Kamis, 18 Oktober 2018


Petani Ingin Teknologi Pertanian Presisi Versi Indonesia

06 Sep 2018, 10:59 WIBEditor : Ahmad Soim

Winarno Tohir Ketua Umum KTNA (paling kanan)

Pertanian presisi (precision farming) dapat meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus meningkatkan produktivitasnya.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan efisiensi usaha tani padi Indonesia masih kalah jauh dibanding negara Vietnam dan Thailand juga dengan China.

Untuk menghasilkan satu kilogram beras di Indoneaia diperlukan biaya lebih dari Rp 4000, sementara di Vietnam dan Thailand hanya sekitar Rp 2300an dan China Rp 3600an.

"Untuk meningkatkan efisiensi usaha tani padi kita, kita berharap pemerintah bisa memberikan teknologi pertanian presisi yang cocok dengan Indonesia," tambah Winarno Tohir pada Diskusi Terbatas "Penerapan Pertanian Presisi sebagai Bagian Integral Smart Farming untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani dan Daya Saing Produk Pertanian" yang diselenggarakan Pusat Pengkajian Strategis Nasional (PPSN) di Jakarta (28/8).

KTNA berterimakasih kepada pemerintah yang telah membantu alat mesin pertanian juga asuransi pertanian yang sudah bisa meningkatkan efisiensi usaha tani dan kesejahteraan petani.

Ketua PPSN Daryatmo mengatakan penerapan teknologi pertanian presisi ini diperlukan untuk meningkatkan daya saing pertanian Indonesia dan kesejahteraan petaninya.

Negara yang sudah berhasil menerapkan teknologi pertanian presisi lanjut Daryatmo adalah Belanda, Singapura dan Israel.

"Belanda yang lahan pertaniannya jauh lebih sempit dibanding AS, dengan menerapkan teknologi pertanian presisi bisa menjadi pengekspor pangan kedua di dunia," tambahnya.

Ikut menjadi pembicara di diskusi ini antara lain Direktur Pembiayaan Pertanian Sri Kuntarsih dan Dr Sofyan Sjaf dari Institut Pertanian Bogor. Som

Reporter : Soim
BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018