tidak mudah. Selain pasokannya tidak kontinyu, juga dalam mendapatkan jeruk purut, pihaknya terhadang banyaknya pengepul, sehingga harganya menjadi cukup mahal. “Mungkin petani tidak mengambil untung banyak. Saya tahu harga di petani hanya sekitar Rp 8-10 ribu/kg, tapi ketika dipengepul mencapai Rp 25 ribu/kg,” katanya.

Karena harganya menjadi cukup mahal, menurut Indah, komoditas jeruk purut Indonesia sulit bersaing dengan Negara lain, seperti Thailand, Madagaskar dan Vietnam. Hitungan Indah, jeruk purut asal Indoensia saat mencapai Uni Eropa harganya mencapai 4 Euro, sedangkan dari Negara lain hanya 2-3 Euro. “Masalah lain di kita adalah ongkos transportasinya juga mahal,” katanya.

Bantuan Karantina

Terlepas dari berbagai kendala dalam mendapatkan pasokan jeruk purut, Indah menilai, berkat bimbingan dan bantuan Badan Karantina Pertanian, dirinya kini bisa mengirim jeruk purut ke Perancis dengan mudah. Padahal sebelumnya, proses untuk bisa mendapatkan ijin ekspor berlika-liku. “Kini kami bisa melancarkan ekspor jeruk purut. Padahal tidak mudah masuk Eropa, apalagi ke Perancis,” katanya.

Indah optimis, peluang produk pertanian Indonesia untuk masuk ke pasar Uni Eropa cukup besar. Bahkan komoditas manggis permintaannya cukup besar. Sayangnya memang pasokan dari dalam negeri belum bisa memenuhi.

Sementara itu untuk membantu pelaku usaha, khususnya eksportir, Menteri Pertanian telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 19 tahun 2019 tentang Pengembagan Ekspor Pertanian. “Ekspor kita beri karpet merah, kalau perlu dimerahkan  lagi. Maksudnya dipermudah terus. Harus kita dorong, kita datangi dan jemput bola,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil.

Ada lima terobosan yang disiapkan untuk menggenjot ekspor. Pertama, memberikan kemudahan bagi eksportir dalam perijinan melalui OSS. OSS merupakan program perijinan terpadu, sehingga prosesnya bisa lebih cepat. “Jadi jika sebelumnya ijin baru keluar tiga tahun, tiga bulan, sekarang hanya 3 jam. Bahkan kalau berkas, mungkin tidak sampai tiga jam,” katanya.

Terobosan kedua, menurut Ali Jamil yakni mendorong generasi milenial untuk menjadi eksportir melalui program Agro Gemilang. Ketiga kebijakan Inline inspection. Dalam program ini Badan Karantina Pertanian melakukan kunjungan langsung ke eksportir, dari tingkat budidaya hingga handling. Dengan demikian mempermudah pelaku usaha dalam menangani produk yang akan diekspor.

Ke empat, program I-Mace. Dengan I-Mace, bisa diketahui data sentra komoditas pertanian dan berpotensi ekspor. Bahkan di I-Mace juga terdapat data produk pertanian yang diekspor dan Negara tujuannya. Terobosan kelima yakni elektornik sertifikat (E-Cert).

Dengan E-Cert, produk pertanian yang diekspor lebih terjamin.  Jadi negara tujuan ekspor akan menerima sertifikasi secara online, kemudian langsung diperiksa dan diteliti. “Setelah semua Ok, barang bisa jalan. Jadi barang tidak akan ditolak di negara tujuan,” ujarnya. **

Reporter : TABLOID SINAR TANI
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018