Monday, 23 May 2022


Antisipasi Musim Kemarau, Sedia Air Sebelum Kering

09 May 2022, 13:47 WIBEditor : Yulianto

Perbaikan jarungan irigasi untuk memperlancar pasokan air ke sawah | Sumber Foto:Dok. Ditjen PSP

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Ketersediaan air menjadi sangat penting bagi pertanian.  Namun di tengah perubahan iklim yang kian sulit ditebak menyebabkan tantangan peningkatan produksi pangan kian berat.

Bagaimana petani harus menyiasati semakin terbatasnya ketersediaan air? Apalagi kini musim kemarau sudah di depan mata. Diperkirakan pada Agustus menjadi puncak musim kemarau. Untuk itu, langkah antisipasi perlu dilakukan agar kegiatan pertanian tetap berjalan.

Koordinator Iklim, Konservasi Air dan Lingkungan Hidup, Direktorat Irigasi, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP), Kementerian Pertanian, Andi Halu mengakui, ke depan kondisi iklim makin ekstrim. Kadang air berlimpah sehingga menyebabkan banjir. Namun suatu saat berkurang drastis dan menyebabkan kekeringan.

Contohnya, pada tahun 2015 terjadi kekeringan cukup tinggi, namun pada tahun 2016 justru ada kejadian banjir. Tapi empat tahun kemudian kekeringan lagi, setelah itu banjir. “Jadi banjir terjadi setelah kekeringan panjang,” ujarnya.

Di sisi lain, Andi Halu mengakui, banyak kendala dalam sumber daya air. Diantaranya, menurunnya fungsi DAS, alih fungsi lahan dan perubahan iklim yang makin ekstrim. Kendala lain adalah rusaknya infrastruktur dan menurunnya kualitas air karena terjadi pencemaran air.  Untuk itu menurut Andi Halu, perlu efsiensi penggunaan air.

“Upaya yang kami lakukan sekarang adalah konservasi sumberdaya air. Misalnya dengan teknik panen air dengan embung, dam parit, serta long storage,” katanya. Kegiatan lainnya adalah sistem pemberian dan pendistribusian air dengan irigasi suplementer dan peningkatan efsiensi penggunaan air.

Kebijakan Panen Air

Andi Halu menjelaskan, dalam kebijakan irigasi pertanian, pihaknya berupaya melakukan peningkatan efisiensi pemanfaatan air irigasi. Salah satunya dengan rehabilitasi jaringan irigasi tersier.

“Saat ini hampir separuh luas lahan pertanian merupakan tadah hujan dan sebagian lain irigasi desa yang salurannya masih tanah. Itu yang kita perbaiki. Irigasi yang masih saluran tanah kita rehabilitasi agar air yang ada bisa dimanfaatkan optimal,” katanya seraya menambahkan, pemerintah juga mendorong penggunaan sistem irigasi berselang dan irigasi tetes.

Menurut Andi Halu, saat ini terdapat 25 ribu unit  embung pertanian dan 15 ribu unii irigasi perpompaan/pipanisasi dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier seluas 3,5 juta ha. Semua itu dibangun Kementerian Pertanian sejak 2014-2021.

Untuk tahun 2022, total rehabilitasi jaringan irigasi tersier seluas 4.385 ha di 30 provinsi dan sekitar 300 kabupaten/kota. Kegiatan rehabilitas tersebut diutamakan pada lokasi yang telah dilakukan SID (Survei dan Identifikasi) pada tahun sebelumnya.

“Rehabilitasi juga diutamakan pada daerah yang saluran primer dan skeundernya dalam kondisi baik. Dengan demikian diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanamn padi sebesar 0,5,” katanya.

Upaya antiispasi kekeringan dengan pemanfaaran sumber air lainnya adalah pengembangan sumber air seperti embung, dam parit dan long storage. Dengan demikian, semua sumber air bisa dioptimalkan. “Kami juga lakukan peningkatan kapasitas P3A,” ujarnya.

Pada tahun 2022, Ditjen PSP mengalokasikan pembangunan embung pertanian sebanyak 400 unit di 32 provinsi dan 226 kabupaten/kota. Kegiatannya dapat berupa embung, dam parit dan long storage dengan luas layanan minimal 25 ha untuk tanaman pangan dan 20 ha untuk komoditas hortikultura, perkebunan dan peternakan.

Sementara itu program pembangunan irigasi perpompaan dan perpipaan menurut Andi Halu, diharapkan dapat mendistribusikan air dari sumber yang lebih rendah dari lahan pertanian. Total alokasi kegiatan irigasi perpompaan sebanyak 650 unti di 32 provinsi dan 285 kabupaten/kota.

Sedangkan untuk irigasi perpiaan untuk mendistribusikan air dari sumber yang lebih tinggi dibandingkan lahan pertanian. Total alokasi irigasi perpiaan sebanyak 154 unit di 22 provinsi dan 59 kabupaten/kota.

Program perpompaan dan perpipaan ini diberikan untuk luas layanan minimal 20 ha (tanaman pangan), 10 ha (perkebunan), 5 ha (hortikultura) dan 1 ha (peternakan). “Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman sebesar 0,5,” kata Andi Halu.

“Kami berharap bantuan pemerintah tersebut bisa berfungsi dan terjaga dengan baik. Karena itu, prioritas kami adalah pengawalan pemanfaatan sumber air sebagai suplesi pada lahan warga yang terdampak kekeringan,” tuturnya.

Untuk menjaga ketersediaan air, pemerintah melakukan pengawalan. Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018