
Webinar Petani Merdeka, Petani Makmur yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT. Pupuk Indonesia


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dalam usaha tani, petani kerap terkendala berbagai persoalan, baik dari hulu hingga hilir. Untuk membantu mengatasi persoala petani, PT. Pupuk Indonesia meluncurkan program Makmur (Agrosolution). Dalam program tersebut, petani mendapatkan pendampingan dalam budidaya hingga pemasaran. Seperti apa program tersebut di petani?
Project Manager Agrosolution PT. Pupuk Indonesia, M. Burmansyah K mengatakan, program Makmur bermula tahun 2018 yang awalnya dari program agrosolution di Jember dan Banyuwangi. Setelah terlihat keberhasilannya, kemudian diperluas ke seluruh Indonesia.
“Pada 2021 akhirnya dilaunching dengan nama Makmur oleh Menteri BUMN,” kata Burmansyah saat Webinar Petani Merdeka, Petani Makmur: Berbagi Pengalaman Sukses Story Program Makmur (Agrosolution) yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT. Pupuk Indonesia di Jakarta, Rabu (24/8).
Program Makmur menurut Burmansyah, berawal dari suara petani yang menghadapi cukup banyak masalah. Misalnya, akses informasi terbatas dan rendahnya minat membeli pupuk non subsidi. Bahkan produktivitas cenderung rendah dan pendapatan petani kian menurun.
Dari suara petani tersebut kemudian oleh Pupuk Indonesia dikumpulkan dan diidentifikasi penyebab produktivitas tanaman menurun. Ternyata, faktornya bukan hanya pupuk, tapi ada faktor lain yang menentukan, seperti bibit, pestisida dan tata kelola budidayanya.
Di sisi lain, karakter petani masih menerapkan manajemen tradisional, manajemen panen dan faktor iklim. “Bagaimana menangani semua itu? Kami tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu, kita buat program pendampingan intensif antar BUMN untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” tuturnya.
Burmansyah menegaskan, progran Makmur ini bukan kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility). Tapi, petani diberikan kemudahan mendapatkan sarana pertanian, modal usaha dan pemasaran. “Jadi harapan kami, petani dapat meningkatkan produktivitas agar bisa mengembalikan pinjaman dan mempunyai penghasilan lebih dari biaya yang dikeluarkan. Kita dorong petani bisa mandiri dan berkelanjutan,” tuturnya.
Data PT. Pupuk Indonesia, hasil panen tebu program Makmur menyebutkan, produktivitas tebu naik mencapai 104 ton/ha dari sebelumnya 60 ton/ha. Dengan harga tetes tebu Rp 550 ribu/ton, pendapatan petani naik dari sebelumnya Rp 33 juta/ha menjadi Rp 57,2 juta/ha. Sedangkan laba bersih naik dari Rp 7,065 juta menjadi Rp 26,2 juta/ha.
Untungkan Petani
Kabid Perkebunan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Kabupaten Malang, KHolidah Masruroh mengakui, Program Makmur sangat mendukung petani. Namun karena di Kabupaten Malang, petani tidak hanya membudiayakan tebu, tapi juga padi dan bawang merah, diirnya berharap komoditas lain juga mendapatkan program Makmur.
Untuk program Makmur di Kabupaten Malang, kata Holidah, pihaknya bekerjasama dengan PT. Pupuk Petrokimia Gresik (anak perusahaan PT. Pupuk Indonesia). “Dalam program ini ada bantuan bibit dan pupuk,” katanya.
Saat ini menurutnya, untuk peningkatan produksi tebu, Pemda Kabupaten Malang mengadakan program bongkar ratoon. Namun banyak petani yang enggan melakukan, dan lebih memilih pada rawat ratoon. Padahal pemerintah sudah mengalokasikan bongkar ratoon untuk meningkatkan produktivitas tanaman.
Sementara itu Ahmad Lukman Sonhaji, Ketua Kelompok Tani Barokah Agung, Kabupaten Malang mengatakan, petani yang ikut program Makmur mendapat pengawal. Jadi perusahaan pupuk tidak hanya menjual pupuk, tapi mengawal petani mulai dari awal sampai panen. “Pengawalan sudah turun ke lapangan di beberapa kecamatan,” ujarnya.
Sonhaji mengakui, salah satu keuntungan ikut program Makmur adalah ada peningkatan hasil panen dan tingkat kemanisan tebu. Jika sebelumnya tebu petani nilai brix-nya di bawah 16, maka kini rata-rata mencapai brix 17 untuk batang atas. Bahkan ada yang mencapai brix 18.
“Dengan kebijakan brix real time, rata-rata tebu yang masuk brix-nya di atas 16. Petani kini mulai merasakan manisnya gula. Kondisi ini sangat berpengaruh pada pola penanaman tebu petani,” tutur Sonhaji yang menjadi mitra dari Pabrik Gula (PG) Krebet Baru.
Bagi petani yang ingin mengikuti program Makmur, PT. Pupuk Indonesia sudah menetapkan PIC. Yakni, SPM Agrosolution (Supriyanto/0811.552.727), PM Agrosolution (Burmansyah/08215.7109.1110) dan Adenika (0816.1491.045). “Bagi yang berminat bisa menghubungi lewat Whatsapp,” kata Burmansyah.
Bagi sahabat SINAR TANI yang ingin mendapatkan materi dan e-sertifikat bisa mengunduh di link di bawah ini.
Link Materi : Materi Webinar Petani Merdeka, Petani Makmur
Link e-Sertifikat : E Sertifikat Webinar Petani Merdeka, Petani Makmur
Link SINTA TV :