Kamis, 09 Februari 2023


Pupuk Organik Andalan Mahfud, Solusi Tingginya Biaya Produksi

04 Nov 2022, 07:35 WIBEditor : Herman

Mahfud, Produsen Pupuk Organik Cair | Sumber Foto:Soleman

TABLOIDSINARTANI.COM, Madura --- Biaya pertanian yang semakin mahal karena langkanya pupuk di pasaran mendorong Mahfud, petani milenial asal Sampang, Madura ini beralih membuat Pupuk Organik Cair (POC) sendiri. Bukan hanya digunakan untuk lahan miliknya, ternyata POC Mahfud juga banyak diminat masyarakat sekitar.  

Sulitnya berusahaa tani saat ini yang ditandai dengan langka dan mahalnya pupuk serta harga jual murah tidak membuat Mahfud menyerah. Dengan keuletannya, petani milenial asal Sampang, Madura ini mencoba mengembangkan pupuk organik cair (POC)

”Selain itu juga melimpahnya sampah organik di sekitar menjadi salah satu pendorong untuk kita membuat alternatif pupuk organik,”ujarnya.

Menurut Mahfud, tujuan utama menggunakan pupuk organik ialah untuk mengurangi beban biaya pertanian. Selain itu juga pupuk organik sangan baik untuk keberlangsungan kesuburan tanah.

“Karena kita tahu bahwa penggunaan pupuk kimia, apalagi secara berlebihan akan merusak tanah itu sendiri. Jadi pupuk organik ini selain bahan bakunya murah dan berasal dari alam juga agar kesuburan tanah tetap terjaga,” tambahnya.  

 

Dengan alasan itulah, Mafud mengaku selain digunakan sendiri ia juga mengajak masyrakat sekitar untuk menggunakan Pupuk Organik Cair ini.

Kendala yang dihadapi Mahfud dalam menggunakan POC ialah pada saat awal peralihan dari pupuk kimia ke organik, karena hasil yang didapat akan berbeda.

“Namun lama kelamaan karena sifatnya organik itu memperbaiki unsur hara yang ada di tanah, dan hasilnya akan meningkat bahkan lebih,” ungkapnya.

Pada awal, Mahfud menerapkan perbandingan 50:50, dan berangsur di tingkatkan hingga nanti akhirnya bisa 100% menggunakan pupuk organik.

 

Melihat hasil yang maksimal membuat langkah Mahfud dalam menggunakan pupuk organik di lahan pertanian akhirnya mendapatkan respon dari masyarakat sekitar. Saat ini banyak msyarakat di daerahnya yang menggunakan pupuk organik untuk lahan pertanian mereka.

“Untuk merubah pemikiran petani memang harus secara bertahap, pada awalnya pupuk itu kita berikan secara gratis atau cuma-cuma asal digunakan, memang penggunaan pupuk organik itu harus semua pihak terlibat, karena bahan bakunya dari limbah atau sampah jadi memang kurang steril, baunya kurang sedap dan mengganggu akhirnya kurang diminati,  akhirnya secara bertahap bahan bakunya dibuat lebih steril bukan dari sampah, hanya kendalanya harga menjadi mahal,”tuturnya.

Pembuatan POC

Mahfud mejelaskan untuk membuat 50 liter POC ia membutuhkan bahan baku antara lain, 4 kg temulawak, 2 kg kunyit, ½ kg kencur, 5 buah nanas, dan 10 buah jantung pisang. Selain itu ada bahan molase/tetes tebu, terasi, air kelapa, air cucian beras, air kedelai, garam dan EM4 pertanian.

Proses pembuatannya, semua bahan dihaluskan atau diblender kemudian ditambahkan air kelapa, air cucian beras, dan air kedelai sebanyak jumlahnya 50 liter.

Kemudian semua bahan tersebut dimasukkan dalam drum selama 15 hari dalam keadaan tertutup rapat.

 

“Pastikan benar-benar rapat, karena reaksinya akan berlangsung secara anaerob. Setiap 5 hari sekali dibuka untuk membuang adanya gas yang terbentuk. Dan untuk mengecek tingkat kematangan, buka penutup tong lalu cium bau adonan, apabila wanginya seperti wangi tape, adonan sudah matang,”paparnya.

Bila sudah matang, pisahkan antara cairan dengan ampasnya dengan cara penyaringan. Sehingga didapat ampas yang bisa digunakan sebagai pupuk organik padat, dan cairan yang dapat dikemas pada botol plastik atau kaca dan ditutup rapat dan siap digunakan.

Pengaplikasiannya, untuk 20 ml POC dapat dicapur dengan 10 liter air, yang kemudian bisa di disemprotkan atau dikucurkan di tanaman.

“Sementara ini digunakan untuk tanaman jahe, sayur-sayuran seperti kacang panjang, tanaman keras seperti mangga. Untuk yang pertama membuat kita beri saja secara gratis, sekarang dibuat dengan menggunakan bahan yang bagus jadi kita jual dengan harga 20 ribu per 1 liter,”ujarnya.

Selain pupuk organik, Mahfud juga membuat jenis pupuk petroganik. Untuk membuat pupuk petroganik kapasitas 40 kg, ia menggunakan bahan baku 2 kg pupuk NPK, 5 kg pupuk Urea, 10 kg dedak, serta EM4 dan molase 1 liter.

“Semua bahan tersebut difermentasi dalam drum secara tertutup selama satu minggu sampai 10 hari, untuk penggunaannya dalam satu genggam dicampur dengan 10 liter air, kemudian disiramkan ke tanah. Untuk pupuk jenis ini saya jual Rp 35 ribu,”pungkasnya.

Reporter : Soleman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018