Wednesday, 21 October 2026


Bisnis Perbenihan Masih Terkendala Kelangkaan SDM Handal

26 Jun 2021, 14:17 WIBEditor : Gesha

Bisnis Perbenihan Masih Terkendala Kelangkaan SDM Handal

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Bisnis perbenihan di dalam negeri hingga saat ini masih terkendala persoalan kelangkaan sumber daya manusia (SDM) terutama yang terlibat langsung dengan aktivitas pemuliaan serta pengawasan benih ,baik di tingkat lapangan maupun di laboratorium. Kurangnya tenaga Pengawas Benih Tanaman (PBT) bahkan sudah dirasakan mendesak untuk dicarikan solusinya.

Kasubdit Pengawasan Mutu Benih Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Catur Setiawan, di acara Talkshow virtual memperingati 50 tahun Kampanye Benih Nasional yang diselenggarakan IPB University, Sabtu (26/6), mengemukakan, kebutuhan akan benih varietas unggul tanaman pangan dari waktu ke waktu terus meningkat.

Produksi benih padi saja setiap tahun mencapai 300 ribu ton untuk bisa digunakan di luasan sekitar 216 .000 ha areal sawah. “Peningkatan permintaan benih ini konsekwensinya harus diimbangi dengan ketersediaan SDM yang cukup . Namun faktanya masalah ketersediaan SDM yangsesuai dengan kompetensinya saat ini masih jadi kendala,” jelas Catur.

Baca Juga : 

50 Tahun Kampanye Benih, Penuh Tantangan dan Optimisme untuk Produksi Pertanian

Kementan Dorong Percepatan Petani Adopsi Benih Unggul

IKABI : Ketersediaan Benih Jadi Kendala Adopsi Varietas Baru

Mengenal 11 Falsafah Benih Prof. Sjamsoe’oed Sadjad

Salah satu profesi yang penting perannya dalam kegiatan menghasikan benih varietas unggul tanaman pangan dan dirasakan jumlahnya kurang adalah Pengawas Benih Tanaman (PBT) . Selama ini PBT diperyaratkan berstatus PNS , sementara sudah makin banyak dari PBT yang akan memasuki masa pensiun.

Masalahnya bukan persoalan mudah untuk melakukan perekrutan tenaga PBT mengingat di era otonomi daerah kewenangannya ada dibawah koordinasi Dinas Pertanian Provinsi .” Yang sering terjadi setelah diangkat menjadi PNS yang seharusnya menjadi PBT malah dialihkan ke non fungsional,” kata Catur.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Warjito, mengatakan, idealnya satu orang PBT membina satu kabupaten. Namun kenyataannya sekarang ini wilayah binaannya bisa mencapai 3 hingga 4 kabupaten.

Senada dengan Catur Setiawan, Warjito juga menilai saat ini sangat kurang tenaga PBT demikian juga SDM yang melaksanakan tugas di laboratorium sebagai analis benih. Padahal analis benih ini juga penting perannya karena merupakan bagian dari rangkaian proses sertifikasi benih.

Insentif Pemulia

Untuk dapat mengatasi persoalan kelangkaan PBT pihaknya menilai pentingnya memperpanjang usia pensiun bagi tenaga PBT. “Kalau peneliti, widyaiswara dan penyuluh bisa pensiun di usia lebih dari 60 tahun, kami kira PBT paling tidak baru pensiun di usia 65 tahun,” tutur Warjito.

Kepala Divisi Genetika dan Pemuliaan Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB, Surjono H Sutjahjo, menekankan bahwa profesi di bidang perbibitan saat ini tantangannya semakin besar.

Seorang pemulia tanaman misalnya, kini dituntut juga untuk berfikir bisnis tak lagi hanya berhenti sampai bisa melepas satu varietas tetapi juga sejak awal berupaya ikut berkontribusi memikirkan bagaimana varietas yang dilepas tersebut benar-benar diminati pasar.

Karena petani sebagai pengguna benih saat ini tuntutannya kian beragam, tak hanya benih yang bisa menghasilkan produksi tinggi tetapi juga yang tahan terhadap penyakit dan produk yang dihasilkan juga rasanya disukai konsumen. “Varietas padi Ciherang itu mengapa sampai saat ini masih diminati petani ? Disamping produktivitasnya cukup tinggi , karena juga tahan terhadap penyakit dan berasnya pulen disukai konsumen di tanah air,” jelas Surjono,

Tantangan lainnya dari pemulia adalah bagaimana bisa mengembangkan varietas lokal hingga menjadi varietas yang kian diminati petani Indonesia. Hal ini mengingat varietas lokal secara ekologi mudah berdaptasi dengan lingkungan setempat sehingga berpotensi mencapai produktivitas yang tinggi di tingkat lokal.

Ke depan dirinya menilai penting diberikannya insentif (reward) kepada para pemulia yang bisa berinovasi mengembangkan varietas sesuai permintaan pasar. Dengan demikian di lapangan pemulia kian terpacu menghasilkan varietas dengan performa sesuai keinginan petani serta konsumen bahan pangan bersangkutan. Adanya insentif pada gilirannya bisa membuat orang tertarik untuk menekuni profesi sebagai pemulia tanaman.

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018