Rabu, 18 September 2019


Udin Suhardin : Penyuluh Jadi Panggilan Hidup dan Sekaligus Tambah Saudara

05 Sep 2019, 14:36 WIBEditor : Gesha

Meskipun berpeluh keringat dan berstatus THLTBPP | Sumber Foto:INDARTO

TABLOIDSINARTANI.COM, Kuningan  -- Sederhana, apa adanya. Begitulah, kesan pertama ketika berjumpa Udin Suhardin yang sejak tahun 2009 silam berprofesi sebagai penyuluh pertanian.  Bahkan,  profesi sebagai penyuluh pertanian yang disandangnya hingga saat ini karena panggilan hidup.

Di usianya yang  menginjak 39 tahun,  pria asal Kuningan, Jawa Barat (Jabar) dengan tekun dan penuh dedikasi melakukan pendampingan terhadap kelompok tani di Desa Cibulan dan Cieurih. “Ya namanya panggilan hidup. Saya sudah 10 tahun menjadi penyuluh  THL TBPP (tenaga harian lepas tenaga bantun penyuluh pertanian). Tempat tugas saya di Dinas  Pertanian Kab. Kuningan/UPTD Pertanian Cidahu,” kata Udin Suhardin kepada tabloidsinartani.com.

Panasnya sengatan matahari yang membakar tubuh tak menjadi halangan untuk menemui dan sekalian bersilaturohim dengan petani binaannya. “Karena itu menjadi penyuluh sangat menyenangkan, banyak teman/saudara dan mengesankan,” ujarnya.

Bapak dua anak ini juga mengaku, tak hanya petani atau kelompok tani saja yang ditemuinya di lapangan. Bahkan, ada tokoh masyarakat, agama, pendidik, kelompok wanita, kelompok pemuda, aparat pemerintah desa/kecamatan dan kabupaten yang dihadapinya tiap hai saat bertugas di lapangan. “Mereka yang saya hadapi atau temui itu bisa menjadi teman atau saudara yang menyenangkan untuk bertukar pengalaman, tukar informasi terkait pertanian,” papar Udin.

Udin juga mengaku sangat bangga dan senang apabila petani atau kelompok tani yang dibinanya memperoleh hasil usaha tani yang lebih baik. Misalnya, produktivitas tanamannya meningkat dan petani mendapat nilai tambah. “Tapi saya merasa berduka, apabila petani atau kelompok tani yang saya bina memperoleh hasil yang kurang baik,” ujar Udin.

Menurut Udin, memberi pendampingan kepada kelompok tani di Desa Cibulan, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Kuningan, Jabar yang sejak tahun 2018  mengolah tanah dan tanam kedelai  di lahan eks galian pasir menjadi tantangan tersendiri bagi penyuluh. Sebab, menanam kedelai di lahan marginal seperti itu bukan perkara gampang, sehingga petani perlu tambahan pendampingan.

“Karena itu saya lakukan pemberdayaan/pendampingan kepada kelompok tani di Desa Cibulan secara intensif. Mengingat dukungan SDM dan aparat desa setempat sangat kuat dan lahan eks galian pasir yang akan dikembangkan punya potensi cukup baik dan cocok untuk budidaya kedelai,” kenang Udin.

Guna mempercepat pengembangan padi, jagung dan kedelai (Pajale) di Desa Cibulan, Udin pada awal tahun 2018 melakukan koordinasi dengan kepala desa untuk sosialisasi secara massal sampai ke lembaga desa. “ Sosialisasi tak saya lakukan sendiri, tapi menghadirkan pihak dinas pertanian,  kecamatan dan para uptd di kecamatan,” ujarnya.

Udin juga  melakukan pendekatan ke kelompok tani, personal baik di lokasi pertanaman (sawah) atau kunjungan rumah. Pendampingan di lapangan pun terus dilakukan. Petani juga diberi informasi tentang pasar, termasuk menggandeng Kopti Kabupaten Kuningan dan kelembagaan ekonomi petani di pedesaan.

“Agar penanaman kedelai di lahan eks galian pasir ini berjalan dengan baik, petani perlu dimotivasi secara berkelanjutan supaya bisa bertani secara baik dan menguntungkan. Petani saya harapkan berorientasi agribisnis, dan memperoleh kehidupan yang layak dari hasil usaha tani,” papar Udin.

Menurut Udin, petani yang dibinanya diharapkan bisa bertani dengan tetap menjaga lingkungan. “Prinsip saya adalah kerja ikhlas, kerja keras dengan bekerja bersama dan kerja tuntas, serta berdoa sebelum/ sesudah melakukan aktivitas,” pungkas Udin.

 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018