Saturday, 24 October 2020


Rasakan Manfaatnya, Petani Tuban Kian Tertarik Alsintan

16 Oct 2020, 17:59 WIBEditor : Yulianto

Panen padi menggunakan combine harvester di Tuban | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Tuban--- Modernisasi pertanian melalui pemanfaatan alat mesin pertanian, bukan hanya memberikan dampak pada peningkatan produksi padi, tapi juga pekerjaan petani juga lebih efisien. Karena alasan itulah penyuluh di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban mengajak petani menggunakan alsintan saat panen.

Wajah Mukarom nampak sumringah. Petani ini tidak pernah menyangka bahwa lahannya yang seluas 0,5 ha akan dipanen dengan menggunakan alat canggih. Selama ini ia hanya melihat alat canggih tersebut ada di negara-negara maju melalui media elektronik. Tapi kini benar-benar dihadapannya.

Mukarom memperhatikan dengan cermat cara kerja operator yang sedang menjalankan combine harvester, memotong rumpun padi secara otomatis. Lalu, memasukkannya ke dalam mesin untuk selanjutnya tertampung dikarung yang telah dipersiapkan. Alat itu berjalan di atas lahan miliknya yang hanya seluas 0,5 ha untuk mengasilkan 2,9 ton padi miliknya.

Mukarom bersyukur menjadi anggota dari Kelompok Tani (Poktan) Sumber Rejeki Desa Menilo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Luas lahan yang dimiliki Poktan Sumber Rejeki totalnya sekitar 18 ha, produktivitasnya mencapai 5,7 ton/ha, sehingga  total panen yang dihasilkan sebanyak 102,6 ton.

Dengan harga yang diterima petani sebesar Rp 4.200-5.200/kg gabah kering giling (GKG) setelah dikurangi dengan segala pembiayaan usaha tani, petani masih tetap akan menikmati hasil yang fantastis.

“Untuk bisa menggunakan jasa combine harvester, petani hanya membayar Rp 45.000/kuintal. Hitungannya, masih jauh lebih murah dibandingkan panen secara konvensional,” kata Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Soko, Titin Agustiningsih saat pertemuan dengan kelompok tani di Desa Menilo.

Menurutnya, penggunaan alsintah akan jauh lebih efektif dan efisien, apalagi ketika panen terjadi secara serentak yang menyebabkan kekurangan tenaga panen. Panen  dengan cara konvensional akan banyak kehilangan hasil, sehingga menggunakan combine harverster adalah solusi yang sangat tepat.

Selain itu menurutnya, panen secara konvensional membutuhkan lebih kurang 40 hok/ha/musim tanam. Sementara menggunakan mekanisasi hanya membutuhkan 7,5 hok/ha/musim tanam. “Jika dihitung secara finansial, maka dengan mekanisasi memperoleh efisiensi sebesar 20 %/ha/musim tanam,”  ujar Titin.

Selain itu ungkap Titin, adanya lembaga unit pelayanan jasa alat mesin pertanian (UPJA) juga sangat membantu petani. Sebab, lembaga ini mengelola alat-alat mekanisasi yang dibutuhkan petani.

“Penggunaan alsintan bisa menurunkan biaya produksi usaha tani, meningkatkan produksi dan pendapatan petani serta meningkatkan minat kaum milenial dalam berusaha tani,” tutunya. Karena itu untuk mendorong mekanisasi pertanian, menurut Titin, peran Kostratani melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sangat penting.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam berbagai kesempatanjuga mendorong petani menggunakan alsintan untuk mengolah tanah, masa tanam, hingga panen. Pasalnya, alsintan bisa membantu menggenjot produktivitas hasil panen.

“Kita harus menggenjot produksi pangan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Karena itu, petani harus turun ke lapangan. Terus tanam sesudah panen. Manfaatkan alsintan untuk mempermudah kerja di lapangan dan untuk memaksimalkan hasil panen,” ujar SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi juga mengatakan, salah satu peran penting Kostratani adalah menumbuhkan petani pengusaha milenial. Caranya, dengan peningkatan kapasitas pemuda perdesaan di bidang pertanian, juga pengembangan wirausahawan muda perdesaan.

Reporter : Nurlela/Titin/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018