Thursday, 02 July 2020


Pestisida Ramah Lingkungan dari PGPR

22 Jun 2020, 15:43 WIBEditor : Clara

Pestisida ramah lingkungan,PGPR | Sumber Foto:LPHPT D.I. Yogyakarta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Menurut Dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Suryo Wiyono, beberapa hama dan penyakit tanaman hortikultura tidak dapat dikendalikan secara efektif lagi dengan menggunakan pestisida kimiawi. Sehingga cara paling tepat untuk pengendaliannya dengan pestisida ramah lingkungan.

“Salah satu pestisida ramah lingkungan adalah PGPR. Tidak hanya mengendalikan, ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil,” ungkapnya saat webinar ‘Pemanfaatan Mikroba Perakaran/PGPR untuk Pengendalian OPT Hortikultura Ramah Lingkungan’, Kamis (18/6).

PGPR sendiri adalah bakteri perakaran pemacu pertumbuhan yang sifatnya ada yang antagonis, ada yang tidak. Untuk yang bersifat antagonis, biasanya dapat menekan penyakit pada tumbuhan.”Tetapi perlu diingat, bakteri yang bersifat antagonis ini tidak semuanya masuk ke dalam PGPR,” jelas Suryo.

Untuk membuat pestisida PGPR, terbilang mudah. Berdasarkan keterangan dari LPHPT D.I. Yogyakarta, untuk membuat PGPR yang diperlukan adalah penyiapan bakteri. Bakteri yang digunakan adalah bakteri yang berasal dari alam. Salah satu contohnya berasal dari rumput liar/rumput gajah.

Cari rumput liar/rumput gajah yang sehat, lalu cabut dan rontokan tanah di akar, tetapi jangan terlalu bersih. Kemudian potong akarnya dan rendam dalam air masak selama 2-4 hari. Air rendaman tersebut yang digunakan sebagai bahan sumber bakteri.

Setelah sumber bakteri siap, disiapkan juga beberapa media tumbuh. Bahan yang diperlukan: air bersih 20 liter, terasi 100 gram, bekatul 0,5 kg atau leri 1 liter, gula pasir 200 gram, dan kapur 1 sendok teh. Caranya: panaskan air hingga mendidih, kemudian masukan bahan satu persatu dan aduk hingga merata. Setelah masak, dinginkan sampai suhu larutan sama dengan suhu kamar. Saring untuk mendapatkan larutan yang siap digunakan sebagai media tumbuh.

Kemudian, masukan bahan sumber ke dalam larutan media tumbuh bakteri. Dengan takaran 2-5 gelas air rendaman per 20 liter media tanam. Aduk hingga merata. Tunggu sampai 5-7 hari (setiap hari harus diaduk), PGPR siap digunakan. PGPR yang siap digunakan, ciri-cirinya adalah bau busuk dan cairannya lebih keruh.

Cara pengaplikasian penggunaan PGPR pada tanaman cabai terbagi ke dalam 3 aplikasi, yakni: perendaman benih, penyiraman persemaian, dan penyiraman pertanaman.

Untuk perendaman benih adalah campurkan 3-4 sendok makan bahan biakan dengan 1 gelas air masak, aduk hingga merata. Cuci benih cabai yang akan direndam hingga bersih. Lalu rendam dengan bahan biakan yang sudah dicampurkan air selama 10-12 jam. Setelah itu, angkat benih dan angin-anginkan di tempat teduh. Benih siap disemai.

Penyiraman di persemaian (1 minggu sebelum tanam), yakni campurkan 1 gelas bahan biakan dengan 20 liter air, lalu aduk hingga merata. Kemudian siramkan dengan gembior ke persemaian.

Penyiraman pertanaman (1 bulan setelah tanam), yakni campurkan 1 gelas bahan biakan dengan 20 liter air, aduk hingga merata. Kemudian siramkan dengan gembor ke sekitar perakaran sampai batas lingkar tajuk.

Reporter : Agustin
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018